BISNIS INDONESIA
Published at
Kisi-Kisi Prospek Saham Batu Bara RI Usai Rilis Kinerja Keuangan
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten batu bara telah mengeluarkan laporan kinerja semester I/2026. Hasil kinerja yang beragam diperoleh emiten-emiten batu bara tersebut.
Emiten batu bara milik taipan Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) misalnya membukukan peningkatan pendapatan dan laba bersih sepanjang semester I/2026. BYAN mencetak laba bersih US$410,25 juta atau setara Rp7,32 triliun (kurs Rp17.856 per dolar AS).
Laba bersih ini naik 17,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$349,24 juta.
Naiknya laba bersih ini salah satunya dikontribusikan oleh meningkatnya pendapatan BYAN menjadi US$1,74 miliar atau setara Rp31,07 triliun. Sebelumnya, BYAN mencetak pendapatan sebesar US$1,62 miliar pada semester I/2025. Artinya, pendapatan BYAN naik 7,29% secara tahunan.
Pendapatan BYAN ini diperoleh dari penjualan batu bara ke pihak ketiga sebesar US$1,67 miliar, dan pihak berelasi sebesar US$54,14 juta. Sementara itu, pendapatan non-batu bara BYAN mencapai US$9,64 juta.
Sama halnya seperti emiten batu bara kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI). BUMI mencetak pendapatan yang meningkat menjadi US$866,75 juta atau setara Rp15,5 triliun semester I/2026.
Raihan pendapatan ini naik 27,85% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$677,93 juta.
Pendapatan ini sebagian besar diperoleh dari penjualan ekspor batu bara pihak ketiga sebesar US$457,76 juta, dan penjualan lokal batu bara ke pihak ketiga sebesar US$304,63 juta.
BUMI juga mencatatkan penjualan lokal emas ke pihak ketiga sebesar US$95,91 juta pada semester I/2026.
Alhasil, BUMI membukukan laba bersih sebesar US$58,85 juta, atau setara Rp1,05 triliun. Laba bersih ini meningkat 188,4% secara tahunan dari sebelumnya sebesar US$20,4 juta.
Adapun Bisnis mencatat hingga pekan pertama Agustus 2026, masih banyak perusahaan batu bara yang belum melaporkan kinerja keuangan semester I/2026 mereka.
Prospek Kinerja Keuangan Emiten Batu Bara
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memperkirakan kinerja emiten batu bara pada semester I/2026 tidak akan seragam. Dia melihat akan ada sejumlah perusahaan batu bara dengan kinerja yang tertekan pada paruh pertama tahun ini.
Menurutnya, penyebab utama dari negatifnya kinerja emiten batu bara semester I/2026 adalah keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada awal tahun, yang membuat volume produksi dan penjualan sejumlah emiten turun.
“Namun, pelemahan volume tersebut sebagian tertolong oleh harga batu bara Newcastle yang masih tinggi, yakni di atas US$150 per ton. Harga tetap kuat karena adanya premi risiko geopolitik (war premium) dan meningkatnya permintaan listrik untuk menopang perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI),” kata Wafi, Senin (3/8/2026).
Adapun dampak dari revisi RKAB ini salah satunya tercermin dari kinerja kontraktor penambangan PT United Tractors Tbk. (UNTR) melalui PAMA Grup. UNTR melaporkan PAMA Grup mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah yang lebih rendah sebesar 10% menjadi 481 juta bcm dan volume produksi batu bara untuk para kliennya turun 3% menjadi 67 juta ton, dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,2x, mengikuti penyesuaian target produksi klien sesuai dengan RKAB yang telah disetujui.
Meskipun demikian, total pendapatan bersih dari segmen Kontraktor penambangan naik 4% menjadi Rp27,2 triliun yang terutama disebabkan karena penguatan kurs dolar AS.
Sementara itu, segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi UNTR yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung mencatatkan volume penjualan batu bara sebesar 6,0 juta ton, termasuk 1,6 juta ton batu bara metalurgi. Penjualan ini turun 10% dari periode yang sama di tahun 2025.
Pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi turun sebesar 4% menjadi Rp12,9 triliun, sejalan dengan penurunan volume penjualan batu bara.
Wafi menjelaskan secara umum, emiten yang memperoleh persetujuan RKAB lebih cepat mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan pesaingnya.
Menurut Wafi, emiten batu bara pelat merah PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) menjadi emiten yang paling terlindungi dari sentimen revisi RKAB, karena mendapat dukungan sebagai perusahaan pelat merah.
Dia menyebut data operasional semester I/2026 menunjukkan bahwa penjualan PTBA mencapai 21,1 juta ton, lebih tinggi dibandingkan produksinya yang sebesar 19,45 juta ton. Selisih tersebut ditopang oleh penggunaan persediaan batu bara yang sebelumnya sudah tersedia.
“Revisi RKAB pada Juli 2026 menjadi faktor penting yang dapat mengubah peta persaingan pada semester II/2026,” tutur Wafi.
Dia menyebut emiten yang produksinya tertahan pada semester pertama berpotensi mengejar ketertinggalan volume, sehingga laba pada semester kedua bisa jauh lebih baik dibandingkan semester pertama.
Senada dengan Wafi, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan kinerja emiten batu bara pada semester I/2026 akan bergerak cukup beragam.
Menurutnya, ada sejumlah emiten yang mencatatkan penurunan kinerja akibat tekanan harga batu bara global, ketidakpastian permintaan dari China, serta faktor regulasi domestik.
“Misalnya, AADI dan BYAN membukukan penurunan pendapatan maupun laba pada kuartal I/2026. Namun di sisi lain, beberapa emiten justru mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kinerjanya,” ujar Elandry, Senin (3/8/2026).
Dia mencontohkan PTBA mencatat lonjakan laba bersih berkat efisiensi biaya, sementara BUMI berhasil meningkatkan produksi dan penjualan meskipun harga jual rata-rata mengalami penurunan.
Selain itu, lanjut dia, BSSR, CUAN, dan MCOL juga termasuk emiten yang masih membukukan pertumbuhan laba pada kuartal I/2026.
Di sisi lain, dengan adanya revisi RKAB, Elandry melihat sentimen pasar justru akan cenderung lebih positif dibanding negatif. Menurutnya, revisi yang bergulir merupakan usulan kenaikan kuota produksi, bukan pemangkasan.
Dengan demikian, apabila persetujuannya selesai dalam waktu dekat, potensi pemulihan volume produksi pada semester II/2026 akan semakin terbuka.
“Karena itu, saya memperkirakan prospek sektor batu bara berpotensi membaik pada paruh kedua tahun ini, didukung normalisasi produksi, harga batu bara yang tetap relatif stabil, serta permintaan dari China dan India yang diharapkan membaik,” ucap Elandry.
Adapun untuk saham-saham yang menurutnya menarik dicermati di sektor ini adalah ITMG, PTBA, dan AADI sebagai pilihan utama karena fundamental yang kuat. Elandry juga menilai saham BUMI, ADRO, BSSR, CUAN, dan MCOL juga layak diperhatikan seiring prospek pemulihan kinerja operasional pada semester II/2026.
Sementara itu, Wafi menilai saham PTBA, AADI, dan ADRO menarik untuk dicermati di sektor ini. Dia menuturkan PTBA dapat menjadi pilihan karena menjadi penerima manfaat utama dari kebijakan domestic market obligation (DMO) dan revisi RKAB, memiliki dividend yield yang tinggi, serta didukung oleh BUMN.
Lalu AADI karena memiliki efisiensi biaya yang baik, porsi saham publik yang bersih, dan eksposur terhadap batu bara premium. Adapun pilihan selanjutnya adalah ADRO karena diversifikasi bisnis ke sektor energi dapat menjadi katalis kenaikan valuasi dalam jangka panjang, ditambah neraca keuangan yang paling kuat di antara para pesaingnya.
“Hindari emiten batu bara kalori rendah dengan cost tinggi dan historis RKAB bermasalah,” tutur Wafi.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at