TEMPO
Published at
January 9, 2026 at 12:00 AM
Realisasi Investasi Sektor ESDM 2025 Turun 1,9 Persen
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mencatat realisasi investasi di sektor ESDM sepanjang 2025 mencapai US$ 31,7 miliar. Angka ini turun 1,9 persen dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar US$ 32,3 miliar.
Bahlil merinci investasi tersebut berasal dari sektor mineral dan batu bara sebesar US$ 6,7 miliar, migas US$ 18 miliar, ketenagalistrikan US$ 4,6 miliar, serta energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) US$ 2,4 miliar.
Ia menjelaskan koreksi investasi terjadi pada sektor ketenagalistrikan. Menurut Bahlil, pemerintah akan mendorong percepatan pembangunan pembangkit listrik baru yang telah disetujui dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
“Nanti habis ini saya akan rapat dengan PLN. Kami akan mendorong percepatan pembangunan pembangkit-pembangkit baru yang sudah disetujui dalam RUPTL. Memang butuh effort dan kerja keras agar bisa tercapai,” ujarnya.
Selain investasi, Bahlil juga memaparkan penyerapan tenaga kerja di sektor ESDM sepanjang 2025. Ia mengklaim jumlah tenaga kerja langsung yang diserap tercatat sebanyak 871.574 orang.
Ia menyebut angka tersebut belum termasuk dampak tenaga kerja tidak langsung yang bisa mencapai empat hingga lima kali lipat dari tenaga kerja langsung. Menurut dia, sektor ESDM tetap memberi perhatian pada penciptaan lapangan kerja meski mengandalkan teknologi tinggi.
Bahlil mengatakan upaya tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab negara dalam membuka kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia.
Dalam kesemaptan tersebut, Ketua Umum Partai Golkar ini juga memaparkan realisasi penerimaan negara bukan pajak sektor ESDM. Pada 2025, PNBP migas tercatat sebesar Rp 105,04 triliun atau 83,7 persen dari target Rp 125,46 triliun.
Bahlil menjelaskan penurunan PNBP terjadi karena selisih harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Pemerintah menetapkan asumsi ICP sebesar US$ 80 per barel dalam APBN 2025. Namun, harga rata-rata minyak sepanjang tahun hanya berada di kisaran US$ 68 per barel.
“Lifting kita tercapai, tapi harga sedang turun. Harga komoditas memang sedang turun semua,” katanya.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at