Bloomberg Technoz
Published at
February 24, 2026 at 12:00 AM
Penambang Batu Bara: Impor Kokas dari AS Jangan Sampai Jadi Candu
Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) mengingatkan agar kewajiban Indonesia meningkatkan impor batu bara metalurgi atau kokas dari Amerika Serikat (AS) tidak sampai berujung menjadi ketergantungan dalam jangka panjang.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengatakan hal ini akan turut berpotensi menggerus serapan produk batu bara domestik yang masih dapat digunakan.
"Kebijakan impor juga sebaiknya tidak menciptakan keterantungan jangka panjang yang sepenuhnya menggantikan peran produk domestik yang masih dapat digunakan dalam skema teknis tertentu." ujarnya saat dihubungi, dikutip Senin (23/2/2026).
Hanya saja, Gita tidak menampik Indonesia memang masih membutuhkan jenis batu bara metalurgi dengan spesifikasi premium tertentu, yang belum mampu dipenuhi oleh produksi domestik.
Permintaan untuk impor batu bara kokas tersebut menjadi salah satu bagian dari kesepakatan perundingan tarif resiprokal dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang telah diteken Pemerintah RI pekan lalu di sela kunjungan rombongan Presiden Prabowo Subianto ke Washington D.C.
Dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dilansir Gedung Putih terungkap bahwa Indonesia harus memfasilitasi dan mendorong peningkatan impor batu bara kokas dari AS. Namun, besaran volume maupun nilainya masih belum diperinci.
AS hanya menyebut bahwa langkah itu dilakukan guna mendukung "produksi baja, industrialisasi lokal, dan keandalan serta keamanan energi, serta mengurangi ketergantungan pada impor dari pihak yang memanipulasi pasar,” tulisnya dalam dokumen tersebut.
Selain menaikkan impor batu bara kokas, Indonesia juga diminta meningkatkan penggunaan teknologi batu bara AS.
Nantinya, Indonesia akan bermitra dalam mempercepat pengembangan, penerapan, hingga komersialisasi teknologi.
Indonesia sendiri merupakan produsen terbesar kedua batu bara jenis termal yang lebih banyak digunakan pembangkit listrik.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton, anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sejumlah 836 juta ton.
Sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, yaitu sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi. Sementara itu, realisasi penyaluran batu bara untuk pasar domestik mencapai 254 juta ton atau 32%.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor batu bara terkoreksi 3,66% ke level 390,93 juta ton sepanjang Januari—Desember 2025, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 405,76 juta ton.
Berdasarkan nilainya, kinerja ekspor batu bara sepanjang 2025 turun 19,7% ke level US$24,48 miliar atau sekitar Rp411,14 triliun (asumsi kurs Rp16.795 per dolar AS).
Torehan kinerja ekspor batu bara tahun lalu terpaut lebar dari capaian sepanjang 2024 di level US$30,49 miliar atau sekitar Rp512,07 triliun.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at