Published at
Mining Leaders Dialogue 2026 Bahas Strategi Menjaga Keunggulan Operasional Pertambangan

Industri pertambangan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari meningkatnya biaya operasional, tuntutan penerapan praktik pertambangan yang berkelanjutan, hingga kebutuhan akan tata kelola data yang semakin akurat dan terintegrasi. Di sisi lain, perkembangan teknologi membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan kerja, serta efisiensi operasional guna menjaga daya saing di tengah dinamika global.
Berangkat dari tantangan tersebut, APBI-ICMA berkolaborasi dengan RMA Indonesia menyelenggarakan Mining Leaders Dialogue 2026 bertajuk “Building Synergy for Smarter Mining Operations Through Integrated Solutions”. (23/7). Forum ini mempertemukan regulator, pelaku usaha, dan penyedia solusi teknologi untuk mendiskusikan strategi menjaga keunggulan operasional menuju industri pertambangan yang lebih berkelanjutan.

Membuka kegiatan tersebut, Ketua Umum APBI-ICMA, Priyadi, menyampaikan bahwa industri pertambangan perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang bergerak semakin cepat. Menurutnya, elektrifikasi peralatan operasional dan berbagai inovasi teknologi akan menjadi bagian dari transformasi industri ke depan. Namun, penerapan teknologi harus tetap mempertimbangkan kondisi operasional di lapangan, termasuk tingginya biaya bahan bakar, kebutuhan peningkatan produktivitas, serta upaya mengurangi jejak karbon.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Asep Kurnia, menekankan bahwa transformasi sektor pertambangan harus didukung oleh tata kelola data yang kuat. Menurutnya, data yang akurat dan terintegrasi telah menjadi fondasi dalam penyusunan kebijakan, pembinaan, dan pengawasan kegiatan pertambangan. Dengan pengawasan terhadap 799 IUP batubara di Indonesia, pemerintah terus mendorong pemanfaatan teknologi digital dan sistem informasi terintegrasi. Ia juga mengingatkan bahwa batubara masih akan menjadi penopang utama penyediaan listrik nasional sebagaimana tercantum dalam RUPTL PLN 2025–2034, sehingga penguatan tata kelola data dan pemanfaatan teknologi menjadi semakin strategis untuk menjaga kepastian operasional sektor pertambangan.

Arah kebijakan tersebut kemudian diperdalam melalui sesi panel bertema “Menjaga Keunggulan Operasional di Tengah Dinamika Industri Pertambangan” yang dipandu oleh Gita Mahyarani, Direktur Eksekutif APBI-ICMA dengan menghadirkan Amarudin, Ketua Komite GMP APBI-ICMA; FH Kristiono, Wasekjen APBI-ICMA sekaligus CEO PT U Coal Sumberdaya; Leader Daeli, Komite GMP APBI-ICMA, serta Toto Suharto, Country Manager RMA Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, Amar menekankan bahwa implementasi GMP perlu dipandang sebagai upaya meningkatkan produktivitas, keselamatan, dan keberlanjutan, bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi. Sementara itu, Leader mengingatkan bahwa adopsi teknologi harus mampu menjawab kebutuhan operasional di lapangan, didukung studi kelayakan, kesiapan infrastruktur, dan kompetensi sumber daya manusia, sehingga tidak sekadar mengikuti tren. Senada dengan itu, Kris menilai bahwa setiap investasi teknologi perlu mempertimbangkan karakteristik operasi pertambangan serta total cost of ownership agar memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
Dari sisi penyedia solusi, Toto menyampaikan bahwa kebutuhan industri kini telah bergeser dari sekadar penyediaan kendaraan menjadi solusi operasional yang terintegrasi untuk mendukung produktivitas, keselamatan, dan efisiensi.
Melalui forum ini, APBI-ICMA berharap dapat menjadi ruang kolaborasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bertukar pengalaman, memperkuat implementasi praktik terbaik, serta mempercepat adopsi inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri pertambangan nasional.



