INVESTOR
Published at
Prospek Batu Bara Membaik di Semester II
JAKARTA, investor.id - Prospek ekspor batu bara Indonesia diperkirakan membaik pada semester II 2026. Sinyal pemulihan permintaan muncul dari sejumlah negara tujuan ekspor mulai dari kawasan Asia Tenggara, China hingga India. Momentum tersebut dinilai menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor sekaligus menjaga kontribusi sektor batu bara terhadap penerimaan negara.
Adapun target produksi batu bara nasional mencapai 600 juta ton pada tahun ini. Volume tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi produksi batu bara tahun lalu yang mencapai 817,48 juta ton. Pemerintah memang melakukan pengendalian produksi batu bara sejak awal tahun guna mengerek harga komoditas. Pada Juli ini, pemerintah kembali membuka revisi Rencana Kerja Anggaran dan Biaya (RKAB).
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengatakan pihaknya memahami langkah pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar dan mengantisipasi potensi kelebihan pasokan (oversupply). Namun dari sisi pelaku usaha, keseimbangan pasokan juga perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan proyeksi kebutuhan, baik untuk domestik maupun ekspor, termasuk antisipasi kebutuhan pada semester kedua yang biasanya memiliki dinamika berbeda.
“Dari sisi pasar, outlook 2026 menunjukkan bahwa permintaan batu bara regional masih memiliki potensi pertumbuhan,” kata Gita kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (13/7/2026).
Gita menerangkan konsumsi batu bara di negara-negara Asean diproyeksikan tumbuh sekitar 5% secara tahunan. Ia menyebut Filipina diperkirakan menjadi salah satu pasar yang menjanjikan seiring bertambahnya kapasitas pembangkit berbahan bakar batu bara. Sementara Vietnam masih membutuhkan tambahan pasokan batu bara impor untuk menopang pertumbuhan kebutuhan listrik.
“Peluang peningkatan ekspor Indonesia terutama ke Filipina seiring adanya tambahan kapasitas PLTU baru, serta Vietnam yang masih menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan listrik domestik,” terangnya.
Potensi pasar utama lainnya, lanjut Gita, China juga mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah tekanan pada awal tahun akibat tingginya stok batu bara dan kuatnya pembangkitan listrik tenaga air. Pasar berikutnya, India diperkirakan kembali meningkatkan konsumsi pada kuartal IV setelah musim hujan berakhir, ketika kebutuhan listrik biasanya meningkat dan operasi pembangkit batu bara kembali optimal.
Dikatakannya, pelaku usaha berharap revisi RKAB juga mengacu pada proyeksi permintaan hingga akhir tahun. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dinilai dapat menjaga stabilitas harga, menjamin pasokan untuk kebutuhan domestik, sekaligus mengoptimalkan peluang ekspor dan penerimaan negara ketika permintaan batu bara Asia kembali menguat.
“Karena itu, dari sisi pelaku usaha, pengelolaan produksi perlu melihat keseimbangan secara menyeluruh, tidak hanya kondisi pasokan saat ini, tetapi juga proyeksi permintaan, faktor cuaca, dan dinamika pasar global. Hal ini penting agar ketersediaan pasokan tetap terjaga dan industri dapat melakukan perencanaan operasional secara optimal,” ujarnya.
Pemerintah menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan stabilitas pasar. Produksi yang terlalu agresif berisiko memicu kelebihan pasokan dan menekan harga batu bara internasional. Sebaliknya, produksi yang terlalu konservatif dapat mengurangi kemampuan Indonesia merespons peningkatan permintaan ketika pasar mulai pulih.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menegaskan bahwa pemerintah berupaya untuk menjaga stabilitas pasokan batu bara. Pemerintah tidak ingin menahan produksi batu bara yang menyebabkan permasalahan pasokan untuk pembangkit, tetapi juga berupaya agar pasokan batu bara di pasar internasional tidak mengalami kelebihan pasokan.
“Untuk mengejar yang itu [kebutuhan dalam negeri], tapi jangan sampai ada oversupply. Itu aja,” ujarnya dikutip dari kantor berita Antara.
Meskipun demikian, Tri mempersilakan kepada para pengusaha tambang yang ingin mengajukan revisi RKAB hingga 31 Juli. “Silakan, silakan masukin [revisi RKAB],” ujarnya.
Adapun realisasi penyerapan DMO untuk pembangkit listrik mencapai 130,5 juta metrik ton hingga Mei 2026. Adapun alokasi kuota DMO tahun ini mencapai 212 juta metrik ton, dengan kebutuhan PLN sekitar 154 juta metrik ton.
Untuk memenuhi kebutuhan batu bara PLN sebesar 154 juta metrik ton pada 2026, Ditjen Minerba telah memberikan penugasan kepada badan usaha pertambangan yang telah memiliki RKAB dengan total volume 212 juta metrik ton. Penugasan tersebut merupakan langkah pemerintah untuk memastikan kecukupan dan keberlanjutan pasokan batu bara bagi PLTU PLN.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at