Bloomberg Technoz
Published at
Siasati Stok Industri Semen, Aspebindo Usulkan Blending Batu Bara
Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) mengusulkan penerapan metode blending (pencampuran) batu bara dari beberapa jenis kalori guna mengatasi kendala pasokan untuk industri semen nasional.
Ketua DPP Aspebindo Hasstriansyah mengatakan langkah tersebut dinilai menjadi solusi praktis di tengah gangguan logistik akibat mengeringnya sungai karena fenomena El Niño serta persoalan ketidaksesuaian harga batu bara.
“Untuk mengatasi masalah tersebut diusulkan blending [batu bara] agar harga masuk. Dengan catatan spesifikasi masih masuk untuk pemrosesan pembakaran yang cocok di kiln Pabrik Semen,” ungkapnya saat dihubungi Bloomberg Technoz, Jumat (25/9/2026).
Meski demikian, keberhasilan implementasi blending batu bara sangat bergantung pada kesiapan teknis di area pabrik semen, terutama dalam penyesuaian operasional mesin kiln.
Diperlukan koordinasi ketat antara penambang dan teknisi pabrik untuk memastikan komposisi campuran tetap menghasilkan suhu pembakaran yang stabil dan aman bagi fasilitas produksi.
“Standarisasi pengujian kalori secara berkala menjadi syarat mutlak agar efisiensi biaya tidak memicu penurunan mutu atau kerusakan alat pemrosesan,” tambahnya.
Blending batu bara dalam industri semen merupakan proses pencampuran dua atau lebih jenis batu bara yang memiliki kualitas berbeda untuk menghasilkan bahan bakar campuran yang sesuai dengan standar operasional tanur putar (rotary kiln).
Metode ini diterapkan guna menekan biaya bahan bakar dengan memanfaatkan batu bara kalori rendah yang lebih murah, tanpa mengorbankan kestabilan proses pembakaran klinker.
Metode blending dilakukan melalui dua teknik utama di area stok atau fasilitas produksi, yaitu stockpile blending dan bin blending.
Pada stockpile blending, pencampuran dilakukan secara mekanis di lapangan penumpukan (coal yard) menggunakan alat berat seperti stacker-reclaimer dengan pola penuangan teratur (chevron atau windrow).
Sementara itu, bin blending menggunakan sistem pengumpanan terpisah (feeder bin) di mana masing-masing kualitas batu bara diatur laju alirnya secara otomatis via weigh feeder sebelum masuk ke penggilingan coal mill.
Masalah DMO
Selain persoalan alam, masalah kian rumit karena pemenuhan kewajiban pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) terganjal oleh patokan harga kontrak yang kurang fleksibel, terutama saat pengusaha harus menanggung lonjakan biaya logistik akibat pengalihan rute pengiriman.
Dia mengonfirmasi para pemasok batu bara kini berada dalam posisi yang makin sulit untuk memenuhi kuota DMO pada tingkat harga tersebut.
Besaran domestic price obligation (DPO) batu bara senilai US$90 per ton untuk industri semen dinilai tidak lagi mampu menutup modal operasional dan biaya pengiriman yang melonjak.
Meski begitu, Hasstriansyah tidak dapat memberikan informasi mengenai usulan asosiasi terhadap harga baru DMO batu bara yang dinilai ideal untuk industri semen.
“Untuk harga DMO kami tidak berani mengajukan angka, tetapi mudah-mudahan bisa [di atas US$90/ton],” katanya.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala. Pemerintah pun mencari sumber pasokan alternatif untuk menutup kekurangan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan penyebab kekurangan pasokan batu bara untuk industri semen tak lepas dari gangguan jalur logistik.
Dia menjelaskan, saat ini, kondisi sungai-sungai yang menjadi jalur logistik batu bara surut seiring dengan fenomena kemarau panjang dan El Niño.
Menurut Tri, kondisi itu menghambat proses pengiriman batu bara sehingga pasokan yang diterima sejumlah perusahaan semen ikut terdampak.
"[Masalah industri] semen itu ada berapa memang laporan terkait dengan pasokan [batu bara] yang kurang. Beberapa karena sungai surut," kata Tri di ICE BSD, Selasa (22/9/2026).
Terkait dengan hal ini, Tri mengatakan, Kementerian ESDM bakal mencari pasokan alternatif untuk menutupi kekurangan emas hitam bagi industri semen.
"Kami di [Ditjen] Minerba berupaya untuk mengalihkan atau mencari dari tempat lain. Mudah-mudahan solved [terselesaikan] minggu ini atau minggu depan," tutur Tri.
Namun demikian, Tri tidak menjelaskan berapa kekurangan pasokan batu bara untuk industri semen tersebut.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Published at
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at