TEMPO
Published at
Kata Pengusaha soal Fluktuasi Harga Batu Bara
ASOSIASI Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) menilai fluktuasi harga batu bara pada awal Agustus 2026 merupakan dinamika pasar jangka pendek. Harga saat ini dinilai belum menunjukkan tren pelemahan dalam jangka panjang.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengatakan penurunan harga batu bara acuan (HBA) pada periode I Agustus 2026 perlu dilihat dalam konteks kondisi pasar global. Menurut dia, harga batu bara internasional masih bergerak mengikuti keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
“Penurunan HBA pada periode I Agustus ini kami lihat masih dalam konteks fluktuasi pasar, sehingga belum dapat langsung disimpulkan sebagai tren pelemahan jangka panjang,” kata Gita saat dihubungi, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menurut Gita, permintaan dari negara konsumen utama, seperti Cina dan India, kondisi pasokan global, serta kebijakan energi masing-masing negara menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga. Karena itu, penurunan harga dalam satu periode lebih mencerminkan koreksi pasar terhadap kondisi supply-demand saat ini.
Gita mengatakan perbedaan pergerakan harga berdasarkan jenis batu bara menunjukkan bahwa pasar tidak bergerak secara seragam. Setiap kategori kalori memiliki karakteristik konsumen dan tingkat permintaan yang berbeda. “Permintaan terhadap batu bara pada masing-masing segmen dapat dipengaruhi oleh kebutuhan pembangkit listrik, preferensi pengguna, faktor logistik, hingga ketersediaan pasokan,” ujarnya.
Dalam kondisi tertentu, batu bara berkalori rendah bahkan dapat mengalami kenaikan harga ketika permintaan meningkat atau pasokan di pasar terbatas. Karena itu, menurut Gita, produsen tidak cukup hanya melihat satu indikator harga dalam menentukan strategi bisnis. Pelaku usaha perlu memperhatikan karakteristik pasar masing-masing produk, termasuk biaya produksi dan tingkat keekonomian tambang.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM ) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) periode I Agustus 2026. Harga batu bara berkalori tinggi 6.322 kcal/kg GAR turun, sementara tiga kategori batu bara dengan kalori lebih rendah justru mengalami kenaikan dibandingkan periode II Juli 2026.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Tri Winarno mengatakan penurunan HBA berkalori tinggi periode I Agustus 2026 dipengaruhi oleh turunnya harga penjualan aktual batu bara. “Penurunan tersebut tercermin dalam transaksi penjualan untuk periode pengapalan atau penjualan 8 Juni hingga 7 Juli 2026 yang menjadi dasar perhitungan pembayaran royalti melalui aplikasi ePNBP Minerba,” kata dia melalui keterangan tertulis, Jumat, 7 Agustus 2026.
HBA untuk batu bara dengan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR ditetapkan sebesar US$124,44 per ton. Harga tersebut turun US$7,41 per ton atau sekitar 5,6 persen dibandingkan HBA periode II Juli 2026 yang mencapai US$131,85 per ton.
Sementara itu, HBA I untuk batu bara dengan nilai kalori 5.300 kcal/kg GAR ditetapkan sebesar US$93,27 per ton. Angka tersebut naik US$3,37 per ton atau sekitar 3,75 persen dibandingkan periode II Juli 2026 yang sebesar US$89,90 per ton.
Kenaikan juga terjadi pada HBA II untuk batu bara dengan nilai kalori 4.100 kcal/kg GAR. Harganya ditetapkan sebesar US$65,48 per ton, naik US$2,23 per ton atau sekitar 3,5 persen dari periode sebelumnya yang berada di level US$63,25 per ton.
Adapun HBA III untuk batu bara dengan nilai kalori 3.400 kcal/kg GAR ditetapkan sebesar US$45,27 per tona. Harga tersebut naik tipis US$0,19 per ton atau sekitar 0,4 persen dibandingkan HBA periode II Juli 2026 yang sebesar US$45,08 per ton.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at