Published at
November 28, 2025 at 12:00 AM
Ketua Umum APBI-ICMA Tekankan Pentingnya Efisiensi dan Kesiapan SDM dalam Transformasi Tambang
Industri pertambangan Indonesia tengah memasuki fase penyesuaian yang semakin kompleks. Pergerakan harga komoditas yang dinamis, meningkatnya biaya operasional, serta tuntutan keberlanjutan dari pasar global mendorong perusahaan tambang untuk meninjau ulang strategi operasional mereka.
Dalam konteks tersebut, Majalah TAMBANG bersama SAP Indonesia menggelar Mining Innovation Day (26/11) sebagai forum untuk membahas tantangan operasional, arah kebijakan, dan peluang transformasi digital di sektor minerba. Pada kesempatan ini, turut hadir Ketua Umum APBI–ICMA, Priyadi, yang menjadi salah satu panelis dalam sesi Fireside Chat bertemakan Driving Profitable and Sustainable Mining. Kehadiran APBI menegaskan perannya sebagai wadah industri yang mendorong dialog konstruktif antara pelaku usaha, pemerintah, dan penyedia teknologi dalam menghadapi agenda transformasi.
Acara dibuka oleh Ahmad Syauqi, Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba Kementerian ESDM. Dalam sambutannya, Ahmad menegaskan bahwa berbagai kebijakan baru yang diterbitkan pemerintah ditujukan untuk memperkuat ekosistem pertambangan secara menyeluruh. Ia menyoroti pentingnya pengawasan berbasis digital, peningkatan standar teknis, serta penegakan aspek lingkungan sebagai fondasi agar industri dapat tumbuh lebih tertib dan berkelanjutan di tengah tekanan global.
Memasuki sesi panel, Priyadi menyampaikan pandangannya mengenai kondisi operasional yang dihadapi perusahaan tambang saat ini. Menurutnya, industri tengah berada dalam tekanan yang datang dari berbagai arah—baik dari dinamika pasar maupun penyesuaian regulasi yang bergerak cepat. Dalam situasi tersebut, ruang untuk mengandalkan sisi pendapatan menjadi semakin terbatas, sehingga efisiensi menjadi aspek yang paling dapat dikendalikan.
“Harga itu bukan urusan kita. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita menjalankan operasi kita sendiri,” ujarnya.
Priyadi menekankan bahwa digitalisasi merupakan salah satu instrumen penting untuk meningkatkan ketepatan proses, mengendalikan biaya, dan memperkuat daya saing. Namun, ia juga mengingatkan bahwa teknologi hanya dapat bekerja optimal jika didukung kesiapan manusia. Ia mencontohkan uji coba jalur hauling otomatis di PT Adaro Indonesia yang secara teknis sudah siap diterapkan, namun tetap membutuhkan adaptasi operator agar proses dan teknologi dapat berjalan seimbang.
“Teknologinya sudah siap. Manusianya yang butuh waktu untuk menyesuaikan,” tambahnya.
Melalui sesi ini, APBI menegaskan pandangannya bahwa daya saing industri tambang ke depan akan bertumpu pada tiga fondasi utama: efisiensi operasional, adopsi inovasi digital, dan kesiapan SDM. Ketiga elemen inilah yang akan menentukan kemampuan sektor pertambangan Indonesia dalam mempertahankan kinerja sekaligus memenuhi tuntutan keberlanjutan dari pasar global.




