Bisnis Indonesia
Published at
Katalis Baru Saham Batu Bara RI AADI, HRUM, Cs
Bisnis.com, JAKARTA — Gelombang panas di Eropa dan inspeksi keselamatan pertambangan di Cina akan menjaga harga batu bara tetap tinggi sepanjang sisa tahun ini, menjadi katalis bagi emiten-emiten seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) hingga PT Harum Energy Tbk. (HRUM).
Analis menilai bahwa harga saham perusahaan batu bara kini tidak lagi bergerak mengikuti sentimen terkait perang, sehingga menghadirkan peluang beli pada saham-saham tertentu.
Ryan Winipta, analis Indo Premier Sekuritas, dalam risetnya menerangkan bahwa gelombang panas baru-baru ini di Eropa telah meningkatkan ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti batu bara akibat penurunan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan hidro.
Khususnya, armada pembangkit listrik tenaga nuklir Prancis mengalami penurunan produksi sekitar 3,7 TWh pada Juni dan Juli 2026, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, beberapa pengiriman batu bara, terutama ke pembangkit listrik di Jerman, mengalami gangguan, sehingga mendorong harga batu bara Rotterdam di Eropa ke atas level US$125 per ton.
Tingkat pengisian cadangan gas Eropa yang berada di angka 61% juga memberikan faktor pendukung positif bagi harga batu bara.
Di sisi lain, produksi batu bara di Cina turun, sedangkan India tetap kuat. Harga batu bara domestik Cina telah naik 27% secara year to date (YTD). Kenaikan ini dipengaruhi oleh penurunan produksi, yang baru-baru ini disebabkan oleh kecelakaan tambang di tambang batu bara Liushenyu, Shanxi.
Sejak insiden pada Mei 2026, impor batu bara Cinna sempat turun 2% pada Juni 2026 tetapi kemudian naik 22% secara bulanan pada Juli 2026. Tren ini sejalan dengan kenaikan harga Qinhuangdao maupun harga Indonesia Coal Index (ICI).
"Kami memperkirakan Cina akan terus menghadapi kendala pasokan akibat inspeksi keselamatan yang masih berlangsung, terutama menjelang musim dingin, periode saat permintaan batu bara biasanya mencapai puncaknya," kata Ryan, dikutip Rabu (26/8/2026).
Namun, India tampaknya tidak akan menciptakan permintaan tambahan melalui jalur laut karena produksi batu baranya terus meningkat sementara persediaan batu bara tetap melimpah, meskipun pembangkit listrik tenaga batu bara mencatat kenaikan sebesar 13% secara tahunan pada Juli 2026.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), Ryan mengatakan penurunan dari level puncak sebelumnya menghadirkan peluang pembelian sejumlah saham.
Saham AADI, misalnya, telah turun dari level Rp11.600 per saham menjadi Rp7.400 pada Juni 2026. PTBA dan ITMG juga mengalami penurunan serupa masing-masing sebesar -29% dan -28%.
"Kami menilai hal ini terutama didorong oleh kombinasi faktor kesepakatan damai AS-Iran, sejalan dengan penurunan harga saham perusahaan batu bara global sejenis, dan pembentukan DSI [Danantara Sumberdaya Indonesia], meskipun harga batu bara ICI dan Newcastle terus meningkat secara stabil," jelasnya.
Indo Premier Sekuritas mempertahankan peringkat neutral pada sektor batu bara dengan sikap bullish selektif terhadap beberapa emiten seperti AADI dan HRUM.
"Sementara kami melihat katalis yang terbatas untuk PTBA, ITMG, dan UNTR," ujarnya.
Revisi RKAB
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dikabarkan sudah mulai menyetujui sejumlah pengajuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk komoditas batu bara dan nikel.
Sebelumnya produksi batu bara pada RKAB 2026 dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 817,48 juta ton.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama melihat revisi RKAB sebagai sentimen positif bagi sektor ini.
Menurutnya, revisi yang bergulir merupakan usulan kenaikan kuota produksi, bukan pemangkasan. Dengan demikian, apabila persetujuannya selesai dalam waktu dekat, potensi pemulihan volume produksi pada semester II/2026 akan semakin terbuka.
“Karena itu, saya memperkirakan prospek sektor batu bara berpotensi membaik pada paruh kedua tahun ini, didukung normalisasi produksi, harga batu bara yang tetap relatif stabil, serta permintaan dari China dan India yang diharapkan membaik,” ucap Elandry.
Adapun untuk saham-saham yang menurutnya menarik dicermati di sektor ini adalah ITMG, PTBA, dan AADI sebagai pilihan utama karena fundamental yang kuat.
Elandry juga menilai saham BUMI, ADRO, BSSR, CUAN, dan MCOL juga layak diperhatikan seiring prospek pemulihan kinerja operasional pada semester II/2026.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai saham PTBA, AADI, dan ADRO menarik untuk dicermati di sektor ini.
Dia menuturkan PTBA dapat menjadi pilihan karena menjadi penerima manfaat utama dari kebijakan domestic market obligation (DMO) dan revisi RKAB, memiliki dividend yield yang tinggi, serta didukung oleh BUMN.
Lalu AADI karena memiliki efisiensi biaya yang baik, porsi saham publik yang bersih, dan eksposur terhadap batu bara premium. Adapun pilihan selanjutnya adalah ADRO karena diversifikasi bisnis ke sektor energi dapat menjadi katalis kenaikan valuasi dalam jangka panjang, ditambah neraca keuangan yang paling kuat di antara para pesaingnya.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at