Bloomberg Technoz

Published at

Total Produksi Batu Bara hingga Juli 2026 Tembus 423,71 Juta Ton

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan capaian produksi batu bara nasional hingga Juli 2026 telah menembus angka 423,71 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno menyampaikan angka ini masih sesuai jalur dengan target produksi total sepanjang 2026.

"Memasuki periode hingga Juli 2026, total produksi batu bara tercatat telah mencapai 423,71 juta ton," ungkap Tri dalam agenda Ulang Tahun ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo Kemayoran, Kamis (10/9/2026).

Dari total produksi sebanyak 423,71 juta ton tersebut, porsi ekspor mendominasi sebesar 63,82% (270,40 juta ton). Sementara itu, pemenuhan kebutuhan dalam negeri menyerap 26,86% (113,40 juta ton) dan sisanya sebesar 9,32% (39,51 juta ton) menjadi stok nasional.

Jika dibandingkan dengan data Buku Saku Ditjen Minerba, total produksi batu bara Indonesia pada 2025 mencapai 817,48 juta ton.

Dari angka 2025 tersebut, sebesar 63,89% (522,35 juta ton) dialokasikan untuk ekspor, 30,2% (246,88 juta ton) digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO), dan 5,9% (48,25 juta ton) merupakan stok nasional.

Dari sisi pembentukan harga, pergerakan Harga Batubara Acuan (HBA) sepanjang rata-rata Januari hingga Agustus 2026 menunjukkan tren stabil, tetapi cenderung naik.

Tercatat HBA 6322 GAR berada di level US$111,8/ton, HBA I (5300 GAR) senilai US$79,3/ton, HBA II (4100 GAR) sebesar US$54,2/ton, dan HBA III (3400 GAR) di level US$38,3/ton.

"Tingginya harga ini didukung oleh kondisi pasar ekspor batu bara Indonesia yang masih didominasi oleh kuatnya permintaan dari China dan India," tambahnya.

Guna mengelola dinamika tersebut, pemerintah menetapkan kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk menata dan menyeimbangkan aspek pasokan, harga, serta keberlanjutan cadangan.

Di sisi lain, khusus untuk tahun ini, Tri memprediksi permintaan batu bara cenderung mengalami kenaikan tipis.

"Untuk tahun ini ada kenaikan, tapi tetap cenderung tipis," katanya.

Dengan mempertimbangkan dinamika regional dan global, Kementerian ESDM memaparkan gambaran (outlook) industri batu bara untuk periode 2026–2030 sebagai berikut:

2026: Permintaan global cenderung menurun tipis.

2027: India dan negara-negara ASEAN tetap menjadi pasar pertumbuhan utama.

2028–2029: Tekanan dari energi terbarukan (renewable energy) makin kuat, menjadi landasan dorongan akselerasi hilirisasi batu bara.

2030: Produsen yang unggul adalah mereka yang menerapkan prinsip biaya rendah (low-cost), efisien, andal dalam pasokan, serta menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) secara kuat.

"Jadi implikasi kunci bagi Indonesia untuk merespons dinamika ini adalah dengan menerapkan optimum production, penguatan kewajiban DMO, peningkatan efisiensi logistik, serta pelaksanaan program hilirisasi batu bara secara selektif," jelasnya.

Untuk diketahui, Kementerian ESDM telah memutuskan untuk memangkas target produksi batu bara nasional dalam RKAB 2026 menjadi kisaran 600 juta ton.

Kebijakan penyesuaian ini diambil sebagai langkah strategis pemerintah untuk mengendalikan pasokan batu bara di pasar internasional demi menjaga kestabilan harga serta mengoptimalkan pemanfaatan komoditas energi tersebut.

Penurunan target kuota ke level 600 juta ton ini tergolong signifikan jika dibandingkan dengan realisasi produksi batu bara nasional pada tahun sebelumnya yang sempat menembus angka 800 juta ton.

Dalam proses penerbitan dan persetujuan RKAB tersebut, Kementerian ESDM fokus menyaring pengajuan dari para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) agar volume produksi tetap terjaga dalam rentang batas yang telah direncanakan.

Meski kuota produksi dipangkas, pemerintah menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dalam negeri (DMO)—terutama untuk pasokan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PT PLN (Persero)—tetap menjadi prioritas utama.

Di samping itu, Kementerian ESDM juga tetap membuka ruang evaluasi dan mekanisme relaksasi kuota secara terukur bagi para penambang apabila terjadi dinamika serta peningkatan fluktuasi permintaan pasar komoditas batu bara pada masa mendatang.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Published at

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by