BISNIS INDONESIA
Published at
Prospek BYAN dan Strategi Bayan Resources Hadapi Era Batu Bara Murah
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) mulai menyiapkan strategi bertahan menghadapi era harga batu bara yang lebih murah. Di tengah proyeksi pelemahan permintaan global dan transisi energi yang terus menekan pasar, emiten milik Low Tuck Kwong itu mengandalkan efisiensi biaya sebagai benteng utama untuk menjaga profitabilitas pada 2026.
Prospek industri yang lebih menantang bahkan datang dari proyeksi internal perseroan sendiri. Bayan memperkirakan pasar batu bara global masih akan melanjutkan tren penurunan sepanjang 2026, didorong oleh melemahnya permintaan dari sejumlah negara konsumen utama, penyesuaian produksi di negara produsen, hingga semakin ketatnya kebijakan lingkungan.
Dalam skenario tersebut, perseroan memperkirakan harga batu bara Newcastle berkalori 6.322 kcal/kg GAR hanya berada di level US$105 per metrik ton (MT), sedangkan indeks ICI4 berkalori 4.200 kcal/kg GAR diproyeksikan sebesar US$50 per MT. Dengan asumsi itu, harga jual rata-rata batu bara Bayan diperkirakan hanya berkisar US$48 hingga US$52 per MT.
Meski memperkirakan harga batu bara akan tetap tertekan, BYAN tidak mengendurkan target operasionalnya. Perseroan menargetkan produksi batu bara sebesar 39 juta hingga 76 juta MT dengan penjualan 40 juta hingga 78 juta MT sepanjang 2026.
Target tersebut diharapkan mampu menopang pendapatan pada kisaran US$1,8 miliar hingga US$3,8 miliar. Namun, tekanan terhadap profitabilitas diperkirakan semakin besar. Bayan membidik EBITDA sebesar US$500 juta hingga US$1 miliar, sementara biaya tunai diperkirakan meningkat menjadi US$36 hingga US$42 per MT.
Kenaikan biaya tersebut terutama dipengaruhi target rasio pengupasan tanah atau stripping ratio yang meningkat menjadi 4,8 hingga 5,2 kali. Rasio tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya sehingga biaya produksi diperkirakan ikut meningkat.
Namun, di tengah kondisi tersebut, perseroan tetap melanjutkan investasi. BYAN mengalokasikan belanja modal sebesar US$200 juta hingga US$300 juta sepanjang 2026. Dana tersebut digunakan untuk relokasi camp dan workshop di Tabang, pengadaan alat berat, pembangunan kolam pengendapan baru, peningkatan fasilitas Balikpapan Coal Terminal, pembangunan jalan angkut Muara Pahu, perlindungan tepi sungai, hingga penambahan pemuat tongkang.
Adapun, sepanjang kuartal I/2026, penjualan batu bara Bayan hanya mencapai 16,4 juta ton, lebih rendah dibandingkan dengan target sebesar 17,4 juta ton. Produksi juga hanya mencapai 14,7 juta ton atau di bawah panduan sebesar 16,4 juta ton.
Manajemen menjelaskan bahwa pencapaian tersebut dipengaruhi ketidakpastian proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang menghambat aktivitas operasional pada awal tahun.
Belanja modal pun berjalan lebih lambat dari rencana. Hingga kuartal I/2026, perseroan baru merealisasikan capex sebesar US$41,1 juta. “Realisasi capex lebih rendah daripada panduan karena penundaan jadwal pelaksanaan sejumlah proyek,” tulis manajemen BYAN dalam paparan kepada investor.
Di sisi pemasaran, ekspor masih menjadi penopang utama penjualan perseroan. China menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 37% terhadap total penjualan batu bara perseroan, disusul Indonesia sebesar 21%, Filipina 18%, India 9%, Vietnam 6%, serta sejumlah negara lain seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Bangladesh.
Penyesuaian Produksi Batu Bara
Bagi Bayan, tekanan terhadap industri tidak hanya berasal dari pelemahan harga. Perseroan memperkirakan sebagian besar produsen utama dunia, termasuk Indonesia dan China, akan menyesuaikan tingkat produksinya seiring dengan melambatnya permintaan internasional.
Pada saat yang sama, regulasi lingkungan yang semakin ketat diperkirakan terus membatasi konsumsi batu bara dalam jangka panjang. India menjadi satu-satunya pasar yang diperkirakan masih meningkatkan produksi domestik sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Ukraina diperkirakan tetap memengaruhi pasar batu bara berkalori tinggi melalui gangguan rantai pasok LNG. Namun, faktor yang dinilai paling menentukan tetap berasal dari transisi menuju pembangkit listrik yang lebih bersih.
Perubahan bauran energi tersebut diperkirakan akan terus membentuk pola permintaan batu bara global pada tahun-tahun mendatang.
Di tengah prospek industri yang lebih berat, analis KB Valbury Sekuritas Adolf R. B. Setiadi menilai BYAN masih berada dalam posisi yang relatif lebih baik dibandingkan dengan sebagian besar produsen batu bara nasional.
Menurut dia, keunggulan perseroan tidak hanya berasal dari besarnya volume produksi, tetapi terutama dari struktur biaya yang sangat kompetitif.
Berbeda dengan mayoritas perusahaan batu bara Indonesia yang masih bergantung pada pihak ketiga untuk pengangkutan maupun pelabuhan, Bayan mengendalikan hampir seluruh rantai logistiknya sendiri.
Perseroan memiliki jalan angkut internal, fasilitas pemuatan tongkang, tiga unit Kalimantan Floating Transfer (KFT), hingga Balikpapan Coal Terminal (BCT). Integrasi tersebut membuat biaya operasional BYAN menjadi salah satu yang terendah di industri.
Sepanjang 2025, biaya tunai perseroan tercatat hanya sebesar US$32,5 per MT, jauh di bawah panduan perusahaan sebesar US$39,1 per MT. Efisiensi tersebut juga ditopang stripping ratio sebesar 3,9 kali, lebih rendah dibandingkan dengan target 4,5 kali.
“Angka tersebut juga menjadi salah satu yang terendah di industri batu bara Indonesia, dibandingkan dengan GEMS sebesar 5,4 kali, BUMI 6 kali, PTBA 6,1 kali, dan ITMG 9,4 kali,” tulis Adolf dalam risetnya.
Bayan Resources Tbk. - TradingView
Efisiensi tersebut berujung pada kemampuan perseroan mempertahankan profitabilitas tinggi. Sepanjang 2025, margin EBITDA BYAN mencapai 33,9%, sedangkan margin laba bersih sebesar 22,9%. Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di sektor batu bara nasional.
Adolf memperkirakan pasar batu bara termal pada 2026 akan semakin tersegmentasi. India diperkirakan tetap menjadi motor utama permintaan batu bara berkalori rendah asal Indonesia. Permintaan juga diperkirakan datang dari Vietnam dan sejumlah negara berkembang di Asia.
Sementara itu, pembatasan kuota RKAB di Indonesia dinilai membantu mengurangi kelebihan pasokan yang selama beberapa tahun terakhir menekan harga batu bara.
Dalam kondisi pasar seperti itu, produsen yang memiliki biaya produksi rendah, logistik terintegrasi, pelanggan jangka panjang, serta neraca keuangan yang kuat diperkirakan menjadi pihak yang paling mampu mempertahankan kinerja. “BYAN dinilai memenuhi keempat kriteria tersebut,” tulis Adolf.
Meski demikian, prospek tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa industri batu bara sedang memasuki fase baru. Ketika harga komoditas tidak lagi setinggi beberapa tahun terakhir, kemampuan menjaga efisiensi operasional diperkirakan akan menjadi faktor utama yang membedakan emiten yang mampu mempertahankan margin dengan perusahaan yang mulai kehilangan daya saing.
Di luar prospek operasional, saham BYAN juga masih menjadi salah satu emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Sebanyak 98,5% saham perseroan dikuasai oleh kelompok pemegang saham tertentu.
Berdasarkan data RTI Infokom, Low Tuck Kwong menggenggam 40,25% saham BYAN atau sekitar 13,41 miliar saham. Putrinya, Elaine Low, memiliki 22% saham atau sekitar 7,33 miliar lembar, sedangkan Low Yi Ngo menguasai sekitar 0,18%. Sementara itu, kepemilikan publik tercatat sekitar 21,28% atau 7,09 miliar saham.
Di lantai bursa, pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026), saham BYAN berada di level Rp12.000 per saham. Kepemilikan tersebut turut mengantarkan Low Tuck Kwong menjadi orang terkaya di Indonesia dengan estimasi kekayaan mencapai US$16,7 miliar.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at