Bloomberg Technoz

Published at

Meroket di Maret, Seperti Ini Ramalan Harga Batu Bara untuk April

Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga batu bara menutup perdagangan Maret dengan koreksi yang lumayan dalam. Ini terjadi usai harga si batu hitam naik tiga hari beruntun.

Pada Selasa (31/3/2026), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 142,45/ton. Jatuh 1,25% dibandingkan hari sebelumnya.

Harga komoditas ini terkoreksi setelah naik tiga hari berturut-turut. Selama tiga hari tersebut, harga terdongkrak nyaris 5%.

Jadi, sepertinya aroma ambil untung (profit taking) kuat tercium. Potensi cuan yang bisa diraup menjadi motivasi bagi investor untuk melepas kontrak batu bara.

Apalagi harga batu bara membumbung tinggi sepanjang Maret. Selama bulan lalu, harga meroket 20,21% secara point-to-point.

Perang di Timur Tengah membuat harga energi melambung tinggi. Harga minyak bumi dan gas alam contohnya.

Dalam sebulan terakhir, harga minyak jenis brent meroket 34,52%. Sementara harga gas alam di pasar TTF (Belanda) melejit 14,05%.

Saat harga minyak dan gas makin mahal, batu bara kembali dilirik. Ini membuat permintaan batu bara melonjak dan harga pun menanjak.

Sebelumnya, International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi batu bara dunia akan turun 1,4% sampai 2027. Namun dengan perkembangan terkini, sepertinya proyeksi itu sulit terwujud.

“Perasaan saya mengatakan (konsumsi batu bara) tidak akan turun pada 2026, dan tentunya tidak akan turun seperti perkiraan yang dibuat sebelum perang. Sebab, yang paling penting adalah membuat lampu tetap menyala,:” tegas Doug Arent, Senior Fellow di WRI Polsky Center for Global Energy Transition, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Analisis Teknikal

Bagaimana kira-kira perkiraan harga batu bara untuk bulan ini? Apakah pada April harga bisa naik lagi?

Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame), batu bara masih menghuni zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 55. RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish.

Akan tetapi, indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh 100. Paling tinggi, sudah sangat jenuh beli (overbought).

Untuk perdagangan bulan ini, harga batu bara rasanya berisiko turun. Target support terdekat ada di US$ 117/ton.

Jika kemudian harga melorot hingga menembus pivot point US$ 116/ton, maka ada kemungkinan bisa longsor ke arah US$ 113-111/ton.

Namun andai masih kuat menanjak, sepertinya ruang kenaikan harga batu bara sudah relatif terbatas. Target paling optimistis ada di US$ 148/ton.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by