Bisnis Indonesia
Published at
Tunggu Lampu Hijau, Paiton Energy Siap Bangun PLTG 1.000 MW Senilai US$1,5 Miliar
Bisnis.com, JAKARTA — PT Paiton Energy menyatakan siap membangun pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) berkapasitas sekitar 1.000 megawatt (MW) di kompleks pembangkit Paiton, Jawa Timur. Namun, realisasi proyek tersebut masih menunggu lampu hijau atau keputusan dari pemerintah melalui PLN dan Danantara.
Presiden Direktur Paiton Energy Fazil Erwin Alfitri mengatakan perseroan pada prinsipnya telah menyiapkan rencana pembangunan pembangkit gas tersebut. Proyek itu juga dirancang menggunakan teknologi yang memungkinkan pembangkit beradaptasi dengan bahan bakar rendah emisi pada masa mendatang.
“Pada prinsipnya kami sudah siap untuk membangun pembangkit baru berkapasitas 1.000 MW. Sekarang kami dalam posisi menunggu keputusan dari pemerintah,” ujar Fazil kepada Bisnis.com, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, konsep hydrogen-ready memungkinkan pembangkit tersebut nantinya memanfaatkan hidrogen, amonia, maupun teknologi bahan bakar rendah emisi lainnya. Teknologi yang dibutuhkan untuk pengembangan tersebut, kata dia, saat ini sudah tersedia.
Fazil memperkirakan pembangunan PLTG tersebut membutuhkan investasi sekitar US$1,5 miliar. Pendanaan proyek akan melibatkan kontribusi ekuitas dari para pemegang saham Paiton Energy, yakni PT Medco Power Indonesia, RATCH Group Public Company Limited, dan Nebras Power.
Dari sisi waktu pengerjaan, pembangunan pembangkit diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat sekitar dua tahun setelah persetujuan resmi dan penugasan proyek diperoleh.
Dengan asumsi keputusan tersebut dapat segera diterbitkan, Paiton Energy memperkirakan pembangkit baru tersebut dapat mulai beroperasi secara komersial atau commercial operation date (COD) pada 2029.
"Kalau misalnya izin diterbitkan sekarang, paling cepat COD nya tahun 2029," tambah Fazil.
Lokasi pembangunan juga telah disiapkan di kompleks Paiton, tepatnya di kawasan yang saat ini telah menjadi lokasi operasi pembangkit Paiton Energy. Dengan demikian, perseroan tidak perlu mencari lokasi baru di luar kompleks pembangkit yang sudah ada.
Pembangunan PLTG tersebut menjadi bagian dari rencana ekspansi Paiton Energy di tengah kebutuhan listrik di sistem Jawa-Bali yang terus berkembang. Saat ini Paiton Energy mengoperasikan pembangkit Unit 3, 7, dan 8 dengan total kapasitas sekitar 2.045 MW.
Paiton Energy merupakan salah satu pembangkit yang menopang sistem kelistrikan Jawa-Bali. Perseroan memperkirakan pembangkitnya memasok sekitar 6% kebutuhan listrik di sistem tersebut.
Dorong Transisi Energi
Chief Financial and Risk Officer Paiton Energy Bayu Anggoro Widyanto mengatakan rencana pengembangan pembangkit gas juga sejalan dengan upaya pemerintah mencapai target net zero emission.
Menurut Bayu, sebagai industri yang sangat patuh terhadap ketentuan yang berlaku, Paiton Energy tetap perlu menyiapkan alternatif teknologi dan sumber energi untuk mendukung arah transisi energi.
"Kalau menuju net zero, kami harus punya alternatif," kata Bayu.
Dia menjelaskan pembangkit gas masih memiliki daya saing dari sisi biaya maupun operasional dibandingkan sejumlah alternatif pembangkit berbasis bahan bakar fosil lainnya.
Dari sisi biaya, pembangkit gas masih relatif kompetitif. Sementara pembangkit berbahan bakar diesel memiliki biaya yang lebih tinggi karena menggunakan bahan bakar minyak.
Bayu menilai pengembangan pembangkit gas juga relevan dengan kondisi sistem kelistrikan Jawa-Bali yang membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit dan cadangan daya.
Menurutnya, reserve margin atau cadangan daya di sistem Jawa-Bali saat ini relatif terbatas. Kondisi tersebut membuat penambahan kapasitas pembangkit menjadi penting untuk menjaga keandalan sistem, terutama ketika terdapat pembangkit yang harus menjalani pemeliharaan atau mengalami gangguan operasi.
Dalam konteks tersebut, Paiton Energy melihat pembangunan pembangkit baru sebagai peluang untuk ikut menopang kebutuhan listrik yang terus meningkat.
Secara teknis, Bayu menjelaskan pembangkit gas memiliki prinsip kerja yang berbeda dengan PLTU batu bara, tetapi keduanya sama-sama memanfaatkan energi panas untuk menghasilkan tenaga yang kemudian menggerakkan turbin.
"Ya, agak mirip sebetulnya. Semuanya menghasilkan panas, kemudian panasnya menggerakkan turbin," ujarnya.
Paiton Energy sendiri saat ini memiliki tiga pemegang saham, dengan Medco menjadi pemegang saham terbesar sekitar 42%, disusul RATCH sekitar 32% dan Nebras Power sekitar 26%.
Dengan kesiapan lokasi, teknologi, serta rencana pendanaan yang telah disiapkan, Paiton Energy kini menunggu keputusan pemerintah sebagai faktor utama sebelum proyek PLTG 1.000 MW tersebut dapat masuk ke tahap pembangunan.
Jika lampu hijau diberikan sesuai rencana, pembangkit baru itu ditargetkan dapat mulai beroperasi pada 2029 dan menambah pasokan listrik untuk sistem Jawa-Bali.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at