Bloomberg Technoz
Published at
Minat Batu Bara Asia Tinggi Jelang Musim Dingin Kala Stok Menipis
Bloomberg, Harga batu bara termal di Asia telah melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir karena pembangkit listrik menimbun bahan bakar untuk musim dingin, sehingga semakin memperketat pasar yang sudah tertekan akibat tingginya permintaan dan gangguan pasokan dari China hingga Indonesia.
Status batu bara sebagai bahan bakar fosil paling kotor menjadikannya target utama pengurangan produksi dan penggunaan, tetapi upaya tersebut terhambat oleh meningkatnya permintaan terkait ketahanan energi.
Setelah memperkirakan konsumsi global akan turun tahun ini, Badan Energi Internasional (IEA) mengubah proyeksinya menjadi kenaikan sebesar 1,2% ke level rekor, karena perang Iran menyebabkan harga minyak dan gas meroket dan meningkatkan ketergantungan sektor listrik pada batu bara.
Krisis energi di Timur Tengah tahun ini telah membuat "prospek jangka panjang permintaan batu bara termal lebih tangguh," kata analis Morgan Stanley termasuk Amy Gower dalam catatan riset pekan lalu, di mana bank tersebut menaikkan proyeksi jangka panjang untuk harga ekspor Newcastle—patokan di Asia—sebesar 4% menjadi US$125 per ton.
Harga batu bara berjangka Newcastle telah meningkat lebih dari 40% tahun ini, dan pada Selasa ditutup di level tertinggi sejak Agustus 2024.
Perang di Iran telah mendorong pembeli di Asia beralih dari gas yang mahal, dan permintaan kini semakin meningkat akibat kebutuhan untuk mengamankan bahan bakar pemanas.
Cuaca ekstrem telah berdampak buruk di India, di mana kekeringan dan suhu yang sangat panas telah menghambat pembangkit listrik tenaga air—salah satu pengganti batu bara—sekaligus meningkatkan permintaan pendingin udara.
Lonjakan harga minyak telah menyebabkan tingginya biaya solar yang digunakan untuk menggerakkan peralatan di tambang, yang pada gilirannya memaksa para penambang menaikkan harga mereka sendiri.
Namun, hal ini juga memungkinkan batu bara menggantikan minyak di industri seperti bahan kimia yang biasanya menggunakan minyak mentah sebagai bahan baku.
Pada saat yang sama, produksi di pemasok utama masih terbatas. Wilayah pertambangan utama di China mengalami penurunan produksi secara drastis setelah kecelakaan mematikan pada Mei memicu serangkaian inspeksi keselamatan.
Indonesia, sebagai eksportir terbesar, tengah menghadapi kuota produksi yang ditetapkan pemerintah dan dampak kekeringan terhadap lalu lintas tongkang yang menghubungkan tambang ke pelabuhan.
Di China, yang menambang dan membakar setengah pasokan batu bara dunia, harga batu bara termal naik ke level tertinggi dalam tiga tahun pada pekan ini setelah produksi domestik turun lebih dari 3% sepanjang periode hingga Agustus.
Meski hal ini tidak terlalu menjadi masalah saat ini, mengingat tingginya tingkat adopsi energi terbarukan di negara tersebut, peningkatan penggunaan batu bara selama musim dingin kemungkinan besar masih akan menjaga harga tetap naik.
"Kami memperkirakan lebih banyak tambang akan secara bertahap mendapatkan persetujuan untuk beroperasi kembali setelah sekitar empat bulan ditangguhkan, tetapi pemulihan produksi yang cepat dalam waktu dekat tampaknya tidak mungkin terjadi," kata Hangyu Li, analis riset Wood Mackenzie Ltd.
Pasar batu bara kokas yang digunakan oleh pabrik baja China menghadapi tantangan serupa, setelah bencana di Shanxi. Permintaan impor telah meningkat dan harga kontrak berjangka Dalian mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir, meski harga mungkin akan melemah karena anjloknya laba industri baja membatasi minat industri terhadap kenaikan biaya bahan baku.
Di India, konsumen terbesar kedua, pembangkit listrik tenaga batu bara telah menghabiskan sebagian besar persediaan mereka setelah cuaca musim panas. Pada saat yang sama, musim hujan terlemah sejak 2015 gagal mengisi kembali waduk-waduk dan meningkatkan permintaan irigasi pertanian.
Pemadaman listrik tak terjadwal telah mulai terjadi, yang berpotensi mendorong pembeli batu bara lebih agresif membeli kargo dari luar negeri meski harganya tinggi.
"Tidak ada jalan lain selain itu," kata Subhash Chandra Garg, mantan birokrat senior di Kementerian Keuangan dan Kementerian Energi.
Hampir setengah dari pembangkit listrik yang dipantau oleh pemerintah memiliki persediaan kurang dari seperempat dari jumlah yang harus mereka miliki, sehingga masuk dalam kategori 'kritis'.
Sementara itu, Indonesia sebagai pemasok utama, kesulitan meraih keuntungan. Menurut perusahaan riset DBX Commodities, ekspor turun ke level terendah dalam lima tahun pada September.
Meski pemerintah telah mencabut sebagian pemangkasan produksi sebelumnya, dibutuhkan waktu bagi para penambang untuk meningkatkan produksi kembali.
Arah pergerakan harga batu bara ke depan sangat bergantung pada cuaca. Prakiraan musim dingin yang relatif lebih hangat di sebagian besar Asia dikaitkan dengan fenomena El Niño yang sangat kuat tahun ini, pola cuaca yang dapat menyebabkan monsun lebih lemah dan suhu lebih hangat.
Menurut Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa, sebagian besar wilayah China diperkirakan akan mengalami suhu musim dingin rata-rata 0,5°C hingga 1°C di atas normal. Angka ini meningkat menjadi 1°C hingga 2°C untuk Jepang dan Korea Selatan.
Cuaca terpanas akan terjadi di daratan Asia Tenggara, di mana sebagian besar wilayah Vietnam dan Thailand utara diperkirakan akan mengalami suhu rata-rata 2°C atau lebih di atas normal.
(bbn)
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Published at
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at