BLOOMBERG TECHNOZ
Published at
Risiko di Balik Kabar Divestasi Aset Batu Bara Indika (INDY)
Bloomberg Technoz, Jakarta - Rencana PT Indika Energy Tbk (INDY) menjajaki divestasi anak usaha batu bara PT Kideco Jaya Agung dinilai berpotensi melemahkan kemampuan pendanaan perusahaan.
CreditSights menilai pelepasan penuh aset tersebut kecil kemungkinannya dilakukan mengingat Kideco masih menjadi penyumbang utama laba dan arus kas Indika Energy.
Dalam riset yang diterbitkan pada 16 Juli, analis CreditSights Jonathan Tan Jun Jie dan Lakshmanan R mempertahankan rekomendasi underperform terhadap Indika Energy.
Menurut mereka, apabila tujuan penjualan Kideco adalah memperoleh dana untuk belanja modal, divestasi penuh bukan merupakan langkah yang ideal.
"Meski penjualan penuh Kideco dapat memberikan dana yang cukup untuk melunasi obligasi senilai US$655 juta yang jatuh tempo pada 2029, kami menilai langkah tersebut kecil kemungkinannya dilakukan karena Kideco masih menyumbang lebih dari 75% EBITDA dan arus kas operasional grup," tulis analis CreditSights Jonathan Tan Jun Jie dan Lakshmanan R dalam risetnya, Minggu (19/7/2026)
Kideco disebut menyumbang lebih dari 75% terhadap EBITDA dan arus kas operasional Indika.
Di sisi lain, bisnis hijau yang tengah dikembangkan perseroan masih berada pada tahap awal dan menghadapi risiko eksekusi, sehingga kehilangan aset penghasil kas utama dinilai dapat mengurangi kemampuan perusahaan mendanai ekspansi maupun memenuhi kewajiban keuangan di masa mendatang.
"Apabila tujuannya adalah memperoleh tambahan modal untuk belanja modal, kami menilai penjualan sebagian saham sekitar 20%-25% lebih masuk akal. Dengan begitu, Indika tetap dapat mempertahankan kendali atas Kideco sekaligus memperoleh tambahan pendanaan," tulis CreditSights.
CreditSights menilai penjualan sebagian saham Kideco lebih masuk akal dibandingkan melepas seluruh kepemilikan.
Lembaga riset tersebut memperkirakan divestasi sekitar 20%-25% saham dapat membantu Indika memperoleh tambahan modal sekaligus tetap mempertahankan kendali atas aset strategis tersebut.
Meski demikian, analis CreditSights berpendapat divestasi penuh Kideco berpotensi menghasilkan dana yang cukup untuk melunasi obligasi Indika senilai US$655 juta yang jatuh tempo pada 2029.
Namun, mereka menilai langkah tersebut belum mendesak karena perseroan masih memiliki waktu sekitar tiga tahun untuk melakukan refinancing tanpa harus bergantung pada penjualan aset utama.
Selain isu divestasi, CreditSights juga menyoroti sejumlah tantangan lain yang masih membayangi prospek Indika, mulai dari potensi pembengkakan biaya dan keterlambatan proyek emas Awak Mas, risiko eksekusi pengembangan bisnis nonbatu bara, hingga perubahan kebijakan pemerintah di sektor pertambangan yang dapat memengaruhi kinerja perseroan.
Divestasi Kideco
Sebelumnya, Bloomberg News melaporkan Indika Energy tengah mengevaluasi sejumlah opsi strategis atas portofolio investasinya, termasuk kemungkinan melepas kepemilikan di PT Kideco Jaya Agung.
Kideco merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia sekaligus penyumbang utama pendapatan INDY.
Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Indika Energy telah menunjuk penasihat keuangan untuk mengkaji berbagai alternatif, termasuk potensi divestasi aset tersebut.
Perseroan juga disebut mulai melakukan penjajakan awal dengan sejumlah calon investor strategis untuk mengukur minat terhadap Kideco.
Laporan itu menyebut nilai transaksi berpotensi melampaui US$1 miliar. Namun, proses masih berada pada tahap awal dan belum ada keputusan final. Struktur transaksi, valuasi, maupun aset yang akan dilepas masih dapat berubah.
Indika Energy juga disebut masih memiliki opsi untuk tidak melanjutkan divestasi apabila dinilai belum sesuai dengan pertimbangan strategis perusahaan.
Menanggapi kabar tersebut, Sekretaris Perusahaan Indika Energy Adi Pramono menegaskan perseroan tidak memberikan komentar atas rumor maupun spekulasi yang beredar di pasar.
"Sehubungan dengan pemberitaan media baru-baru ini mengenai portofolio investasi Indika Energy, perusahaan tidak memberikan komentar atas rumor atau spekulasi pasar," kata Adi dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (17/7).
Adi juga menyatakan perseroan tidak memiliki informasi atau fakta material lain yang belum diungkapkan kepada publik yang dapat memengaruhi harga saham maupun kelangsungan usaha perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026, Kideco masih menjadi kontributor terbesar terhadap kinerja Indika.
Anak usaha tersebut menyumbang pendapatan sebesar US$377,4 juta atau sekitar 72,8% dari total pendapatan konsolidasian Indika sebesar US$493,2 juta.
Kideco juga membukukan laba bersih US$42,4 juta, sementara laba bersih konsolidasian Indika tercatat US$7 juta.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at