Bisnis.com

Published at

Menjaga Kendali Produksi Batu Bara saat Harga Membara

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah diminta tak agresif meningkatkan kuota produksi batu bara dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2027 di tengah tingginya harga emas hitam. Pasalnya, permintaan dari pasar ekspor utama batu bara Indonesia diproyeksi masih melemah.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani berpendapat, kenaikan harga batu bara memang menjadi perkembangan positif. Namun, hal tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan permintaan dalam jangka panjang.

Menurutnya, Indonesia juga perlu melihat perkembangan negara tujuan ekspor utama, seperti Cina dan India. Gita menyebut, kedua negara itu kini terus meningkatkan produksi domestik sehingga kebutuhan impor mereka berpotensi tertekan.

Namun, pelaku usaha juga melihat masih ada peluang pertumbuhan permintaan dari kawasan Asia Tenggara, khususnya Vietnam dan Filipina.

"Karena itu, kami melihat penentuan produksi 2027 perlu mempertimbangkan keseimbangan pasokan dan permintaan, baik domestik maupun global," ucap Gita kepada Bisnis, Rabu (4/11/2026).

Pihaknya pun masih menunggu angka resmi kuota produksi batu bara 2027 dari pemerintah. Menurutnya, bagi pelaku industri, yang terpenting saat ini adalah kejelasan persetujuan RKAB masing-masing perusahaan yang sudah mengajukan.

Pasalnya, kejelasan tersebut berhubungan dengan kepastian dalam merencanakan kegiatan operasional, memenuhi kebutuhan domestik, serta menjalankan komitmen kontrak dengan pembeli.

Setali tiga uang, Ketua Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo menilai tahun 2027 bukan waktu yang tepat untuk mengerek produksi batu bara. Dia menuturkan, Cina dan India yang merupakan pasar utama RI, masih mengurangi impor.

"Menurut saya ya [belum tepat menaikkan produksi batu bara] dengan kondisi Cina dan India sebagai importir terbesar kita," kata Singgih.

Menurutnya, Cina dan India malah tengah menunggu harga batu bara global turun. Oleh karena itu, kedua negara kini memilih mengamankan pasokan batu bara domestik.

Singgih mengingatkan, jika Indonesia mengerek produksi batu bara tanpa perhitungan matang, maka harga di tingkat global bisa kembali turun.

"Harus rasional atas volume di pasar global. Menurut saya 700 juta hingga 720 juta ton di 2027 sebagai volume produksi yang sangat rasional," kata Singgih.

Sinyal Peningkatan Kuota Produksi

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi sinyal akan menambah kuota produksi batu bara pada tahun depan.

Dia menyebut, saat ini harga batu bara kalori tinggi dalam kesetaraan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR berada di level US$154 per ton. Angka itu memang jauh lebih tinggi dibanding level pada Januari 2026, yakni US$106 per ton.

"Saya katakan bahwa, untuk RKAB 2027 tetap kita perhatikan supply and demand. Kalau batu bara kan sekarang sudah bagus nih, idealnya kan harganya bagus produksinya banyak," tutur Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026, Senin (2/11/2026).

Dia menuturkan, Indonesia memiliki daya tawar di industri batu bara global. Pasalnya, RI merupakan salah satu pemasok terbesar di dunia.

Bahlil pun mengklaim, batu bara yang diperjualbelikan secara global mencapai 1,3 miliar ton. Pada 2025, kontribusi Indonesia terhadap peredaran batu bara dunia itu mencapai 540 juta ton.

Bahlil mengatakan, saat RI menurunkan produksi pada 2025, harga emas hitam menguat. Oleh karena itu, tatkala harga batu bara sudah baik, pihaknya membuka opsi untuk menambah kuota produksi.

"Jadi RKAB kita lakukan untuk sektor batu bara dengan memperhatikan supply and demand, idealnya produksi kita banyak, harganya bagus, idealnya. Tapi kalau pada saat harganya tidak bagus, jangan kita jor-joran," jelas Bahlil.

Adapun, pemerintah memproyeksi produksi batu bara dalam RKAB 2026 mencapai sekitar 720 juta ton. Dengan proyeksi tersebut, produksi batu bara 2026 akan lebih rendah dibanding 2025 yang secara total mencapai 817 juta ton.

Momentum Meningkatkan Penerimaan Negara

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menilai peluang Indonesia untuk meningkatkan kembali produksi batu bara pada 2027 cukup besar.

Sudirman mengungkapkan, terdapat beberapa faktor yang menjadi pendorong untuk mempertimbangkan opsi meningkatkan kembali produksi batu bara nasional tahun depan.

Dia menyebut, kebutuhan global terhadap batu bara sebagai sumber energi guna mengisi kekurangan sumber energi lain sebagai akibat kondisi geopolitik masih terjadi. Seperti diketahui, gejolak situasi geopolitik yang masih panas di Timur Tengah maupun situasi perang Rusia-Ukraina yang masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Menurut Sudirman, kondisi tersebut masih tetap menjadi salah satu faktor utama penyebab berkurangnya pasokan minyak dan gas di pasar internasional. Hal ini juga menyebabkan harga minyak dan gas meningkat dalam kurun waktu setahun terakhir.

"Hal ini menjadi pendorong banyak pihak yang kemudian mencari batubara sebagai salah satu alternatif sumber energi pengganti," jelas Sudirman.

Faktor pendukung kenaikan produksi batu bara RI lain adalah harga yang sedang tinggi. Sudirman mengatakan, harga komoditas batu bara di pasar global juga meningkat selama kurun waktu setahun terakhir. Ini seiring dengan peningkatan harga komoditas minyak dan gas di pasar internasional.

"Tentu saja hal ini dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan penerimaan negara serta devisa," imbuhnya.

Dari dalam negeri, kebutuhan domestik terhadap komoditas batu bara juga tetap kuat. PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) mencatat bahwa kebutuhan batu bara untuk PLTU Grup PLN dan produsen listrik swasta (IPP) pada 2027 mencapai sekitar 173,83 juta metrik ton.

Sudirman lantas mengingatkan agar pemerintah berkaca pada pengalaman tahun ini. Pemerintah pada awalnya hanya menetapkan kuota produksi batu bara nasional sekitar 600 juta ton. Namun, seiring perkembangan waktu, terjadi situasi PLN kekurangan pasokan batu bara.

Di sisi lain, muncul peluang untuk meningkatkan ekspor guna mendapatkan penerimaan negara yang lebih optimal akibat harga batu bara yang tinggi di pasar global. Pemerintah kemudian memberikan relaksasi untuk peningkatan produksi batu bara nasional. Estimasi produksi batu bara nasional hingga akhir 2026 diperkirakan akan mencapai kisaran 700 hingga 720 juta ton.

"Sehubungan dengan hal di atas, kami menyarankan agar pemerintah dapat memberikan persetujuan kuota produksi batu bara nasional di kisaran angka 700 juta ton untuk tahun 2027 mendatang," tutur Sudirman.

Pihaknya berpendapat, angka tersebut masih cukup realistis untuk dapat direalisasikan tanpa harus khawatir akan terjadinya oversupply yang dapat memengaruhi harga di pasar global.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Published at

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by