Published at
Stabilitas Pasokan Jadi Sorotan Pasar Batu Bara Asia

Dalam sesi panel bertema “Coal Trade Dynamics Amid Global Energy Market Changes” pada ICEE Indonesia–China Coal & Energy Conference 2026 (11/5), pelaku industri Indonesia dan China membahas tekanan baru yang mulai membayangi perdagangan batu bara Asia, mulai dari volatilitas harga energi global, pengetatan kebijakan domestik, hingga meningkatnya tensi geopolitik dunia.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri menilai pasar kini tidak lagi hanya berbicara soal harga murah, tetapi mulai bergeser pada isu stabilitas pasokan, kepastian pengiriman, dan keberlanjutan kerja sama jangka panjang.
Head of Marketing PT MMS Resources sekaligus anggota Komite Marketing APBI-ICMA, Saly Putra, mengatakan produsen batu bara Indonesia kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat penyesuaian pasar, kenaikan biaya produksi, hingga kebijakan pemerintah terkait pengurangan kuota produksi dan peningkatan Domestic Market Obligation (DMO).
Menurutnya, konsumsi domestik Indonesia terus meningkat, khususnya dari sektor smelter dan industri baja, sehingga mulai terjadi pergeseran pasar dari orientasi ekspor menuju kebutuhan dalam negeri.
“Tahun ini konsumsi domestik untuk industri baja diperkirakan mencapai 80–85 juta ton. Ada shifting market dari ekspor menuju domestik,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa China masih menjadi penggerak utama pasar batu bara Asia karena setiap perubahan kebijakan maupun pola pembelian dari China langsung memengaruhi keseimbangan harga dan supply-demand regional.
Sementara itu, Assistant to CEO Shanghai Ganglian E-Commerce Company, Li Juan, menilai pembeli batu bara saat ini mulai lebih mengutamakan kestabilan pasokan dibanding sekadar mencari harga termurah.
Menurutnya, pembangkit listrik dan industri besar cenderung fokus menjaga keamanan suplai, sedangkan trader lebih fleksibel mencari peluang harga di pasar spot.
“Tidak ada jawaban absolut antara harga murah atau pasokan stabil. Semua tergantung kebutuhan dan tipe pembelinya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa untuk komoditas premium seperti hard coking coal, faktor keamanan pasokan menjadi jauh lebih penting karena ketersediaannya relatif terbatas.
Pandangan serupa disampaikan Director of Southeast Asia CNBM International Corp, Sun Wanli. Menurutnya, perusahaan kini lebih memilih pemasok yang mampu menjaga komitmen pengiriman dibanding hanya menawarkan harga rendah.
“Kami tidak mencari harga termurah. Yang paling penting adalah supplier yang stabil dan bisa menjaga delivery,” ujarnya.
Para panelis sepakat bahwa di tengah tekanan geopolitik, gangguan logistik, dan fluktuasi energi global, kemitraan jangka panjang Indonesia–China akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas perdagangan batu bara Asia.



