KONTAN

Published at

March 4, 2026 at 12:00 AM

Sejumlah Perbankan Makin Selektif Salurkan Pembiayaan Sektor Batubara

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Prospek pembiayaan di sektor batubara tampak menantang saat ini. Pasalnya, industri batubara tengah menghadapi angin sakal. Permintaan global melemah membuat ekspor batubara Indonesia anjlok.

Dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batubara Indonesia turun 16,04% (year on year/yoy) menjadi US$ 1,82 miliar. Porsi dari komoditas ini mencapai 8,56%. Secara volume juga turun 2,87% pada Januari 2026.

Kredit batubara juga masuk ke sektor pertambangan dalam data Bank Indonesia (BI). Per Januari 2026, kredit pertambangan mengalami kelesuan, di mana kredit untuk tujuan modal kerja minus 8,8% secara tahunan mencapai Rp 158 triliun, dan kredit investasi tumbuh terbatas di 25,9% yoy pada Januari 2026, dari 27,8% di Desember 2025.

Kondisi ini membuat perbankan semakin selektif dalam memberikan pembiayaan ke sektor batubara.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menegaskan penyaluran kredit ke sektor batubara masih dilakukan secara terbatas dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Saat ini, porsi pembiayaan ke sektor tersebut hanya sekitar 2,5% dari total portofolio kredit perseroan yang mencapai Rp 993 triliun.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan pembiayaan ke sektor batubara dilakukan untuk mendukung kebutuhan energi nasional, khususnya dalam menjaga pasokan listrik bagi masyarakat.

“BCA konsisten menyalurkan pembiayaan ke berbagai sektor secara prudent. Pembiayaan di sektor batubara dilakukan dalam rangka mendukung penyediaan pasokan listrik bagi masyarakat di seluruh pelosok Indonesia,” ujar Hera kepada kontan.co.id, Senin (2/3).

Menurutnya, pembiayaan ke sektor batubara masih relevan pada masa transisi energi. Pasalnya, kebutuhan energi nasional saat ini belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh energi baru terbarukan.

“Kami melihat penyaluran kredit ke sektor batubara sejalan dengan kebutuhan pasokan energi yang belum dapat sepenuhnya dipenuhi oleh energi baru terbarukan selama masa transisi,” tambahnya.

Meski demikian, BCA juga menilai prospek industri batubara ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan dinamika geopolitik yang berdampak pada pasokan energi dunia.

“Prospek industri batubara ke depan akan bergantung kepada perekonomian global dan dinamika geopolitik yang memengaruhi pasokan energi global,” jelas Hera.

Selain itu, perseroan juga memastikan seluruh kegiatan pembiayaan tetap memperhatikan dampak lingkungan melalui penerapan kebijakan pembiayaan yang bertanggung jawab.

Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan bahwa pihaknya sangat selektif dalam menyalurkan kredit ke sektor batubara. Pihaknya juga disebut masih selektif dalam membuka pembiayaan kepada pemain baru di sektor batubara.

Menurutnya, penilaian dalam menyalurkan kredit ke sektor ini dilakukan secara menyeluruh, mulai dari arus kas, committed sales, hingga kesiapan perusahaan dalam menghadapi tantangan pasar saat ini.

"Jadi kami harus memastikan apakah perusahaan tersebut bisa mengantisipasi kondisi saat ini, sehingga kami bisa menghitung apakah masih layak untuk memberikan fasilitas kredit," jelasnya.

Adapun portofolio kredit Bank Mandiri di sektor batubara per Desember 2025 mencapai Rp 67,1 triliun atau sekitar 4,49% dari total penyaluran kredit perseroan. Adapun kualitas kredit tercatat baik dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di level 0,00%.

Sementara, Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan penyaluran yang stagnan di sektor ini. Per Desember 2025 sekitar 4,2% dari total kreditnya secara bank only yang mencapai Rp 899,5 triliun. Di periode yang sama 2024 juga mencapai 4,2% dari Rp 775,8 triliun outstanding kreditnya.

Global Market Economist di Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto mengatakan harga batubara yang melemah pada periode Desember hingga Januari menjadi salah satu penyebab utama turunnya kinerja ekspor komoditas tersebut.

Menurutnya, pelemahan harga batubara tidak terlepas dari turunnya harga minyak dunia yang ikut memberi tekanan pada harga komoditas energi lain.

“Pada periode Desember dan Januari lalu harga batubara memang relatif rendah. Penurunan harga minyak juga ikut memengaruhi harga batubara sehingga berdampak pada total ekspor batubara Indonesia,” ujar Myrdal.

Selain faktor harga, ia melihat mulai banyak negara yang mencari alternatif sumber energi lain untuk pembangkit listrik. Peralihan ke energi yang lebih ramah lingkungan, khususnya energi baru terbarukan (EBT), juga turut menekan permintaan batubara.

Di sisi pembiayaan, Myrdal menilai minat perbankan untuk menyalurkan kredit ke sektor batubara juga mulai cenderung menurun. Hal ini seiring meningkatnya komitmen sejumlah bank untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam penyaluran pembiayaan.

Menurutnya, sebagian bank mulai mengurangi eksposur pembiayaan pada sektor energi fosil, termasuk batubara, sebagai bagian dari implementasi praktik keuangan berkelanjutan.

Meski demikian, peluang pembiayaan tetap terbuka bagi pelaku industri batubara yang telah menerapkan standar ESG dengan baik. “Jika perusahaan batubara sudah menerapkan prinsip ESG secara baik, maka peluang mendapatkan pembiayaan dari bank masih terbuka,” jelasnya.

Untuk tahun ini, Myrdal memperkirakan tren penyaluran kredit ke sektor batubara berpotensi mengalami penurunan. Hal ini juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang berupaya mengendalikan produksi batubara guna menjaga keseimbangan harga di pasar global serta mempertimbangkan aspek lingkungan.

Ke depan, ia menyarankan perbankan lebih selektif dalam menyalurkan kredit ke sektor tersebut dengan memastikan pelaku usaha menerapkan praktik ESG dan memiliki arah bisnis yang berkelanjutan.

Selain itu, sektor perbankan juga dinilai perlu mendorong pembiayaan pada industri hilirisasi batubara agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Salah satu potensi hilirisasi yang dapat dikembangkan adalah pengolahan batubara menjadi dimethyl ether (DME) melalui proses gasifikasi.

“Jika sektor batubara ingin tetap menarik bagi perbankan, maka selain memenuhi prinsip ESG, pelaku usaha juga perlu mengembangkan hilirisasi seperti proyek DME,” katanya.

Di sisi lain, Myrdal juga berharap penurunan suku bunga kredit dapat terus berlanjut sehingga mendorong pembiayaan perbankan ke sektor-sektor prioritas pembangunan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

March 4, 2026 at 12:00 AM

3/4/26

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

March 4, 2026 at 12:00 AM

3/4/26

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

March 4, 2026 at 12:00 AM

3/4/26

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

March 4, 2026 at 12:00 AM

3/4/26

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

March 4, 2026 at 12:00 AM

3/4/26

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by