Bisnis Indonesia
Published at
March 11, 2026 at 12:00 AM
Mulai Tinggalkan Batu Bara, Kontribusi Bisnis Pengelolaan Limbah TBS Energi (TOBA) Melesat
Bisnis.com, JAKARTA — Kontribusi segmen pengelolaan limbah (waste management) PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) melesat sepanjang 2025, seiring dengan langkah perusahaan untuk mengurangi eksposur bisnis batu bara.
Berdasarkan Laporan Keuangan 2025, TOBA membukukan pendapatan sebesar US$380,22 juta atau setara Rp6,35 triliun. Pendapatan ini turun 14,7% dibandingkan 2024 yang mencapai US$445,6 juta.
Kontribusi pendapatan dari segmen pengelolaan limbah mencapai US$155,4 juta pada 2025. Angka yang tumbuh dari hanya US$13,22 juta pada 2024 itu kini menyumbang 41% dari total pendapatan Perseroan.
Manajemen TOBA dalam keterangan resminya menuturkan bahwa dengan komposisi bisnis yang makin terdiversifikasi, eksposur terhadap volatilitas harga batu bara global pun berkurang. Hal ini sejalan dengan arah transformasi perseroan.
Segmen batu bara sendiri masih menjadi kontributor terbesar bagi pemasukan TOBA pada 2025, dengan nilai US$194,6 juta atau setara 51% dari total pendapatan. Namun kontribusi ini turun drastis dari 81% pada periode 12 bulan tahun sebelumnya.
Menurut manajemen TOBA, penurunan proporsi ini mencerminkan arah strategis TBS untuk secara bertahap menurunkan eksposur terhadap batu bara sekaligus mempercepat pergeseran menuju portofolio yang lebih berkelanjutan.
Adapun TOBA membukukan rugi bersih sebesar US$162,26 juta atau setara Rp2,7 triliun (kurs Jisdor 31 Desember 2025 Rp16.720 per dolar AS). Kerugian ini disebabkan oleh merosotnya harga batu bara dunia di sepanjang 2025 dan kerugian nonkas dan tidak berulang yang berasal dari dampak divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar US$97 juta.
TBS memandang bahwa realisasi rugi akuntansi di tahap ini merupakan bagian dari proses transisi satu kali yang diperlukan untuk membuka potensi arus kas jangka panjang yang lebih berkualitas serta aset yang dapat menghasilkan pendapatan yang lebih berkelanjutan.
Direktur TBS Juli Oktarina mengatakan 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi TBS. Tahun lalu menjadi periode strategic repositioning Perseroan ke segmen bisnis yang lebih bersih dan berkelanjutan.
"Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, untuk mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan TOBA, yaitu pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik, yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara,” kata Juli dalam keterangan resminya, Senin (9/3/2026).
TOBA juga mencatatkan EBITDA Disesuaikan (adjusted EBITDA) positif sebesar US$47,2 juta, dengan saldo kas pada level US$102,3 juta atau meningkat 15% dibandingkan dengan level 2024.
Manajemen menuturkan tonggak strategis TOBA lainnya pada 2025 adalah penyelesaian akuisisi Sembcorp Environment, yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment. Menurut manajemen, akuisisi ini secara instan memperkuat posisi TBS sebagai salah satu pemimpin pangsa pasar dalam pengelolaan limbah di Singapura, sekaligus meningkatkan kapasitas aset TOBA untuk mendukung pertumbuhan pendapatan jangka panjang.
Manajemen TOBA juga menyampaikan bahwa Perseroan melakukan penataan ulang portofolio secara menyeluruh sebagai bagian dari langkah “strategic repositioning” untuk memperkuat fondasi keuangan dan membangun struktur bisnis yang lebih resilien.
Langkah ini dinilai makin relevan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang mulai memberikan tekanan hebat pada pasar energi global. TBS memandang diversifikasi bisnis sebagai kunci resiliensi dan mitigasi risiko dalam menghadapi volatilitas pasar energi global.
Terkait kondisi di atas, Juli mengatakan strategi bisnis TOBA saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, dengan sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional.
“Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang,” tutur Juli.
Juli pun optimistis langkah ini akan menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan, terlebih dengan fundamental yang tetap solid, EBITDA Disesuaikan yang positif, serta arah strategi regional yang makin jelas.
Manajemen juga menuturkan telah berhasil menurunkan emisi karbon melalui divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya merepresentasikan sekitar 86% emisi portofolio pembangkit, atau sekitar 1,4 juta ton CO₂ per tahun berdasarkan profil emisi 2024.
Pada November 2025, TOBA juga telah meluncurkan Climate Transition Plan (CTP) sebagai panduan yang lebih komprehensif mengenai dekarbonisasi operasional dan portofolio perusahaan.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at