Bisnis Indonesia

Published at

Manuver Diversifikasi Emiten Batu Bara, BUMI, ITMG & INDY Incar Sumber Cuan Baru

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten batu bara mulai memperluas portofolio bisnis di luar komoditas andalannya. Diversifikasi dilakukan melalui akuisisi aset tambang, ekspansi ke mineral strategis, pengembangan tambang emas, hingga pembangunan ekosistem kendaraan listrik.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi sejumlah emiten untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas batu bara sekaligus mencari sumber pertumbuhan baru.

Salah satu manuver datang dari PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang memperluas portofolionya ke emas dan tembaga melalui akuisisi aset di Australia, termasuk Wolfram.

Dalam 2 tahun terakhir, BUMI menjalankan empat transaksi akuisisi saham, dengan tiga di antaranya menyasar perusahaan pertambangan asal Australia.

Tiga transaksi akuisisi yang telah rampung mencakup Loyal Metals Ltd., Jubilee Metals Limited (JML), dan Wolfram Limited. Sementara itu, satu transaksi lainnya, yakni akuisisi 45% saham PT Laman Mining Indonesia, masih dalam proses.

Teranyar, BUMI melalui anak usahanya, Bumi Resources Australia Pty Ltd. (BRA), telah merampungkan akuisisi 100% saham Loyal Metals Ltd. pada 4 September 2026.

Manajemen BUMI dalam laporan tahunannya menuturkan akuisisi tersebut akan memberikan kontribusi yang berarti bagi kinerja jangka panjang BUMI ke depannya.

ITMG Masuk Nikel dan Mineral Strategis

Diversifikasi juga dilakukan oleh pemain batu bara lainnya, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG). Direktur Utama ITMG Mulianto menjelaskan bahwa ITMG telah masuk ke bisnis nikel karena pihaknya melihat arah transisi energi ke depan akan semakin mendukung proses elektrifikasi, dan nikel merupakan salah satu mineral yang berperan penting dalam proses tersebut.

“Fokus kami pada tahun-tahun mendatang tidak hanya pada nikel, tetapi kami juga terbuka terhadap peluang di strategic mineral lainnya yang memiliki peran penting dalam mendukung proses elektrifikasi dan memenuhi kebutuhan energi di masa mendatang,” kata Mulianto dalam paparan publik pekan lalu.

Mulianto juga menyampaikan bahwa anak usaha Banpu ini terbuka dengan opsi peningkatan kepemilikan di PT Adhi Kartiko Pratama Tbk. (NICE). Sebagai informasi, ITMG memiliki sebanyak 585 juta saham NICE, atau setara dengan 9,62% kepemilikan saat ini.

“Kami selalu terbuka dengan opsi tersebut sepanjang dapat menciptakan nilai bagi pemegang saham dan sejalan dengan strategi jangka panjang Perseroan,” ujarnya.

INDY Kurangi Ketergantungan Batu Bara

Strategi berbeda ditempuh PT Indika Energy Tbk. (INDY) yang melakukan divestasi aset dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara. Di sisi lain, perseroan tetap mempertahankan eksposur di pertambangan emas melalui proyek Awak Mas sekaligus membangun ekosistem bisnis kendaraan listrik.

INDY terus mempercepat pembangunan proyek tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan yang ditargetkan memproduksi emas pertama atau first gold pada kuartal II/2027. Hingga akhir Juni 2026, progres konstruksi proyek tersebut telah mencapai 60,63%.

Senior Vice President and Head of CEO Office, Corporate Communications, and Sustainability Indika Energy Ricky Fernando mengatakan proyek Awak Mas masih berada dalam tahap konstruksi. Namun, setelah konstruksi selesai, proyek akan memasuki tahapan menuju kesiapan operasional sebelum memasuki fase produksi komersial.

“Per 30 Juni 2026, kemajuan konstruksi proyek telah mencapai 60,63% menuju target penyelesaian konstruksi,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Senin (14/9/2026).

Pengembangan Awak Mas menjadi bagian dari strategi INDY untuk memperbesar kontribusi bisnis non-batu bara. Perseroan melihat proyek emas tersebut berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru setelah beroperasi penuh.

Tak hanya di tambang emas, Indika Energy juga memperbesar bisnis kendaraan listrik dengan membangun ekosistem terintegrasi, mulai dari penjualan kendaraan, distribusi, layanan purnajual, infrastruktur pengisian daya hingga pembiayaan.

Pengembangan ekosistem kendaraan listrik tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah perseroan memperluas portofolio bisnis di luar bisnis non-batu bara dan menangkap peluang pertumbuhan dari tren elektrifikasi transportasi di Indonesia.

Diversifikasi Jadi Sumber Pertumbuhan Baru

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan diversifikasi yang nyata mempunyai tiga ciri, yaitu aset baru yang sudah menghasilkan cashflow atau memiliki timeline produksi jelas, kontribusi ke pendapatan yang mulai terlihat jelas di laporan keuangan dan bukan hanya narasi publik, serta manajemen yang memiliki kapabilitas di domain baru, bukan belajar dari nol.

Wafi juga menjelaskan bahwa diversifikasi emiten batu bara ke arah emas, mineral, hilirisasi, dan EV akan berlanjut. Menurut dia, harga batu bara termal yang menghadapi headwind secara jangka panjang dari transisi energi, meskipun jangka pendek masih menguntungkan.

“Kebijakan hilirisasi mendorong ke value-added processing. Emas dan mineral kritis punya demand driver beda siklus dari batu bara, ini natural hedge portofolio,” ujar Wafi, Senin (14/9/2026).

Akan tetapi, lanjutnya, tidak semua pemain punya balance sheet dan kapabilitas untuk melakukan eksekusi yang baik. Menurut dia, perusahaan yang berhasil melakukan diversifikasi adalah diversifikasi yang memiliki kas kuat dan disiplin alokasi modal, bukan yang agresif akuisisi memakai utang mahal.

Di sisi lain, Wafi melihat momentum harga komoditas tidak cukup kuat untuk menopang investasi tambang baru ketika harga batu bara berbalik. Dia menuturkan momentum harga saat ini tidak cukup sebagai satu-satunya dasar investasi tambang baru.

“Harga sekarang banyak ditopang war premium Selat Hormuz yang sifatnya geopolitical dan bisa berbalik cepat,” ujar Wafi.

Wafi juga menjelaskan investasi di sektor pertambangan memiliki periode pengembalian modal (payback period) yang panjang, yakni sekitar 5—10 tahun. Karena itu, menjadikan harga komoditas pada level puncak siklus sebagai dasar keputusan belanja modal (capex) merupakan kesalahan klasik yang berulang di industri pertambangan.

Menurut dia, dasar investasi yang lebih berkelanjutan adalah posisi biaya produksi yang kompetitif dalam berbagai level harga komoditas, bukan asumsi bahwa harga tinggi akan terus berlanjut.

Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis Setyo Wibowo menuturkan diversifikasi yang dilakukan emiten-emiten tambang bukan sekadar menambah aset, tetapi strategi untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara dan menciptakan sumber pertumbuhan baru.

“Namun, dampaknya akan signifikan jika bisnis baru sudah memberikan kontribusi material terhadap pendapatan dan laba,” tutur Azis.

Azis juga memandang ke depan, emas, mineral strategis, hilirisasi, dan EV berpotensi menjadi arah baru sektor tambang, didukung tren transisi energi dan kebutuhan mineral.

“Dari sisi emiten, ANTM, MDKA, INCO, ADRO, dan PTBA menarik diperhatikan, terutama dari kemampuan eksekusi dan kontribusi bisnis non-batu bara,” ucap Azis.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Published at

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by