KONTAN

Published at

March 17, 2026 at 12:00 AM

Saham Emiten Batubara Terjepit Perang dan Kuota Produksi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham emiten batubara menghadapi dua sentimen besar pada tahun ini. Di satu sisi, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan batubara global. Di sisi lain, pemerintah Indonesia berencana memangkas kuota produksi batubara nasional pada 2026.

Kedua faktor tersebut dinilai dapat memberikan dukungan terhadap harga batubara sekaligus menjaga profitabilitas emiten. Meskipun terdapat potensi tekanan dari sisi volume produksi.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan menilai, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu kenaikan harga energi global, terutama minyak dan liquefied natural gas (LNG). Sehingga, gangguan aliran minyak dan pasokan gas di kawasan tersebut berpotensi membuat perusahaan utilitas di India, Asia Tenggara, hingga sebagian Eropa meningkatkan penggunaan batubara.

Dalam skenario BRI Danareksa Sekuritas, gangguan singkat dapat meningkatkan permintaan batubara termal global sebesar 40 juta55 juta ton atau sekitar 0,5% dari permintaan global. Jika gangguan berlangsung lebih lama, permintaan dapat naik lebih dari 91 juta ton atau sekitar 1,1%. Nah, dalam skenario guncangan berkepanjangan, peningkatan permintaan batubara berpotensi melebihi 180 juta ton atau lebih dari 2,1% dari permintaan global.

"Kami memperkirakan permintaan batubara termal dapat meningkat 40 juta268 juta ton dan potensi kenaikan harga batubara termal akibat guncangan energi yang mungkin terjadi," jelas
Erindra dalam riset pada 5 Maret 2026.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi memperkirakan, kinerja emiten batubara pada kuartal I-2026 relatif resilien meskipun harga komoditas belum kembali ke puncak siklus sebelumnya. Harga batubara global mulai menemukan titik keseimbangan baru. Kontrak ICE Newcastle futures bergerak stabil di kisaran US$ 135US$ 140 per ton usai terkoreksi sepanjang 2025.

Pemangkasan kuota

Namun, prospek sektor batubara juga dipengaruhi kebijakan domestik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan kuota produksi batubara nasional pada tahun 2026 sebesar 600 juta ton. Kuota produksi ini turun sekitar 190 juta ton atau hampir 24% dibandingkan realisasi produksi 2025, sebesar 790 juta ton.

Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla menilai, pemangkasan kuota ini dapat memberikan dampak ganda bagi emiten batubara. Di satu sisi, pembatasan produksi berpotensi mengurangi risiko kelebihan pasokan di pasar global sehingga dapat membantu menjaga stabilitas harga komoditas. Di sisi lain, beberapa emiten tambang berpotensi menghadapi penurunan volume produksi jika kuota yang disetujui lebih rendah dari rencana awal.

Dalam konteks ini, emiten dengan biaya produksi yang lebih rendah dan efisiensi operasional yang baik berada pada posisi yang lebih diuntungkan. "Karena tetap mampu mempertahankan margin meskipun volume produksi dibatasi," jelas Thoriq kepada KONTAN, Jumat (13/3).

Sedangkan Erindra menyoroti, pembatasan produksi batubara Indonesia dapat memperbesar potensi kekurangan pasokan global jika permintaan meningkat akibat gangguan energi. Hitungan dia, potensi kesenjangan pasokan ekspor Indonesia bisa mencapai 45 - 96 juta ton. Sehingga meningkatkan risiko kenaikan harga batubara di pasar global.

Dari sisi saham, Imam melihat aktivitas akumulasi investor asing pada sejumlah saham emiten batubara seperti PT Indo Tambangraya Megah Tok (ITMG), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengindikasikan kalau investor institusi masih melihat valuasi sektor ini menarik. Terutama dari sisi dividend yield dan ketahanan arus kas di tengah fase harga komoditas yang mulai stabil.

Rekomendasi Saham

Berikut ini rekomendasi saham emiten batubara:

  1. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
    Pada tahun 2025, AADI mengantongi pendapatan US$ 4,91 miliar, turun 7,71% year on year (yoy). Laba bersih AADI juga merosot 37,22% yoy menjadi US$ 760,18 juta. Penjualan batubara ke pasar domestik mencapai US$ 1,14 miliar pada 2025. Di pasar ekspor, mayoritas penjualan AADI ke Malaysia dengan nilai US$ 947,05 juta.
    Rekomendasi: Buy
    Target harga: Rp 10.875
    Analis: Muhammad Thoriq Fadilla, Bumiputera Sekuritas

  2. PT Indo Tambangraya Megah Tok (ITMG)
    Pendapatan bersih ITMG mengalami koreksi 18,26% year on year (yoy) menjadi US$ 1,88 miliar pada tahun 2025, dari sebelumnya US$ 2,30 miliar. Emiten batubara ini juga mengalami penurunan laba bersih sebesar 48,96% yoy menjadi US$ 190,94 juta pada tahun 2025. Saat ini, ITMG juga masih menjalani program buyback saham.
    Rekomendasi: Reduce
    Target harga: Rp 19.500
    Analis: Kenny Shan, Sinarmas Sekuritas

  3. PT Bukit Asam Tbk (Persero) (PTBA)
    Sejumlah proyek hilirisasi diposisikan sebagai katalis positif jangka panjang untuk PTBA. Di antaranya, proyek gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME). PTBA juga turut berperan dalam mendukung pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit, alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.
    Rekomendasi: Buy
    Targer harga: Rp 3.000
    Analis: Imam Gunadi, Indo Premier Sekuritas

  4. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
    ADRO mengalami penurunan pendapatan usaha sebesar 10,10% year on year (yoy) menjadi US$ 1,87 miliar pada akhir 2025. Laba bersih juga anjlok 67,56% yoy menjadi sebesar US$ 447,69 juta pada akhir tahun 2025. Mayoritas pendapatan usaha ADRO pada 2025 berasal dari segmen jasa pertambangan yakni sebesar US$ 1,01 miliar.
    Rekomendasi: Buy
    Target harga: Rp 2.630
    Analis: Erindra Krisnawan, BRI Danareksa Sekuritas

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

March 17, 2026 at 12:00 AM

3/17/26

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

March 17, 2026 at 12:00 AM

3/17/26

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

March 17, 2026 at 12:00 AM

3/17/26

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

March 17, 2026 at 12:00 AM

3/17/26

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

March 17, 2026 at 12:00 AM

3/17/26

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by