Bisnis Indonesia

Published at

Saham Batu Bara Semester II/2026 Dibayangi RKAB, DSI hingga Harga BBM

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek saham emiten batu bara pada semester II/2026 dinilai cukup konstruktif, tetapi investor perlu mencermati ketidakpastian produksi akibat kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kenaikan biaya tambang, serta implementasi kebijakan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Equity Research Analyst Panin Sekuritas Cliff Nathaniel mengatakan kinerja emiten batu bara pada semester II/2026 dibayangi ketidakpastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), terutama bagi produsen yang bukan pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) maupun berstatus Badan Usaha Milik Negara atau BUMN.

Menurutnya, secara operasional mulai terlihat perbaikan kinerja emiten produsen batu bara pada kuartal II/2026. Kenaikan average selling price (ASP) berpotensi menopang pendapatan, meski dampaknya terhadap margin masih tertahan oleh kenaikan harga minyak dunia.

“Komponen BBM dapat menyumbang sekitar 40% dari total Harga Pokok Penjualan sehingga kenaikan harga batu bara belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ekspansi margin,” ujarnya kepada Bisnis dikutip, Kamis (27/8/2026).

Menurut dia, pemulihan produksi kemungkinan masih terbatas karena pemerintah menerapkan relaksasi RKAB secara terukur untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.

Karena itu, visibilitas produksi dinilai lebih penting dibandingkan sekadar potensi tambahan kuota. Emiten pemegang IUPK dan BUMN dinilai lebih menarik karena memiliki kepastian operasional yang relatif lebih baik.

Cliff memperkirakan harga batu bara Newcastle pada semester II/2026 masih bertahan di atas US$120 per ton. Level tersebut dinilai cukup untuk menopang margin dan profitabilitas perusahaan dengan struktur biaya kompetitif.

“Potensi penurunan harga minyak akan menjadi faktor positif karena dapat meredakan tekanan mining cost dan memberikan ruang bagi ekspansi margin,” katanya.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Panin Sekuritas menjadikan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) sebagai top picks sektor batu bara.

AADI dinilai memiliki cash margin tinggi, profil batu bara mid-CV, stripping ratio rendah, serta basis cadangan besar. Kombinasi tersebut membuat struktur biaya perseroan relatif kompetitif sehingga lebih mampu menangkap kenaikan harga batu bara.

Di sisi lain, risiko yang perlu diperhatikan investor mencakup volatilitas harga batu bara, kenaikan mining cost apabila harga BBM kembali melonjak akibat eskalasi geopolitik Timur Tengah, serta ketidakpastian implementasi DSI yang berpotensi menambah biaya administrasi.

Pandangan positif juga datang dari Equity Research Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari, terutama untuk emiten dengan volume produksi besar dan kontribusi royalti yang tinggi.

Dua saham yang dinilai dapat menjadi rekomendasi adalah PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI).

Yoga menilai harga batu bara berpotensi tetap tinggi seiring pemangkasan pasokan Indonesia dan potensi tambahan permintaan Asia akibat berkurangnya pasokan gas di tengah konflik Timur Tengah.

Namun, investor masih perlu mewaspadai overhang implementasi DSI pada September 2026, terutama karena skema penerapannya belum sepenuhnya jelas.

Untuk AADI, Sucor Sekuritas sebelumnya memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp12.600 per saham. Target tersebut didukung posisi biaya produksi yang rendah, volume produksi stabil, serta kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat.

Kiwoom Unggulkan AADI, PTBA, ITMG dan BUMI

Sementara itu Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas juga melihat peluang perbaikan kinerja emiten batu bara pada semester II/2026.

Normalisasi persetujuan RKAB yang sebelumnya menghambat produksi pada semester I/2026 dinilai dapat mendorong pemulihan volume. Tambahan kuota yang mulai disetujui pemerintah juga membuka peluang bagi produsen untuk mengejar target produksi tahunan.

Emiten dengan kapasitas produksi besar dan fleksibilitas operasional tinggi dinilai menjadi penerima manfaat utama. Kiwoom menempatkan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), dan PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) dalam radar.

Kiwoom Sekuritas memproyeksikan Harga Newcastle Coal diperkirakan berada di kisaran US$120-US$145 per ton hingga akhir 2026. Dengan level tersebut, margin operasional mayoritas emiten batu bara Indonesia dinilai masih relatif terjaga.

Kiwoom menilai AADI menarik karena prospek pertumbuhan volume dan valuasinya. PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) didukung pasar domestik serta potensi dividen, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) unggul dari sisi margin dan arus kas, sedangkan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) memiliki leverage paling besar terhadap pemulihan produksi dan harga batu bara.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by