BISNIS INDONESIA

Published at

Mencari Model Bisnis Andal Hilirisasi Batu Bara

Bisnis.com, JAKARTA — Dimulainya tahap Front-End Engineering Design (FEED) proyek coal-to-methanol PT Bumi Etam Chemical (BEC) menghidupkan kembali harapan terhadap agenda hilirisasi batu bara yang selama beberapa tahun terakhir berjalan terseok-seok.

Namun, di balik kemajuan tersebut, tantangan utama yang membayangi hampir seluruh proyek hilirisasi belum banyak berubah, yakni bagaimana menjadikan investasi bernilai miliaran dolar AS itu layak secara komersial di tengah tingginya biaya, ketidakpastian pasar, hingga semakin selektifnya pembiayaan untuk proyek berbasis batu bara.

Harapan baru itu muncul ketika BEC, perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), mulai memasuki tahap FEED dan Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC) untuk membangun pabrik metanol berbasis batu bara di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek senilai US$2,3 miliar tersebut ditargetkan mulai komisioning pada 2029 dan beroperasi penuh pada 2030.

Perkembangan itu menjadi salah satu kemajuan paling konkret dalam agenda hilirisasi batu bara setelah sejumlah proyek yang diumumkan pemerintah selama beberapa tahun terakhir belum kunjung memasuki tahap investasi. Pemerintah sebelumnya mendorong pengembangan berbagai produk turunan batu bara, mulai dari dimethyl ether (DME), metanol, amonia, kokas, hingga produk kimia lainnya sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral.

Meski demikian, perjalanan proyek-proyek tersebut jauh lebih lambat dibandingkan dengan hilirisasi mineral. Sejumlah proyek berganti mitra, melakukan penyesuaian desain, hingga masih mencari investor baru setelah perubahan kondisi pasar energi dan meningkatnya kehati-hatian lembaga pembiayaan terhadap proyek berbasis batu bara.

Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rizwan Aryadi Ramdhan mengakui hilirisasi batu bara memiliki tantangan berbeda dibandingkan komoditas mineral. Menurutnya, nilai tambah yang dihasilkannya belum sebesar hilirisasi nikel maupun bauksit, sedangkan kebutuhan investasinya sangat besar.

"Nilai tambahnya tidak terlalu besar dibandingkan komoditas lain di mineral seperti nikel atau mungkin bauksit. Dengan nilai investasi seperti tadi itu US$2,3 miliar, tapi nilai tambahnya tidak terlalu besar. Effort-nya terlalu besar dibandingkan profit yang mungkin akan didapatkan," ujarnya pekan lalu.

Dengan kata lain, tantangan hilirisasi batu bara tidak lagi semata-mata berada pada aspek teknologi. Persoalan utama kini bergeser pada kemampuan proyek menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang cukup menarik bagi investor.

Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli menilai teknologi gasifikasi sebenarnya telah terbukti. Menurutnya, proyek DME yang sempat dikembangkan PT Bukit Asam bersama Air Products bukan terhambat karena keterbatasan teknologi, melainkan karena hasil analisis keekonomian belum mampu memberikan keuntungan yang memadai.

Produksi DME, kata Rizal, membutuhkan proses lanjutan setelah metanol terbentuk. Tahapan tambahan tersebut membuat kebutuhan investasi, konsumsi energi, dan biaya operasional menjadi lebih tinggi dibandingkan jika metanol dipasarkan secara langsung.

"Beberapa parameter yang digunakan dalam analisa keekonomian proyek dinilai belum cukup menguntungkan tanpa subsidi dari pemerintah agar proyek bisa berjalan secara ekonomis," jelasnya kepada Bisnis pekan lalu.

Kelayakan Proyek Hilirisasi Batu Bara

Pandangan serupa disampaikan Associate Principal Energy Shift Institute Ahmad Zuhdi. Dia menilai keberhasilan hilirisasi batu bara harus memenuhi tiga prasyarat sekaligus, yakni kelayakan teknis, kelayakan komersial, dan dukungan fiskal. Ketiga aspek tersebut harus berjalan beriringan karena proyek yang secara teknis dapat dibangun belum tentu layak secara bisnis, sementara dukungan fiskal juga memiliki keterbatasan.

“Ketiga faktor ini harus berjalan secara bersamaan,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menambahkan persoalan lain berasal dari sisi pasokan bahan baku. Ketika harga batu bara internasional jauh lebih tinggi dibandingkan harga domestik, produsen cenderung memilih pasar ekspor sehingga minat memasok kebutuhan hilirisasi menjadi lebih rendah.

Menurutnya, keseimbangan harga bahan baku menjadi salah satu prasyarat penting apabila pemerintah ingin mempercepat pengembangan industri hilir batu bara di dalam negeri.

“Selebihnya adalah masalah infrastrukturlah,” ungkap Faisal.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, proyek BEC mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih mengejar DME sebagai substitusi LPG, perusahaan memilih memproduksi metanol yang dinilai memiliki pasar domestik lebih pasti.

Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan kebutuhan metanol Indonesia masih didominasi impor sekitar 1,2 juta hingga 1,3 juta ton per tahun. Perseroan membidik pasar domestik sebagai prioritas utama, terutama industri biodiesel melalui produsen fatty acid methyl ester (FAME), sebelum mempertimbangkan ekspor.

"Kita targetnya adalah mensubstitusi impor. Target utamanya memang domestic market, sisanya baru kita ekspor," ujarnya.

Meski demikian, Rio mengakui proyek tersebut masih berada pada tahap awal. Perseroan baru mengantongi sejumlah letter of intent (LOI) dari calon pembeli, sedangkan perjanjian pembelian jangka panjang baru akan dilakukan setelah proyek mencapai tahapan yang lebih matang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masuknya proyek BEC ke tahap FEED belum serta-merta menandai keberhasilan agenda hilirisasi batu bara nasional. Proyek itu justru akan menjadi ujian penting apakah Indonesia akhirnya mampu menghadirkan model hilirisasi yang layak secara komersial, memiliki pasar yang jelas, serta mampu menarik investasi hingga memasuki tahap produksi.

Jika berhasil, proyek metanol tersebut dapat menjadi acuan bagi pengembangan proyek hilirisasi batu bara berikutnya. Sebaliknya, apabila kembali tersendat pada tahap investasi atau pembiayaan, tantangan yang selama ini membayangi hilirisasi batu bara akan kembali berulang.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by