KONTAN

Published at

Saham Batubara Terdiskon Dalam, Saatnya Berburu atau Menunggu?

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga batubara global belum mampu mengangkat kinerja saham-saham batubara di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di tengah harga batubara Newcastle yang mendekati level US$ 150 per ton, sejumlah saham batubara justru masih bergerak lesu dan sebagian terkoreksi cukup dalam sepanjang tahun ini.

Misalnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang anjlok 64,48% year to date (YTD), PT Harum Energy Tbk (HRUM) turun 40,47%, dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 38,85%. Walaupun memang, tidak semuanya sama, karena ada PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang naik 19,89% YTD, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) 8,23% YTD.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi menilai tekanan yang terjadi saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan prospek industri batubara. Menurutnya, pasar sedang mendiskon sejumlah risiko sekaligus, mulai dari ketidakpastian implementasi kebijakan Domestic Sales Integration (DSI), meningkatnya country risk premium Indonesia, hingga kekhawatiran terhadap pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

"Pelemahan harga saham batubara lebih banyak dipicu oleh sentimen dan kondisi risk-off," ujarnya kepada KONTAN, Senin (8/6).

Pandangan tersebut berangkat dari valuasi sektor sudah mendekati, bahkan pada beberapa emiten telah melampaui level yang pernah terlihat pada fase terburuk industri batubara. Karena itu, ia melihat kondisi saat ini sebagai sebuah anomali yang lebih mencerminkan diskon risiko Indonesia ketimbang faktor fundamental industri.

Analis Senior Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas juga menilai pelemahan saham batubara saat ini lebih banyak dipengaruhi tekanan pasar dibanding perubahan fundamental sektor. Namun memang, pasar juga dinilai tetap mengantisipasi normalisasi laba dalam jangka panjang.

"Menurut kami, pelemahan saat ini lebih didominasi oleh sentimen pasar dibanding revisi signifikan terhadap ekspektasi laba. Harga batubara yang masih tinggi masih mampu menopang kinerja emiten dalam jangka pendek, meski pasar tetap mengantisipasi normalisasi laba dalam jangka panjang," bebernya.

Sukarno juga melihat valuasi sektor memang sudah jauh lebih murah dibandingkan rata-rata historis, tetapi belum mencapai level krisis seperti pada periode 2015-2016. Menurutnya, kondisi saat ini berbeda karena mayoritas emiten besar masih memiliki neraca yang kuat, kas melimpah, serta kemampuan menghasilkan arus kas yang sehat.

Namun, keduanya sepakat bahwa koreksi harga saham tidak serta-merta membuat seluruh saham batubara menarik untuk dikoleksi. Wafi menyebutkan, tantangan pada sektor ini masih berkutat pada potensi berkurangnya volume produksi akibat pengetatan RKAB.

"Dalam skenario tersebut, produksi bisa turun 15%-25% dan menekan laba sekitar 10%-20% dibandingkan proyeksi awal," sebutnya.

Di tengah tantangan itu, dia menyoroti PTBA dan PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) sebagai emiten yang relatif lebih defensif. PTBA dinilai memiliki perlindungan lebih baik karena RKAB telah disetujui, eksposur terhadap pasar domestik melalui skema domestic market obligation (DMO), serta potensi dividend yield yang masih menarik. Sementara itu, BSSR ditopang valuasi murah, posisi utang yang sangat rendah dan arus kas yang kuat.

Sebaliknya, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) masih menghadapi risiko dari tingginya eksposur ekspor ke China dan belum sepenuhnya memperoleh kepastian RKAB. Adapun ADRO masih menghadapi tantangan karena proyek aluminium smelter di Kalimantan Utara masih berada pada tahap awal dan belum berkontribusi terhadap pendapatan, sehingga kinerja jangka pendek masih bergantung pada bisnis batubara, khususnya aset Kestrel.

Sukarno juga melihat PTBA menjadi opsi yang menarik berkat valuasi rendah, posisi kas yang kuat, dan potensi dividen yang tetap solid. "Sebaliknya, emiten dengan biaya produksi tinggi atau fundamental yang melemah masih berisiko mengalami tekanan lanjutan," sambungnya.

Dia juga menegaskan investor perlu lebih fokus pada kualitas fundamental dibanding besarnya koreksi harga saham. Beberapa indikator yang perlu dicermati antara lain biaya produksi, posisi kas, free cash flow, tingkat utang, hingga umur cadangan tambang.

"Jika fundamental tetap kuat sementara harga saham turun, maka koreksi cenderung mencerminkan diskon valuasi," ujarnya.

Karena itu, strategi averaging down masih dapat dipertimbangkan, tetapi harus dilakukan secara selektif. Investor perlu memastikan bahwa penurunan harga saham lebih banyak dipicu sentimen pasar dibanding memburuknya nilai intrinsik perusahaan.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by