BISNIS INDONESIA

Published at

Periode Menantang Industri Batu Bara: Harga Melemah, Ruang Ekspor Menyempit

Bisnis.com, JAKARTA — Semester I/2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi industri batu bara nasional. Setelah menikmati lonjakan produksi dan harga dalam beberapa tahun terakhir, pelaku usaha kini dihadapkan pada kombinasi tekanan berupa penyesuaian kebijakan produksi domestik hingga perubahan pola permintaan global.

Di tengah dinamika tersebut, pemerintah mulai memberi sinyal fleksibilitas produksi untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar ekspor dan pasokan dalam negeri.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengungkapkan, kapasitas produksi batu bara yang telah mendapatkan persetujuan dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 telah mendekati 600 juta ton hingga Juni 2026.

"600 juta ton something-lah. Lebih sedikit," ujarnya ditemui Kantor Kementerian ESDM, Senin (22/6/2026).

Jumlah tersebut sejatinya telah mendekati target produksi yang semula dipatok pemerintah sebesar 600 juta ton sepanjang tahun ini. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pemerintah kini memilih pendekatan yang lebih fleksibel dengan menyesuaikan produksi terhadap kondisi pasar.

Artinya, ketika harga batu bara global menguat dan permintaan meningkat, pemerintah membuka ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi. Sebaliknya, ketika harga melemah, produksi dapat dikendalikan untuk menjaga keseimbangan pasar.

Industri Masuk Fase Penyesuaian

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani menilai paruh pertama tahun ini merupakan fase penyesuaian bagi industri batu bara nasional.

Menurutnya, kondisi pasar global saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu ketika permintaan masih sangat agresif dan harga berada di level tinggi.

"Semester I/2026 ini, kalau saya lihat sebagai periode penyesuaian bagi industri batu bara nasional. Dinamikanya memang cukup kompleks," ujarnya kepada Bisnis.

Di satu sisi, sejumlah negara konsumen utama mulai lebih selektif dalam melakukan pembelian. Pasokan global juga semakin kompetitif sehingga menekan ruang gerak eksportir.

Meski demikian, Gita menilai prospek permintaan batu bara dunia masih relatif terjaga. Cina dan India tetap menjadi pasar utama, sementara sejumlah negara Asia lainnya masih membutuhkan batu bara untuk menopang pertumbuhan industri dan ketahanan energi.

Hanya saja, pola pembelian kini berubah. Importir semakin memperhatikan faktor harga, kualitas produk, kepastian pasokan, hingga fleksibilitas kontrak.

Perubahan perilaku pasar tersebut memaksa perusahaan tambang untuk tidak lagi hanya mengandalkan volume produksi, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan keandalan rantai pasok.

"Kalau melihat kebutuhan dunia, kami melihat permintaan batu bara masih prospek. Hanya saja, polanya berubah," ujar Gita.

Strategi Bertahan di Tengah Tekanan

Di tingkat korporasi, pelaku usaha mulai menggeser fokus dari sekadar mengejar volume produksi menuju penguatan daya tahan bisnis.

Corporate Secretary Division Head PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Eko Prayitno menilai bahwa industri batu bara saat ini bukan sedang menuju akhir siklus, melainkan memasuki fase transformasi.

Dia mengatakan, batu bara masih menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional, terutama untuk sektor pembangkitan listrik. Namun, daya saing perusahaan kini semakin ditentukan oleh efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, hilirisasi, dan diversifikasi bisnis.

PTBA mencermati bahwa permintaan global cenderung lebih moderat, terutama dari Cina dan India yang didukung tingginya persediaan domestik serta peningkatan pemanfaatan energi terbarukan.

Pada saat yang sama, faktor geopolitik dan gangguan pasokan global masih berpotensi menopang harga batu bara internasional. Oleh karena itu, perusahaan tidak lagi bisa hanya mengandalkan siklus harga komoditas untuk menjaga kinerja.

"Bagi PTBA, kondisi ini menunjukkan bahwa industri batu bara tidak lagi hanya bergantung pada siklus harga komoditas, tetapi memasuki era yang menuntut efisiensi, ketahanan operasional, dan diversifikasi bisnis sebagai faktor utama penentu daya saing," kata Eko.

Lebih lanjut, PTBA memproyeksi sektor batu bara sepanjang tahun ini masih akan memegang peranan penting dalam bauran energi khususnya di kawasan Asia. Pasalnya, kebutuhan pembangkit listrik dan sektor industri dasar masih cukup tinggi.

Namun, volatilitas harga diperkirakan akan tetap terjadi seiring perkembangan ekonomi global, kebijakan energi masing-masing negara, serta dinamika geopolitik internasional.

Dia menilai kondisi pasar saat ini memberikan tekanan tersendiri bagi pelaku usaha batu bara. Ketika harga global mengalami koreksi, dampak yang paling langsung dirasakan adalah penurunan pendapatan dan margin usaha, terutama bagi perusahaan yang memiliki struktur biaya produksi relatif tinggi.

Dalam situasi seperti ini, perusahaan dituntut untuk semakin fokus pada efisiensi operasional, pengendalian biaya, serta peningkatan produktivitas di seluruh rantai bisnis. Selain itu, kemampuan menjaga keandalan pasokan, memperluas pasar, dan mengelola risiko menjadi faktor yang sangat menentukan daya tahan perusahaan.

"Namun demikian, kami melihat bahwa fundamental industri batu bara Indonesia masih cukup kuat. Permintaan domestik tetap terjaga, terutama untuk kebutuhan pembangkit listrik dan sektor industri," imbuh Eko.

Indonesia, kata dia, masih memiliki posisi strategis sebagai salah satu produsen dan eksportir batu bara utama dunia. Sementara itu, bagi PTBA, kondisi ini menjadi pengingat penting untuk terus menjalankan bisnis secara disiplin, efisien dan berkelanjutan.

"Kami tidak hanya berfokus pada pencapaian jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi bisnis melalui efisiensi, hilirisasi, diversifikasi usaha, serta pengembangan peluang di sektor energi yang dapat menciptakan nilai tambah dalam jangka panjang," ucap Eko.

Harga Batu Bara Kehilangan Momentum

Tekanan terhadap industri juga datang dari sisi harga. Ketua Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo mengatakan, pasar batu bara global kembali mengalami pelemahan setelah sempat bertahan pada awal tahun.

Menurutnya, banyak importir memilih menunggu stabilitas harga sebelum melakukan pembelian dalam jumlah besar. Respons pasar pada kuartal/II 2026 bahkan diperkirakan tidak sekuat periode sebelumnya.

Singgih berpendapat, salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan permintaan adalah kondisi cuaca di Cina Selatan yang tengah memasuki musim hujan. Situasi tersebut mengurangi konsumsi listrik dan pada akhirnya menekan kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

"Sementara itu, para pelaku pasar atau importir juga tetap mencermati ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, seraya mengantisipasi potensi penurunan harga," kata Singgih.

Di sisi lain, sejumlah produsen batu bara Indonesia juga menghadapi keterlambatan pasokan ke pasar akibat menunggu pembaruan kuota produksi RKAB.

Kendati demikian, Singgih menilai prospek industri hingga akhir tahun masih relatif positif. Harga ekspor masih berada pada level yang memberikan keuntungan bagi sebagian besar penambang, sementara permintaan dari negara-negara Asia diperkirakan tetap menjadi penopang pasar.

Dia pun mengingatkan agar pemerintah memastikan RKAB 2026 sesuai dengan potensi kebutuhan pasar global.

"RKAB dan revisinya di Juli 2026 harus benar-benar memperhatikan potensi volume di pasar global dan khususnya juga kebutuhan domestik," kata Singgih.

Dampak RKAB terhadap Pasokan Domestik

Evaluasi kinerja semester pertama juga tidak dapat dilepaskan dari implementasi kebijakan RKAB tahunan yang mulai berlaku pada 2026.

Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan, sejak awal pihaknya telah memperkirakan munculnya kendala akibat perubahan mekanisme persetujuan RKAB tersebut.

Dia menilai hingga kuartal I/2026, masih banyak RKAB perusahaan yang belum mendapatkan pengesahan. Kondisi tersebut membuat pasokan batu bara, khususnya untuk kebutuhan domestik, sempat terganggu.

"Sampai dengan kuartal I/2026 masih banyak RKAB yang belum disahkan, kecuali PKB2B/IUPK peralihan dan BUMN," kata Rizal.

Akibatnya, persediaan batu bara pada sejumlah pembangkit PLN dilaporkan menurun hingga berada di bawah batas ideal. Persoalan semakin kompleks karena tidak semua tambang menghasilkan kualitas batu bara yang sesuai dengan kebutuhan PLTU PLN, yakni pada rentang kalori 3.800 hingga 4.200 kkal per kilogram.

Padahal, kebutuhan batu bara PLN pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 154 juta ton. Sementara total kebutuhan dalam negeri secara keseluruhan diperkirakan menembus 230 juta ton.

Rizal memperkirakan terjadi potensi kekurangan pasokan sekitar 20 juta ton untuk segmen batu bara yang sesuai spesifikasi pembangkit.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap menurunnya stok batu bara di sejumlah pembangkit pada semester pertama, meskipun gangguan pasokan listrik yang terjadi belakangan juga dipengaruhi oleh adanya dua PLTU besar yang sedang menjalani perawatan.

"Jangan sampai PLN mengalami kekurangan pasokan bahan bakar dari batubara sehingga terjadi black out di mana-mana yang akhirnya akan menyebabkan terjadinya protes kepada pemerintah," kata Rizal mengingatkan.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by