Kontan

Published at

Kemarau Panjang Bikin Sungai Kalimantan Surut, Angkutan Batubara Mulai Terdampak

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Musim kemarau berkepanjangan membuat debit air sejumlah sungai besar di Kalimantan menyusut. Sungai Barito yang melintasi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dikabarkan mengalami penyusutan paling parah. Salah satu buktinya terlihat di sekitar Jembatan Kahilijen, Barito Selatan.

Air sungai di area tersebut menyusut drastis hingga memperlihatkan dasar sungai dan tampak seperti hamparan pasir. Sungai Mahakam di Kalimantan Timur dan Sungai Kapuas di Kalimantan Barat juga mengalami penyusutan drastis di sejumlah titik hingga dasar sungai terlihat.

Jika kondisi ini terus berlanjut, dampak penyusutan debit air tersebut tak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, sungai bagi Pulau Borneo ibarat urat nadi kehidupan.

Mengingat Kalimantan merupakan salah satu lumbung batubara nasional, dampaknya tak hanya dirasakan masyarakat di pulau tersebut. Merujuk Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara, dan Panas Bumi Indonesia Tahun 2025 yang dirilis Badan Geologi Kementerian ESDM, sekitar 63% dari total cadangan batubara Indonesia berada di perut bumi Kalimantan.

Sungai-sungai di Kalimantan juga berperan penting bagi industri batubara sebagai jalur transportasi dan logistik utama untuk mengangkut batubara dari kawasan tambang menuju pelabuhan atau laut lepas. Kapal tongkang berukuran besar yang ditarik kapal tunda (tugboat) menjadi pengguna utama jalur sungai tersebut.

Dampak ke Emiten Batubara Mulai Terasa

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Tambang Indonesia (PERHAPI) Rizal Kasli menyebut, penyusutan debit air sungai-sungai di Kalimantan sudah diprediksi setiap tahun akan terjadi di sekitar bulan Juni-Oktober.

Kondisi ini akan memengaruhi keluaran produksi batubara nasional dari perusahaan tambang batubara yang lokasi dan sistem pengangkutannya menggunakan tranportasi air umumnya tongkang.

"Umumnya hal ini berlaku antara 3 hingga 4 bulan setiap tahun. Hal ini akan terjadi dimana di musim kemarau debit air sungai-sungai di Kalimantan akan menyusut atau ketinggian air sungainya rendah sehingga tidak bisa dilewati oleh tongkang pengangkut batubara ke anchorage point di laut muara sungai," ujar Rizal.

Perusahaan batubara yang terkena dampaknya umumnya yang berlokasi di tengah pulau Kalimantan seperti di Barito Utara, Kutai Barat, Tabalong, dan Kalimantan Barat bagian Tengah.

Meski begitu, perusahaan batubara biasanya akan tetap berproduksi dan menumpuk stock batubaranya di stockpile baik di run of mine (ROM) maupun di stockpile yang ada di pelabuhan.

Setelah musim kemarau berlalu dan level air sungai meningkat lagi, baru dilakukan pengapalan untuk pengisian ke mother vessel atau langsung ke pembeli.

Direktur PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Yulius Kurniawan Gozali mengakui bahwa ITMG merasakan dampak dari penurunan muka air Sungai Mahakam.

Penyusutan debit air memberikan tantangan terhadap kegiatan pengangkutan batubara dari sejumlah anak usaha perusahaan yang beroperasi di Klaster Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ITMG telah menerapkan sejumlah langkah mitigasi berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya adalah menyesuaikan volume muatan batubara pada tongkang ke tingkat yang lebih rendah.

"Langkah ini dilakukan supaya mengurangi risiko kandas dan menjaga kelancaran kegiatan pengangkutan," ucap Yulius saat dihubungi KONTAN, Rabu (26/8).

Hambatan juga dialami PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) yang fokus bergerak di bidang usaha pengangkutan barang curah, khususnya batubara.

Corporate Secretary TPMA Rudi Sutiono mengatakan, penyusutan debit air sungai berpengaruh cukup signifikan terhadap operasional perusahaan di wilayah Kalimantan Tengah.

Kekeringan di provinsi tersebut cukup parah. Alhasil, muatan dari beberapa area di Kalimantan Tengah tidak bisa terangkut karena kedalaman sungai tidak cukup untuk dilalui tongkang. Rudi memperkirakan dampaknya sekitar 10%-15%, mengingat masih ada beberapa daerah lain yang dapat dilalui.

Menghadapi hambatan tersebut, TPMA pun memutar otak agar tetap dapat beroperasi secara optimal. Caranya dengan mengambil muatan di tambang di area Kalimantan Selatan yang pelabuhan tambangnya (jetty) langsung berada di laut atau di area sungai Kalimantan Selatan yang debit airnya masih cukup untuk dilalui tongkang bermuatan.

"Kami prefer mencari lokasi yang lebih baik dibanding ambil risiko di tempat yang sulit untuk mengangkut karena kondisi bisa menyebabkan kapal kandas kalau debit air kurang," kata Rudi.

PT Hasnur Internasional Shipping Tbk (HAIS) juga menghadapi hambatan pengangkutan akibat penurunan debit air sungai. Namun, efeknya tergolong minim karena mayoritas kargo batubara perusahaan beroperasi di area yang masih tergolong aman.

Sebagai gambaran, saat ini sebagian besar kargo batubara yang diangkut armada perusahaan berasal dari loading point atau port of loading (POL) di Sungai Puting, Kalimantan Selatan. Dari Sungai Puting, armada HAIS berlayar melalui Sungai Barito bagian hilir menuju area transhipment di Taboneo, baru kemudian menuju port of destination (POD) di luar Kalimantan Selatan.

Nah, Menurut Laorentina Devi, Operation and Technical Support Director HAIS, Sungai Barito bagian hilir masih dapat dilalui armada kapal tunda dan tongkang tanpa kendala berarti.

"Walaupun terdapat sedikit penurunan debit air di Sungai Barito, pengangkutan kargo batubara oleh armada perusahaan melalui Sungai Barito bagian hilir belum terpengaruh oleh penurunan debit air tersebut," ungkapnya.

Kendala justru dirasakan perusahaan pada operasi di wilayah Kalimantan Tengah, khususnya untuk mengangkut kargo batubara dari Pendang, Kalimantan Tengah. Kondisi air di daerah hulu seperti Muara Teweh mengalami penurunan debit air yang membuat armada perusahaan tidak dapat berlayar ke daerah tersebut.

Oleh sebab itu, untuk sementara waktu armada perusahaan tidak melakukan pelayaran ke area Pendang. Saat ini, perusahaan terus memantau kondisi debit air. Jika debit air sudah mencukupi, armada akan kembali melakukan pelayaran ke area tersebut.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by