Bloomberg Technoz
Published at
Sungai Barito Didera El Niño, Batu Bara Kalimantan Sulit Diekspor
Bloomberg Technoz, Jakarta – Pengiriman batu bara dari tambang di wilayah Kalimantan Tengah dilaporkan terganggu, sebab sungai Barito yang menjadi jalur pelayaran kapal tongkang pengangkut batu bara mengalami pendangkalan dan kekeringan imbas fenomena El Niño.
Dalam laporan Argus Media dijelaskan terjadi penurunan kedalaman sungai yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.
Argus Media juga mencatat sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman.
“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).
Argus Media mencatat tambang batu bara di wilayah Kalimantan Tengah memproduksi batu bara kalori menengah hingga tinggi, dengan beberapa tambang memproduksi hingga 100.000 ton batu bara per bulan.
Sepanjang tahun lalu, sekitar 45,78 juta ton batu bara di produksi dari wilayah tersebut dan sekitar 29,54 juta ton di antaranya diekspor.
“Sebagian wilayah hulu Sungai Barito telah sepenuhnya tidak dapat dilalui kapal, dengan sejumlah perusahaan tambang di wilayah tersebut sudah menyatakan force majeure atas pengiriman akibat kondisi tersebut,” ungkap Argus Media.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memperketat pasokan batu bara yang dikirimkan melalui jalur laut, ketika banyak penambang sudah menghadapi kendala akibat tertundanya persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB).
Selain pengiriman batu bara yang terhambat, pengiriman bahan bakar ke lokasi tambang di Kalimantan Tengah juga berpotensi tertunda.
Argus Media melaporkan sejumlah penambang mulai mengandalkan alternatif transportasi darat yang lebih mahal.
“Kondisi tersebut juga menghambat pengiriman bahan bakar yang digunakan dalam kegiatan operasional pertambangan,” tulis Argus Media.
Sekadar catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara sepanjang Januari—Juni 2026 mencapai 367,06 juta ton atau sekitar 61,18% dari kuota produksi RKAB 2026 yang sekitar 600 juta ton.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Asep Kurnia Permana mencatat batu bara yang dipasok ke pasar domestik melalui skema domestic market obligation (DMO) mencapai 81,58 juta ton pada rentang yang sama.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor batu bara mengalami tren penguatan dari sisi nilai meski mengalami penurunan volume selama periode Januari—Juli 2026.
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor batu bara meningkat 4,75% dari US$13,81 miliar menjadi US$14,47 miliar.
Namun, peningkatan nilai ekspor tersebut bertolak belakang dengan volume pengiriman batu bara ke pasar internasional yang turun 6,17%, yaitu dari 214,71 juta ton menjadi 201,47 juta ton.
“Nilai ekspor batu bara naik 4,75% secara kumulatif,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono dalam konferensi pers pada Selasa (1/9/2026).
Pertumbuhan nilai ekspor yang terjadi di tengah penurunan volume pengiriman ini didorong oleh kenaikan harga batu bara global.
Tingginya harga acuan internasional membuat pundi-pundi devisa negara dari sektor tambang tetap bertumbuh subur meski kuantitas barang yang dikirim ke negara tujuan melandai.
China dan India masih menjadi pasar tujuan utama yang menopang permintaan batu bara asal Indonesia. Tren peralihan musim dan penguatan aktivitas industri di negara mitra tersebut diperkirakan memicu peningkatan arus pengiriman barang pada paruh kedua tahun ini.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at