DETIK
Published at
January 29, 2026 at 12:00 AM
Outlook Batubara Indonesia 2026 di Tengah Perubahan Global
Jakarta - Di tengah gejolak geopolitik global, energi dan mineral kritis saat ini tidak lagi hanya sekadar komoditas ekonomi. Dua-duanya sudah bertransformasi menjadi instrumen kekuatan geopolitik. Jika dahulu pengaruh negara ditentukan oleh cadangan devisa dan kebijakan suku bunga, hari ini kendali atas energi dan mineral kritis menjadi penentu posisi tawar global. Sehingga perubahan dalam sektor energi global tersebut memaksa banyak negara meninjau ulang kebijakan dasarnya.
Transisi menuju energi bersih terus berjalan, tetapi pada saat yang sama kebutuhan energi dunia masih sangat besar dan belum seluruhnya dapat dipenuhi oleh sumber terbarukan. Dalam situasi seperti ini, batubara masih digunakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia, dengan segala keterbatasan dan risikonya.
Sepanjang tahun 2024, konsumsi batubara dunia meningkat, terutama di kawasan Asia. Tiongkok dan India tetap menjadi konsumen utama. Proyeksi International Energy Agency menunjukkan permintaan batubara global hingga 2027 relatif tidak banyak berubah, meskipun Amerika Serikat dan negara-negara Eropa mulai mengurangi penggunaannya. Gambaran ini penting dibaca apa adanya, tanpa romantisme maupun penolakan berlebihan.
Bagi Indonesia, perubahan ini langsung tercermin pada kinerja sektor batubara. Pada tahun 2025, produksi batubara nasional tercatat sekitar 817,4 juta ton, turun 2,3 persen YoY jika dibandingkan tahun 2024 sebesar 836 juta ton. Penurunan ini sering dipersepsikan sebagai pelemahan. Namun dalam kebijakan pemerintah, angka tersebut merupakan hasil dari penyesuaian produksi agar tidak lagi hanya mengikuti dorongan pasar, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri dan keberlanjutan cadangan.
Kebutuhan batubara domestik saat ini menjadi perhatian utama. Sepanjang tahun 2025, realisasi penjualan batubara untuk pasar dalam negeri mencapai 246,8 juta ton, meningkat sekitar 6 persen dibanding tahun sebelumnya. Batubara ini digunakan terutama untuk pembangkit listrik, penyediaan energi, industri pupuk dan semen, serta industri strategis nasional. Dalam kondisi global yang tidak pasti, menjaga pasokan energi bagi masyarakat menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
Sementara itu, tekanan dari pasar ekspor semakin terasa. Sepanjang tahun 2025, ekspor batubara Indonesia ke Tiongkok turun sekitar 26 juta ton. India juga mengurangi impor dari Indonesia sekitar 11 persen sehingga volumenya turun menjadi sekitar 100,65 juta ton. Penurunan dari dua pasar utama ini tidak mudah digantikan oleh negara lain di kawasan Asia Selatan atau Asia Tenggara.
Persaingan global juga semakin ketat. Batubara Rusia yang sebelumnya masuk ke pasar Eropa kini banyak dialihkan ke Asia. Pada saat yang sama, Tiongkok dan India terus meningkatkan produksi batubara domestik mereka. Kombinasi ini membuat pasar ekspor semakin padat dan harga semakin sensitif terhadap perubahan pasokan.
Di dalam negeri, persoalan lain yang perlu dicermati adalah struktur cadangan. Indonesia memiliki cadangan batubara terverifikasi sekitar 29 miliar ton, namun sebagian besar merupakan batubara berkalori rendah.
Data penjualan periode 2022 hingga Oktober 2025 menunjukkan bahwa lebih dari separuh batubara yang diperdagangkan berasal dari kelompok ini, disusul batubara kalori menengah dan kalori tinggi. Yang menjadi perhatian, laju penjualan batubara kalori menengah jauh lebih cepat dibanding ketersediaan cadangannya.
Tanpa pengaturan yang lebih hati-hati, pola ini berpotensi mempercepat pengurasan jenis batubara yang memiliki nilai strategis lebih tinggi. Di titik inilah peran negara diperlukan, bukan untuk menghambat kegiatan usaha, tetapi untuk memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya ini tetap memberi manfaat jangka panjang.
Dari sisi harga, tahun 2025 menjadi tahun dengan koreksi yang cukup besar. Harga batubara acuan mengalami penurunan, dan tahun 2026 diperkirakan bergerak relatif stabil, dengan tetap dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan keseimbangan pasokan global. Dalam situasi target penerimaan negara yang meningkat, produksi yang terlalu agresif justru berisiko menekan harga dan mengurangi kontribusi sektor ini.
Karena itu, pengelolaan batubara ke depan perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih terukur. Batubara tidak lagi diperlakukan semata sebagai komoditas ekspor, tetapi sebagai sumber daya yang penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan nasional, kondisi pasar, dan keberlanjutan cadangan bahkan dengan kebijakan pembatasan tingkat produksi.
Tahun 2026 menjadi fase penting untuk menegaskan pendekatan tersebut di tengah perubahan global yang terus berlangsung.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at