Bisnis Indonesia

Published at

Seberapa Panas Prospek Sektor Tambang Batu Bara yang Masih Diburu di Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor bisnis pertambangan batu bara masih memikat perhatian investor hingga konglomerat Indonesia di tengah prospek menggeliatnya permintaan global.

Kabar teranyar yang mencuri perhatian pelaku pasar Indonesia yakni pembelian saham emiten pertambangan batu bara PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) oleh Haji Isam.

PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat pada 16 September 2026. Perusahaan itu akan membeli 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30% dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Di sisi lain, emiten non-tambang juga berencana masuk ke sektor ini. PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) berencana mengakuisisi PT Borneo Prima, tambang batu bara kokas di Murung Raya, Kalimantan Tengah, lewat inbreng dalam rights issue senilai Rp27,1 triliun.

Selanjutnya, PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) berencana mengambil 45% saham PT Trimata Coal Perkasa di Sumatra Selatan senilai Rp1,6 triliun. Perjanjian bersyaratnya sudah ditandatangani pada 22 Desember 2025. Kedua rencana ini masih memerlukan proses persetujuan dan pelaksanaan.

Aksi tersebut menunjukkan bahwa sektor batu bara masih memiliki daya tarik yang cukup kuat. Laporan International Energy Agency (IEA) menunjukkan permintaan batu bara diprediksi meningkat 1,2%. Artinya, total permintaan global akan mencapai 8,94 miliar ton pada tahun 2026.

Beberapa negara seperti Jepang, Korea, Tiongkok, India, Indonesia, dan Vietnam diperkirakan akan mengalami peningkatan konsumsi batu bara yang sebelumnya tidak terduga.

Peningkatan tersebut disebabkan oleh ketidakstabilan Selat Hormuz yang berakibat pada ketatnya pasokan gas alam cair (LNG), sehingga beberapa sistem pembangkit listrik beralih dari gas ke batu bara. Selain itu, permintaan pendinginan yang tinggi serta rendahnya produksi dari hydropower karena cuaca El Niño juga meningkatkan penggunaan batu bara.

Sementara di Tiongkok, peningkatan konsumsi batu bara juga disebabkan oleh kebutuhan untuk memproduksi produk kimia karena tingginya harga minyak. Melansir Oilprice.com, pemerintah Tiongkok juga menyerukan kepada penambang batu bara lokal untuk mempertahankan tingkat produksi yang stabil.

Permintaan batu bara Tiongkok diperkirakan akan meningkat sebesar 1% tahun ini, dengan total konsumsi mencapai sekitar 5 miliar ton.

Sementara permintaan di India diperkirakan akan kembali ke tren pertumbuhan historisnya pada tahun 2026, setelah mengalami penurunan sementara di tahun lalu. Melansir Argusmedia.com, produksi dan pasokan batu bara India meningkat di paruh pertama bulan September, seiring dengan meredanya curah hujan dan membaiknya kondisi operasional di seluruh wilayah pertambangan utama.

Di Korea, permintaan batu bara diperkirakan akan meningkat sebesar 6% atau total konsumsinya menjadi 116 juta ton. Rendahnya ketersediaan energi nuklir serta tingginya harga gas alam telah mendorong penggunaan pembangkit listrik bertenaga batu bara, yang melonjak 30% (year-on-year/YoY) pada kuartal pertama tahun 2026.

Permintaan batu bara di Jepang juga mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasarkan The Japan Times, pada Mei 2026, rata-rata pergerakan pembangkit listrik batu bara dalam 30 hari naik 17% dibanding tahun lalu dalam periode yang sama.

Untuk ASEAN, IEA melaporkan pertumbuhan permintaan batu bara diperkirakan akan terus berlanjut, hingga mencapai sekitar 574 juta ton. Pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor energi, khususnya di Indonesia dan Vietnam, yang masih menjadikan batu bara sebagai tulang punggung sistem kelistrikan.

Prediksi Harga Batu Bara pada 2027

IEA mengatakan gambaran permintaan batu bara di tahun 2027 tidak pasti, bergantung pada kondisi lalu lintas Selat Hormuz.

"Jika aliran LNG melalui Selat tersebut pulih dan harga gas alam turun kembali ke tingkat sebelum perang, permintaan batu bara global dapat menurun pada tahun 2027. Namun, jika Selat tersebut sebagian besar masih tertutup untuk pengiriman LNG, permintaan batu bara dapat meningkat lebih lanjut," tulis IEA dalam laporan, Kamis (10/09/26).

Dengan kata lain, permintaan batu bara mengikuti kondisi tensi geopolitik di Timur Tengah. Apabila tensi mereda, permintaan batu bara global diperkirakan akan turun sebesar 0,4% pada tahun 2027, menjadi 8,91 miliar ton.

Lebih lanjut, Tiongkok tetap menjadi pendorong utama dan penentu arah permintaan batu bara global. Berdasarkan laporan pertengahan tahun 2026 IEA, konsumsi negara tersebut akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pertumbuhan permintaan listrik, ketersediaan pembangkit listrik tenaga air, dan energi terbarukan.

Sementara India diperkirakan akan tetap menjadi sumber utama pertumbuhan permintaan batu bara pada tahun 2027. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya permintaan listrik dan aktivitas industri yang mendukung konsumsi batu bara.

Penggunaan batu bara di kawasan ASEAN juga berpotensi meningkat lebih lanjut, didorong oleh meningkatnya permintaan listrik di negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Sebaliknya, Jepang dan Korea diperkirakan akan terus mengurangi penggunaan batu bara dengan beralih ke pembangkit listrik tenaga nuklir dan energi terbarukan.

Di Uni Eropa, perluasan pembangkit energi terbarukan dan penghapusan batu bara secara bertahap diperkirakan akan terus mengurangi penggunaan batu bara. Adapun di Amerika Serikat, langkah-langkah kebijakan dan penundaan penutupan pembangkit listrik batu bara dapat mempertahankan kapasitas batu bara yang lebih tinggi.

Adapun untuk harga, di tahun 2027 diperkirakan batu bara menunjukkan stabilitas pasar yang lebih besar dengan fluktuasi bulanan yang minimal. Berdasarkan analisis Just2Trade, di tahun 2027 harga batu bara termal diperkirakan berada di kisaran US$118,5-US$120,5 per ton, sementara untuk batu bara metalurgi berada di kisaran US$221,5-US$222,4 per ton.

Pada tahun ini, harga batu bara melonjak dari awalnya US$108,65 hingga mencapai US$146-US$148 karena berlangsungnya konflik AS dan Iran. Hari ini, harga batu bara per Senin 21 September sebesar US$144 per ton.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Published at

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by