Kontan

Published at

February 13, 2026 at 12:00 AM

Peta Emiten Batubara Bergeser Seiring Kebijakan Pemangkasan RKAB 2026 & Kenaikan DMO

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah memangkas target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang dibarengi kenaikan porsi Domestic Market Obligation (DMO) menjadi sekitar 30% mulai membentuk ulang lanskap industri batubara.

Kombinasi dua kebijakan ini dinilai membawa implikasi terhadap keseimbangan pasar, harga jual batubara, hingga menyeret pergerakan saham emiten sektor tersebut ke arah baru.

Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai pemangkasan produksi via RKAB yang berjodoh dengan kenaikan DMO berpotensi menyehatkan kembali struktur suplai dan permintaan yang sebelumnya sempat "banjir" pasokan.

"Pemangkasan target produksi batubara nasional di RKAB 2026 bersama rencana peningkatan porsi DMO diproyeksikan akan memperkuat pasokan untuk kebutuhan dalam negeri dan mengurangi kelebihan stok yang sempat menekan harga. Sehingga, keseimbangan antara suplai dan permintaan domestik menjadi lebih sehat," ujarnya kepada

KONTAN, Rabu (11/2).

Abida menggarisbawahi, langkah ini bisa menjadi jangkar stabilitas harga di pasar global.

Pasalnya, volume ekspor menjadi lebih terkendali dan selaras dengan kebutuhan riil.

Dengan kata lain, kebijakan ini tak hanya berdampak domestik, tetapi juga menjadi instrumen strategis Indonesia sebagai eksportir kakap dunia untuk menyetel pasokan.

Sukarno Alatas, Analis Senior Kiwoom Sekuritas Indonesia mengamini pandangan tersebut. Ia menyebut pemangkasan RKAB secara efektif menahan keran suplai nasional, sementara kenaikan DMO memaksa sebagian volume ekspor beralih ke kandang sendiri.

"Dampaknya positif bagi harga batubara global karena pasar ekspor makin ketat, kendati menekan harga domestik," tegasnya.

Pemangkasan Produksi

Dus, kebijakan anyar ini membawa konsekuensi serius terhadap neraca keuangan emiten. Kenaikan porsi DMO—yang notabene mematok harga jual lebih rendah ketimbang pasar ekspor—berpotensi menggerus rata-rata harga jual (average selling price/ASP) secara agregat.

Abida menjelaskan, semakin besar jatah batubara yang disetor ke pasar domestik, semakin kerdil volume yang bisa dilepas ke pasar global dengan harga premium.

"Kenaikan porsi DMO bisa menekan ASP karena batubara yang dialokasikan ke pasar domestik umumnya dijual pada harga yang lebih rendah dibanding pasar ekspor. Ini berpotensi menekan margin laba emiten bila struktur biaya produksi tidak disesuaikan," paparnya.

Sukarno menambahkan, tekanan margin ini bakal memukul keras produsen dengan biaya produksi tinggi yang selama ini bergantung pada pasar ekspor spot. Sebaliknya, emiten dengan struktur biaya efisien masih punya napas panjang. "Emiten low cost relatif lebih defensif berkat margin buffer," katanya.

Dari kacamata kebijakan, para analis sepakat peningkatan DMO bukan sekadar obat sementara. Abida menilai kebijakan ini bersifat struktural dalam jangka menengah demi mengamankan kebutuhan energi nasional, khususnya pasokan untuk setrum PLN dan industri strategis.

Senada, Sukarno menyebut arah kebijakan ini semi-struktural. Meski ada fleksibilitas di lapangan, trennya akan berlanjut sebagai benteng ketahanan energi.

Bagi pelaku pasar modal, perubahan arah angin ini sudah tecermin dalam pergerakan harga saham batubara belakangan ini. Abida menyebut pasar telah "mencium" risiko perubahan struktur penjualan dan tekanan margin, sehingga sebagian dampaknya sudah terdiskonto dalam valuasi saham saat ini.

Sukarno melihat koreksi valuasi tersebut adalah cerminan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap profitabilitas jangka menengah.

Dengan prospek harga yang lebih jinak dan margin yang tak lagi setinggi era boom komoditas, sektor batubara resmi memasuki fase mature.

"Ke depan, sektor batubara lebih cocok sebagai dividend play dan tactical trade," ujar Sukarno.

Strategi investasi pun, lanjutnya, harus lebih selektif. Radar investor mesti diarahkan pada perusahaan dengan biaya produksi rendah, kepastian volume RKAB yang aman, serta neraca keuangan yang kekar.

Secara garis besar, kebijakan DMO dan RKAB ini menggeser narasi sektor batubara, dari yang sebelumnya bertumpu pada volatilitas harga global yang liar, menuju model bisnis yang lebih terkelola dengan stabilitas pasokan domestik sebagai panglima

Bagi investor, ini adalah sinyal transisi dari tema supercycle menuju pendekatan defensif berbasis arus kas dan dividen, yang berarti kualitas fundamental emiten menjadi faktor pembeda utama.

Source:

Liputan 6

Published at

February 13, 2026 at 12:00 AM

2/13/26

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

February 13, 2026 at 12:00 AM

2/13/26

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

February 13, 2026 at 12:00 AM

2/13/26

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

February 13, 2026 at 12:00 AM

2/13/26

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

February 13, 2026 at 12:00 AM

2/13/26

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by