KONTAN
Published at
February 4, 2026 at 12:00 AM
Saham AADI Menghijau Saat IHSG Merah, Cek Profil Emiten Batubara Ini
KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten AADI yang menguat saat IHSG melemah. Di awal 2026 (Januari–Februari), ketika IHSG mengalami koreksi tajam, bahkan sempat anjlok hingga ke level 7.922 pada pertengahan Januari akibat aksi jual global, kejatuhan harga komoditas, sentimen hawkish The Fed, dan tekanan saham-saham batubara.
Terakhir, saat IHSG memerah pada Senin, 2 Februari 2026, saham AADI memiliki kinerja positif.
Saham ini bertahan atau bahkan menguat relatif dibandingkan indeks, didorong oleh fundamental kuat seperti permintaan batubara stabil dari pasar domestik (PLTU) dan ekspor, serta valuasi yang dianggap murah pasca-IPO.
Lalu, seperti apa profil dari emiten anak usaha dari Adaro Energy ini? Cek penjelasan selengkapnya.
Profil Emiten AADI
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (kode saham: AADI) adalah emiten pertambangan batubara termal yang relatif baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan ini merupakan anak usaha dari grup Adaro Energy (ADRO) dan resmi melantai melalui IPO pada 5 Desember 2024 dengan harga penawaran Rp5.550 per saham.
Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp57–62 triliun (per akhir 2025/awal 2026), AADI fokus pada produksi dan penjualan batubara berkualitas tinggi dari wilayah operasi utama di Kalimantan Selatan dan sekitarnya.
Emiten ini dikenal sebagai pemain besar di sektor energi fosil, dengan cadangan batubara yang signifikan dan operasi efisien, sehingga sering menjadi pilihan investor value di tengah volatilitas komoditas.
Lini Usaha Utama
AADI beroperasi di sektor pertambangan dan perdagangan batubara termal (thermal coal), dengan fokus pada produksi batubara sub-bituminous berkalori tinggi yang cocok untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Lini usaha mencakup:
Penambangan batubara: Operasi tambang terbuka di Kalimantan Selatan, dengan kapasitas produksi jutaan ton per tahun.
Pengolahan dan pengangkutan: Termasuk crushing, blending, dan logistik (jalur sungai dan kereta) untuk efisiensi biaya.
Penjualan dan pemasaran: Mayoritas untuk pasar domestik (PLN dan industri) serta ekspor ke Asia (India, China, Jepang).
Bisnis pendukung: Infrastruktur tambang, jasa kontraktor, dan mungkin ekspansi ke energi terbarukan di masa depan sesuai strategi grup Adaro.
Perusahaan ini memanfaatkan sinergi dengan grup Adaro Energy untuk rantai pasok terintegrasi, sehingga biaya produksi relatif rendah dan marjin kompetitif.
Susunan Direksi dan Dewan Komisaris
Susunan direksi AADI masih mengikuti struktur grup Adaro, dengan beberapa perubahan pasca-IPO 2024.
Berdasarkan data keterbukaan informasi BEI dan situs perusahaan:
Direktur
Julius Aslan sebagai Direktur Utama
Priyadi sebagai Direktur
Lie Luckman sebagai Direktur
Susanti sebagai Direktur
Komisaris
Budi Bowoleksono sebagai Komisaris Utama
Primus Dorimulu sebagai Komisaris
Dipimpin oleh komisaris independen dan perwakilan pemegang saham utama (PT Adaro Energy Tbk dan entitas terkait).
Pemegang saham mayoritas adalah PT Adaro Energy dan afiliasi (di atas 70%), dengan free float sekitar 10% pasca-IPO. Struktur ini menjamin stabilitas manajemen dan sinergi grup.
Kinerja Keuangan Q3 2025 (Januari–September 2025)
Melansir data BEI, AADI merilis laporan keuangan 9M 2025 pada November 2025, menunjukkan performa yang solid meski ada penurunan YoY akibat fluktuasi harga batubara global:
Pendapatan usaha → USD 3,61 miliar (turun 10,89% YoY) karena harga batubara rata-rata lebih rendah dibandingkan 2024.
Laba bersih → USD 587,32 juta (setara sekitar Rp9,80 triliun), jeblok 45–46% YoY karena margin tertekan dan biaya operasional naik.
EPS (laba per saham) → USD 0,07542 (turun dari USD 0,15335 sebelumnya).
Market cap → Sekitar USD 3–4 miliar (Rp57–62 triliun), dengan trailing P/E rendah sekitar 4–5x, menunjukkan valuasi murah.
Aspek positif → Volume produksi dan penjualan tetap stabil, cadangan batubara besar, dan kontribusi domestik kuat. Perusahaan juga menunjukkan ketahanan di tengah transisi energi, dengan rencana diversifikasi.
Secara keseluruhan, AADI tetap menarik bagi investor jangka panjang karena posisi kuat di sektor batubara domestik, meski volatil di tengah isu lingkungan dan transisi energi.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at