Bisnis Indonesia
Published at
Prospek Landai Produksi Batu Bara AS
Bisnis.com, JAKARTA — Harga gas alam yang rendah terus bertahan hingga puncak musim panas, sehingga pembangkit listrik tenaga gas lebih dipilih dibandingkan dengan batu bara di AS. Permintaan batu bara termal di negeri Paman Sam itu pun melandai yang juga seiring dengan lemahnya permintaan baja global.
Energy Information Administration (EIA) baru-baru ini memproyeksikan total konsumsi batu bara AS akan turun sebesar 8% secara tahunan pada 2026. Selain itu, permintaan domestik untuk batu bara metalurgi juga tertekan akibat lemahnya permintaan baja global, yang terutama berdampak pada produksi AS.
Laporan S&P Global, Jumat (18/9/2026) juga menyatakan di tengah peurunan konsumsi domestik AS, ekspor meningkat tahun ini, sehingga sebagian mengimbangi lemahnya permintaan domestik.
Ekspor batu bara AS naik 19,1% secara tahunan pada kuartal II/2026. Harga LNG dan gas alam yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah memicu peralihan penggunaan bahan bakar dari gas ke batu bara di Eropa dan Asia, yang mendorong permintaan batu bara termal melalui jalur laut.
"Meskipun permintaan domestik untuk batu bara metalurgi cenderung menurun, ekspor justru terbantu oleh pembukaan kembali tambang di West Virginia dan pembukaan tambang Blue Creek milik Warrior Met Coal, yang menambah pasokan untuk ekspor," tulis S&P dalam laporannya.
Faktor-faktor ini mendongkrak kinerja produsen pada kuartal II/2026 meskipun permintaan di AS lesu. Harga gas alam yang rendah serta tingginya cadangan batu bara diperkirakan akan membatasi produksi batu bara hingga 2027.
"Meskipun harga gas alam diperkirakan akan kembali normal setelah 2027, pasar batu bara AS akan menghadapi tekanan baru akibat ekspansi pembangkit listrik tenaga surya dan angin di wilayah-wilayah yang memiliki kondisi ekonomi serta kebijakan negara bagian yang mendukung," ujarnya.
Proyeksi Indikatif Pasar Energi S&P Global lebih lanjut memperkirakan adanya penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara dan penurunan tingkat pemanfaatannya hingga tahun 2035, saat kapasitas pembangkit batu bara sebesar 44,4 GW diperkirakan akan berhenti beroperasi.
Pangsa pembangkit listrik tenaga batu bara hingga 2035 diperkirakan akan turun menjadi 7,2% dari 16,3% total pembangkitan listrik pada 2027.
Prospek produksi dan permintaan
Selama 4 minggu yang berakhir pada 22 Agustus 2026, pengiriman batu bara rata-rata mencapai 10,2 juta ton, atau 6,4% di bawah angka pada periode yang sama 2025.
Meskipun tren pengiriman Agustus 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, volume pengiriman yang tetap rendah selama musim puncak musim panas menunjukkan dampak dari tingginya tingkat persediaan dan tingkat pemanfaatan pembangkit listrik tenaga batu bara yang moderat.
"Jika sebelumnya kami memproyeksikan pertumbuhan produksi secara keseluruhan pada tahun ini, kini kami memperkirakan produksi sebesar 510 juta ton, turun 3,2% dibandingkan 2025," lanjut S&P.
Mereka memproyeksikan tingkat produksi yang stagnan pada 2027, di mana kenaikan harga gas alam diimbangi oleh tingginya persediaan batu bara.
Mulai 2028, pertumbuhan pembangkitan listrik dari gas alam dan energi hijau diperkirakan akan mengurangi porsi pembangkitan listrik berbasis batu bara.
Pasar batu bara secara keseluruhan, termasuk permintaan domestik dan ekspor, diprediksi akan mengalami penurunan sebesar 122 juta ton antara 2026 dan 2031.
Prospek batu bara global menanjak
Di sisi lain, laporan Coal Mid-Year Update 2026 oleh International Energy Agency (IEA) menyatakan bahwa kemacetan kargo minyak dan gas yang terjadi di Selat Hormuz akan menyebabkan permintaan batu bara kembali naik ke posisi rekor pada 2026.
Permintaan batu bara global diperkirakan akan meningkat sebesar 1,2% pada 2026 menjadi 8,94 miliar ton (Bt), membalikkan perkiraan penurunan sebelumnya. Perubahan ini terutama mencerminkan krisis di Timur Tengah dan pola cuaca El Niño yang sangat kuat.
Menurut laporan tersebut, situasi ini bisa berubah kembali pada 2027, meskipun masih terdapat ketidakpastian yang signifikan mengenai prospeknya.
"Permintaan batu bara global bisa menurun pada 2027. Namun, jika selat tersebut tetap sebagian besar tertutup bagi pengiriman LNG, permintaan batu bara bisa meningkat lebih lanjut," kata IEA.
Amerika Serikat diperkirakan akan mengalami penurunan permintaan batu bara sebesar 7% pada 2026, berbalik dari peningkatan sementara pada 2025. Adapun di Uni Eropa, total permintaan tahunan batu bara kini diperkirakan mencapai 276 juta ton pada 2026.
Permintaan batu bara Cina diperkirakan akan meningkat sebesar 1% pada 2026 menjadi 5 miliar ton (Bt), menyusul revisi naik atas perkiraan sebelumnya.
Adapun di Indonesia, konsumen batu bara terbesar di Asean, komoditas ini tetap menjadi tulang punggung sistem kelistrikan, terutama untuk pembangkit listrik mandiri (captive power plants) yang melayani industri padat energi, termasuk produksi nikel, semen, dan—yang kian meningkat—aluminium.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Published at
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at