Published at

April 22, 2026 at 12:00 AM

Biaya Logistik dan Integrasi Infrastruktur Jadi Tantangan Industri Batubara

Tingginya biaya logistik serta kurangnya integrasi infrastruktur menjadi tantangan utama dalam rantai pasok industri batubara nasional.

Isu ini mengemuka dalam Seminar Nasional Kepelabuhanan ABUPI 2026 yang dibuka oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arief Havas Oegroseno, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI, M. Masyhud, serta Ketua Umum ABUPI, Liana Trisnawati (22/4).

Dalam sesi diskusi, Ketua Komite Logistik APBI, Tulus Situmeang, menekankan bahwa komponen logistik menempati porsi signifikan dalam struktur biaya industri batubara, mencapai sekitar 20–25% dari total biaya produksi. Setelah aktivitas penambangan, logistik menjadi faktor penentu efisiensi yang berdampak langsung terhadap daya saing industri.

Ia menyoroti bahwa sistem logistik batubara saat ini masih didominasi oleh infrastruktur yang tersebar dan tidak terintegrasi, khususnya terkait banyaknya jetty skala kecil yang beroperasi secara parsial. Kondisi ini mendorong penggunaan skema pengangkutan bertahap melalui tongkang dan proses transshipment, yang pada akhirnya meningkatkan waktu tempuh dan biaya operasional.

Selain itu, tantangan geografis seperti sedimentasi dan penyempitan alur di Sungai Mahakam, serta ketergantungan pada pasang surut di beberapa wilayah, turut menjadi hambatan dalam kelancaran distribusi. Faktor-faktor ini menyebabkan ketidakpastian dalam jadwal pengiriman dan menambah kompleksitas operasional di lapangan.

Menurutnya, fleksibilitas dalam penggunaan fasilitas pelabuhan juga menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha. Saat ini, keterbatasan akses dan pengaturan penggunaan pelabuhan dinilai belum sepenuhnya mendukung efisiensi, terutama dalam mengakomodasi variasi kualitas batubara yang memerlukan proses blending sebelum dikirim ke konsumen.

Ia juga menekankan pentingnya kepastian biaya dalam rantai logistik, mengingat saat ini struktur biaya masih terfragmentasi dan melibatkan banyak komponen yang sulit diprediksi. Skema layanan yang lebih terintegrasi dari hulu ke hilir dinilai dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi biaya.

Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan industri batubara tidak hanya terletak pada aspek produksi, tetapi juga pada desain sistem logistik yang belum terintegrasi secara optimal, sehingga diperlukan perbaikan menyeluruh untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor ini.

Other Article

Other Article

Transparansi Emisi Batubara Disorot, Pemerintah Siapkan Pedoman Perhitungan GRK

RKAB 2026 Picu Kekhawatiran Lintas Sektor: Perbankan, Listrik hingga Penerimaan Negara Ikut Terdampak

FRHLBT Gelar Forum Dialog Teknis Bahas Standar Kerusakan Lahan Tambang

SIARAN PERS APBI-ICMA | Produksi Batubara Dipotong Signifikan, Asosiasi Minta Agar Dapat Ditinjau Kembali

Transparansi Emisi Batubara Disorot, Pemerintah Siapkan Pedoman Perhitungan GRK

RKAB 2026 Picu Kekhawatiran Lintas Sektor: Perbankan, Listrik hingga Penerimaan Negara Ikut Terdampak

FRHLBT Gelar Forum Dialog Teknis Bahas Standar Kerusakan Lahan Tambang

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by