Kompas
Published at
Permintaan Batu Bara Global Naik, Produksi Indonesia Diproyeksi Turun
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar batu bara global kembali menghadapi perubahan arah pada 2026.
Permintaan batu bara diproyeksikan meningkat, didorong oleh gejolak pasar energi akibat konflik di Timur Tengah, sementara produksi Indonesia diperkirakan melanjutkan penurunan setelah pasokan melampaui konsumsi pada tahun sebelumnya.
Laporan International Energy Agency (IEA) bertajuk Coal Mid-Year Update 2026 yang direvisi pada September 2026 memperkirakan permintaan batu bara global tumbuh 1,2 persen pada 2026 menjadi 8,94 miliar ton.
Proyeksi tersebut membalikkan perkiraan sebelumnya yang memprediksi penurunan konsumsi batu bara dunia.
Di tengah perubahan tersebut, Indonesia tetap memiliki posisi penting. Negara ini merupakan konsumen batu bara terbesar di ASEAN, sekaligus salah satu pemasok batu bara utama dunia.
Namun, IEA memperkirakan produksi batu bara Indonesia akan kembali turun pada tahun ini.
Permintaan batu bara global naik
IEA mencatat, konsumsi batu bara global pada 2025 mencapai rekor baru sebesar 8,84 miliar ton, naik 0,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi meskipun konsumsi batu bara di sejumlah negara besar mengalami penurunan.
China dan India, misalnya, mencatat penurunan pembangkitan listrik berbasis batu bara untuk pertama kalinya dalam 50 tahun.
Di China, konsumsi batu bara pada 2025 relatif tidak berubah, yakni sekitar 4,956 miliar ton. Sementara itu, konsumsi batu bara India turun 1 persen menjadi 1,299 miliar ton.
IEA menjelaskan, penurunan pembangkitan listrik dari batu bara di kedua negara tersebut dipengaruhi oleh perkembangan energi terbarukan di China dan kondisi cuaca di India.
"Permintaan batu bara global mencapai rekor baru pada tahun 2025," tulis IEA dalam laporan tersebut, dikutip pada Kamis (17/9/2026).
Artinya, penurunan konsumsi di sejumlah pasar utama belum cukup untuk mengimbangi pertumbuhan di negara lain.
Di Amerika Serikat (AS), konsumsi batu bara meningkat lebih dari 9,5 persen menjadi 410 juta ton pada 2025.
Kenaikan tersebut didorong oleh permintaan listrik yang kuat, harga gas alam yang lebih tinggi, serta dukungan kebijakan terhadap pembangkit listrik batu bara.
IEA juga mencatat pertumbuhan konsumsi batu bara dari sektor industri, termasuk produksi nikel di Indonesia dan industri batu bara menjadi bahan kimia di China.
Konflik Timur Tengah mengubah proyeksi
Perubahan proyeksi permintaan batu bara 2026 tidak terlepas dari konflik di Timur Tengah.
IEA menyebut, gangguan pengiriman gas alam cair atau LNG melalui Selat Hormuz tidak secara langsung mengganggu pasokan batu bara global.
Akan tetapi, gangguan tersebut mendorong kenaikan harga gas alam yang kemudian memengaruhi pasar batu bara.
Dalam sejumlah sistem kelistrikan, batu bara menjadi alternatif utama gas alam untuk pembangkitan listrik. Ketika harga gas meningkat, pembangkit listrik berbasis batu bara menjadi lebih kompetitif.
"Meskipun gangguan pada pelayaran melalui Selat Hormuz tidak berdampak langsung terhadap pasokan batu bara, pasar batu bara turut merasakan dampak lanjutan dari krisis tersebut," ungkap IEA.
Lembaga tersebut menjelaskan, kenaikan harga gas alam mendorong peralihan dari pembangkit listrik berbasis gas ke batu bara di sejumlah negara yang memiliki pembangkit gas dan kapasitas batu bara yang tersedia.
Dampak tersebut terlihat di China, Korea Selatan, Jepang, Eropa, dan sejumlah pasar lainnya. Beberapa kebijakan regulator juga memperkuat pergeseran penggunaan batu bara.
Selain konflik Timur Tengah, faktor cuaca turut memengaruhi proyeksi permintaan batu bara. Fenomena El Nino yang kuat pada 2026 diperkirakan meningkatkan kebutuhan pendinginan dan mengurangi produksi listrik tenaga air di sejumlah negara Asia, termasuk India dan Vietnam.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan penggunaan batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik.
Indonesia jadi konsumen batu bara terbesar ASEAN
Di kawasan ASEAN, permintaan batu bara diproyeksikan terus tumbuh pada 2026 menjadi sekitar 574 juta ton.
IEA menyebut, pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh sektor ketenagalistrikan di Indonesia dan Vietnam.
Indonesia merupakan konsumen batu bara terbesar di ASEAN. Batu bara masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional, terutama untuk pembangkit listrik captive yang melayani industri padat energi.
"Batu bara tetap menjadi tulang punggung sistem kelistrikan, khususnya bagi pembangkit listrik captive yang melayani industri padat energi, termasuk industri nikel, semen, dan, yang kian meningkat, produksi aluminium," terang IEA.
Pembangkit listrik captive adalah pembangkit yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik suatu industri atau kawasan tertentu, bukan terutama untuk memasok listrik ke jaringan umum.
Dalam laporan tersebut, IEA menyoroti peran pembangkit captive dalam melayani industri nikel, semen, dan produksi aluminium yang semakin berkembang di Indonesia.
Pertumbuhan industri padat energi tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang permintaan batu bara domestik.
Di sisi lain, permintaan batu bara Indonesia juga berkaitan dengan perkembangan pasar listrik. IEA memperkirakan pertumbuhan konsumsi batu bara ASEAN pada 2026 terutama berasal dari sektor pembangkitan listrik.
Produksi batu bara Indonesia diproyeksikan turun
Meskipun permintaan batu bara global diproyeksikan meningkat, IEA memperkirakan produksi batu bara Indonesia akan melanjutkan penurunan pada 2026.
IEA menyebut, produksi Indonesia diperkirakan turun setelah pasokan batu bara melampaui konsumsi pada 2025 dan harga batu bara mengalami pelemahan.
"Produksi Indonesia diperkirakan akan terus menurun tahun ini setelah pasokan melampaui konsumsi pada tahun 2025 dan harga mengalami penurunan," tulis IEA.
Namun, IEA menaikkan sedikit proyeksi produksi Indonesia dibandingkan laporan Desember 2025. Penyesuaian tersebut dilakukan karena permintaan ekspor batu bara Indonesia diperkirakan lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
Dengan demikian, meskipun produksi Indonesia diproyeksikan menurun, permintaan dari pasar ekspor masih menjadi faktor yang memengaruhi prospek produksi nasional.
IEA juga mencatat bahwa target produksi Indonesia yang lebih rendah telah menimbulkan ketidakpastian di pasar batu bara termal global.
Batu bara termal merupakan batu bara yang terutama digunakan untuk pembangkitan listrik.
Dalam laporan tersebut, IEA menyebut Australia berada dalam posisi yang baik untuk mengisi potensi kekurangan pasokan batu bara termal di pasar internasional.
Kondisi pasokan yang lebih ketat juga dapat memberikan sedikit ruang bagi eksportir batu bara yang menghadapi tekanan keuangan, termasuk Rusia.
Harga batu bara pulih, tetapi masih di bawah krisis energi
Perubahan permintaan dan pasokan turut memengaruhi harga batu bara global.
IEA mencatat, harga batu bara termal Newcastle free-on-board (FOB) mencapai 115 dollar AS per ton pada Februari 2026, naik 7 persen dari level Desember 2025.
Harga tersebut kemudian meningkat menjadi rata-rata 139 dollar AS per ton pada Juni 2026. Pada Agustus 2026, harga turun sedikit menjadi 131 dollar AS per ton.
Kenaikan harga batu bara pada paruh pertama 2026 dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kenaikan harga gas alam akibat konflik Timur Tengah.
Harga gas yang lebih tinggi membuat batu bara menjadi lebih kompetitif untuk pembangkitan listrik. Selain itu, pembatasan ekspor dan ketidakpastian regulasi di Indonesia turut memberikan tekanan terhadap harga, khususnya batu bara berkalori rendah.
IEA juga mencatat kecelakaan tambang batu bara di China pada Mei 2026 yang diikuti inspeksi keselamatan meningkatkan tekanan terhadap pasokan, terutama batu bara kokas.
Meskipun harga batu bara meningkat dari level rendah pada akhir 2025, IEA menilai pemulihan tersebut belum kembali ke kondisi krisis energi 2022.
Harga batu bara termal Newcastle pada Juni 2026 masih jauh di bawah level lebih dari 400 dollar AS per ton yang tercatat selama krisis energi 2022.
Prospek 2027 masih bergantung pada gas
IEA memperkirakan arah permintaan batu bara pada 2027 masih bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan pemulihan aliran LNG melalui Selat Hormuz.
Jika aliran LNG berangsur pulih menuju level sebelum perang dan harga gas alam turun di bawah level 2026, permintaan batu bara global diproyeksikan turun 0,4 persen menjadi 8,91 miliar ton.
Penurunan tersebut diperkirakan terjadi karena peralihan dari gas ke batu bara di sejumlah pasar listrik mulai mereda.
Pertumbuhan pembangkit listrik energi terbarukan dan LNG yang lebih murah juga dapat kembali menekan penggunaan batu bara.
Namun, IEA menyebut jika pengiriman LNG melalui Selat Hormuz tetap terbatas, permintaan batu bara global berpotensi meningkat lebih lanjut.
Dalam konteks Indonesia, IEA memperkirakan permintaan batu bara ASEAN tetap tumbuh pada 2026, terutama didorong oleh sektor ketenagalistrikan di Indonesia dan Vietnam.
Indonesia juga disebut sebagai konsumen batu bara terbesar di kawasan, dengan penggunaan batu bara yang masih menopang pembangkit listrik captive untuk industri padat energi seperti nikel, semen, dan aluminium.
Sementara itu, produksi batu bara Indonesia diproyeksikan melanjutkan penurunan pada 2026 setelah pasokan melampaui konsumsi pada 2025 dan harga melemah.
Permintaan ekspor yang lebih kuat dari perkiraan membuat IEA sedikit menaikkan proyeksi produksi Indonesia dibandingkan laporan sebelumnya.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Published at
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at