Banyumas Ekspres
Published at
December 1, 2025 at 12:00 AM
Permintaan Batu Bara Global Diprediksi Naik, Indonesia Siap Perkuat Ekspor 2026
BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Memasuki kuartal keempat tahun 2025 hingga 2026, proyeksi permintaan batu bara global menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.
Fenomena ini terutama didorong oleh kebutuhan energi yang meningkat untuk menghadapi musim dingin di negara-negara subtropis serta kebangkitan aktivitas industri pasca-pandemi.
Secara historis, semester kedua dalam setahun memang kerap menjadi momen bagi penguatan harga batu bara.
Ini disebabkan oleh lonjakan impor dari negara-negara di kawasan Asia Timur dan Asia Selatan.
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan cadangan batu bara terbesar di dunia, berada dalam posisi strategis untuk memenuhi peningkatan permintaan tersebut.
Sumatra Selatan, yang menyimpan cadangan terbesar kedua secara nasional, dianggap sebagai wilayah kunci dalam menjaga stabilitas pasokan batu bara global.
Dalam rangka mengantisipasi peningkatan permintaan, pemerintah pusat bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi dan operator logistik tengah menyiapkan ekspansi besar-besaran.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA), misalnya, menargetkan peningkatan produksi batu bara hingga mencapai 100 juta ton pada tahun 2030, naik dari 42 juta ton pada tahun 2024.
Untuk mendukung pergerakan komoditas tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana menambah kapasitas angkut hingga 28 juta ton per tahun yang akan mulai beroperasi pada awal 2026.
Tak hanya itu, KAI juga telah memulai pembangunan jalur rel rangkap tiga atau triple track guna mencapai kapasitas angkut sebesar 165 juta ton per tahun pada tahun 2029.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan yang melarang penggunaan jalan umum untuk truk pengangkut batu bara demi mengurangi kemacetan lalu lintas dan menjaga kondisi jalan.
Peningkatan produksi ini tentunya memerlukan dukungan logistik yang lebih efisien dan terintegrasi.
Salah satu perusahaan yang turut ambil bagian dalam upaya ini adalah RMK Energy (RMKE).
Mereka memperluas jaringan infrastruktur mulai dari pembangunan jalan hauling khusus batu bara hingga stasiun muat-bongkar kereta yang terhubung ke pelabuhan di Sumatra Selatan.
Jalan khusus angkutan batu bara sepanjang 38 kilometer telah rampung dan kini menghubungkan perusahaan dengan dua tambang baru milik Wiraduta Sejahtera Langgeng (WSL) dan Duta Bara Utama (DBU).
Selain itu, jalan ini juga akan terintegrasi dengan sejumlah tambang potensial lainnya termasuk milik PTBA.
Dalam riset terbaru NH Korindo mencatat bahwa RMKE mengalami tekanan kinerja selama sembilan bulan pertama tahun 2025 dengan penurunan pendapatan dan laba.
Namun demikian segmen jasa batu baranya justru menunjukkan kontribusi yang meningkat signifikan.
Dengan selesainya pembangunan jalan hauling serta ekspansi kapasitas angkut KAI dan peningkatan produksi PTBA ditambah proyeksi lonjakan permintaan global RMKE dipandang memasuki fase pertumbuhan lebih kuat mulai tahun 2026.
Axell Ebhenhaezer analis dari NH Korindo menyatakan bahwa momentum pertumbuhan industri batu bara pada periode 2025-2026 sangat didukung oleh kombinasi antara tingginya permintaan global dan percepatan pembangunan infrastruktur logistik nasional.
“Fase pertumbuhan industri terlihat semakin solid seiring kesiapan suplai dari Sumatra Selatan serta dukungan infrastruktur terintegrasi,” ungkapnya kepada awak media.
Melihat perkembangan ini jelas bahwa Indonesia tidak hanya siap untuk memenuhi kebutuhan energi domestik tetapi juga memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan global akan batu bara.
Dengan kesiapan infrastruktur dan strategi ekspansi yang matang Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam industri ini.
Di sisi lain tantangan tetap ada termasuk dampak lingkungan dari operasi penambangan serta fluktuasi harga komoditas di pasar internasional.
Namun dengan langkah-langkah tepat masalah-masalah ini dapat dikelola secara efektif sehingga mendukung pertumbuhan industri secara berkelanjutan.
Dengan demikian berbagai upaya kolaboratif antara pemerintah BUMN dan sektor swasta menjadi kunci untuk memastikan Indonesia tetap menjadi kontributor utama dalam rantai pasokan energi dunia khususnya di sektor batu bara.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at