BISNIS INDONESIA
Published at
Sinyal Positif Harga Batu Bara untuk ITMG, PTBA Cs
Bisnis.com, JAKARTA — Harga batu bara yang naik sejak perang AS-Iran dimulai menjadi tambahan tenaga bagi prospek emiten batu bara seperti ITMG, PTBA, UNTR, dan lainnya. Apakah akan tercermin dalam rapor kuartal II/2026?
Harga batu bara Newcastle telah naik24% sejak perang pada Maret 2026, sementara harga batu bara Indonesia juga naik 19% hingga 24% selama periode yang sama.
Tidak seperti harga minyak, harga batu bara mengalami gangguan pasokan sementara karena insiden tambang batubara di Shanxi, dikombinasikan dengan pemotongan kuota RKAB di Indonesia, yang menyebabkan keseimbangan pasokan-permintaan yang ketat.
Analis Indopremier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan, dalam risetnya awal pekan ini memperkirakan bahwa harga batu bara termal kemungkinan akan tetap tinggi menjelang pengisian stok musim panas meskipun ada potensi pelonggaran kuota RKAB di Indonesia.
Sementara itu, pada sektor energi secara umum, para analis masih menunggu kepastian dampak kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran.
"Kami memperkirakan pasar mungkin akan mengalihkan fokusnya pada arus impor [minyak] China dan lalu lintas Selat Hormuz, bersama dengan posisi penyimpanan," kata mereka.
Pemulihan lalu lintas di Hormuz, lanjut mereka, kemungkinan akan menghadapi hambatan seperti ranjau laut, masalah asuransi dan lain-lain. Mereka memperkirakan harga minyak akan diperdagangkan di level US$80 hingga US$90 per barel dalam jangka pendek hingga menengah.
Sebagai catatan, baik sektor minyak maupun batu bara telah mengalami penurunan saham 19% hingga 42% dari puncaknya.
Indopremier Sekuritas tetap netral di sektor energi tetapi secara taktis positif terhadap pemain batu bara termal.
"Menjelang hasil pendapatan kuartal kedua tahun 2026, yang akan mencerminkan harga batubara yang lebih tinggi secara kuartalan di samping potensi pelonggaran RKAB, yang akan menguntungkan ITMG dan UNTR," kata para analis. Urutan preferensi mereka di sektor batu bara Indonesia yakni AADI, UNTR, PTBA, dan ITMG.
Sebelumnya, tekanan jual yang melanda emiten sektor batu bara dikaitkan dengan regulasi sentralisasi ekspor satu pintu.
Kebijakan baru itu tertuang melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 24/2026 yang memberikan kewenangan kepada PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pengelola ekspor
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta sebelumnya memandang risiko regulasi ekspor satu pintu belum sepenuhnya tecermin pada valuasi saham karena pergerakannya saat ini masih disetir sejumlah sentimen.
Menurutnya, koreksi harga saham batu bara yang terjadi saat ini tidak mutlak disebabkan oleh faktor domestik, melainkan respons pasar terhadap normalisasi harga komoditas pascamusim dingin serta dinamika makroekonomi global.
Nafan turut menilai bahwa masih terlalu dini untuk mengkalkulasi dampak dari beleid sentralisasi ekspor satu pintu. Pasalnya, pelaku pasar masih menantikan kejelasan aturan turunan operasional setelah 2026, terutama batasan mengenai klausul batas kewajaran margin yang akan ditetapkan oleh PT DSI.
"Kekhawatiran terbesarnya adalah jika aturan ini justru menjadi disinsentif bagi emiten untuk menggenjot produksi, yang pada akhirnya malah menurunkan penerimaan negara," ungkap Nafan saat dihubungi Bisnis.
Prospek permintaan batu bara Asia
Pada perkembangan lain, Rystad Energy dalam riset terbarunya memperkirakan peningkatan konsumsi batu bara di Asia akan naik hampir 70 juta ton pada 2026 dalam skenario pasar gas yang ketat dan berkelanjutan.
Hal itu khususnya sebagai dampak langsung dari perang AS-Iran yang menyurutkan infrastruktur pengapalan komoditas energi. Rystad mencatat bahwa Pembangkit listrik tenaga batu bara di seluruh Asia Timur Laut dan Asia Tenggara telah meningkat tajam seiring dengan penurunan produksi gas dan peningkatan signifikan pengiriman batubara melalui laut ke kawasan tersebut.
Pembangkit listrik tenaga batu bara Jepang tumbuh 11% meskipun produksi gas turun 13%, dan impor batu bara Korea Selatan dan Jepang masing-masing lebih dari 50% dan 20% di atas level tahun lalu untuk bulan Mei.
"Di seluruh perekonomian yang terdampak, perubahan ini mencerminkan kebutuhan daripada pilihan, dengan rantai pasokan batu bara tetap tidak terpengaruh oleh konflik," demikian laporan Rystad.
Namun, Rystad juga menekankan bahwa yang kita lihat bukanlah bagian dari kebangkita batu bata, melainkan sebuah pengingat akan realitas transisi energi di kawasan Asia Pasifik.
Dari sisi harga, berdasarkan skenario dasar Rystad Energy, batu bara Newcastle diperkirakan rata-rata menyentuh sekitar US$125 per ton pada 2026 sebelum turun menjadi US$115 pada 2027, seiring dengan dimulainya kembali produksi nuklir di Asia Timur Laut dan kondisi pasokan LNG yang secara bertahap membaik mengurangi kekurangan bahan bakar di wilayah tersebut.
Dalam skenario terburuk di mana perang berlanjut, Rystad Energy memperkirakan permintaan batu bara dapat meningkat sekitar 90 juta ton hanya pada 2026, dengan permintaan kumulatif jangka pendek mencapai sekitar 190 juta ton, jauh di atas skenario dasar.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at