Bloomberg Technoz
Published at
Hilirisasi Batu Bara Jadi Bensin, ESDM Ramu Skema Insentifnya
Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan tengah meramu insentif untuk proyek hilirisasi batu bara menjadi bahan bakar minyak (BBM) hingga gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan seiring berlakunya global minimum tax (GMT) yang menetapkan tarif pajak minimum 15% bagi perusahaan multinasional, pemerintah tak lagi bisa memberikan tax holiday atau pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) Badan sebesar 22%.
Kendati begitu, dia menegaskan pemerintah masih memiliki ruang untuk memberikan insentif perpajakan sekitar 7% dari tarif PPh Badan efektif sebesar 22%, sehingga pemerintah juga tetap memiliki ruang peneriman negara dengan tarif PPh efektif setelah insentif sebesar 15%.
"Jadi kalau dari tarif pajak kita sekitar 22% pajak penghasilan, jadi kalau kita sesuaikan dengan global minimum tax, berarti masih bisa kita berikan ini fasilitas ini sekitar 7%, ya kemudian pemerintah masih mendapat 15%," kata Yuliot kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/10/2026).
"Jadi ini dengan insentif ini kan akan menjadi daya tarik, tapi pemerintah memiliki ruang fiskal untuk penerimaan negara," tegas dia.
Lebih lanjut, Yuliot mengungkapkan saat ini Indonesia sedang membangun proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol yang digarap oleh perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Yuliot menjelaskan metanol yang dihasilkan dari proyek tersebut dapat diolah lebih lanjut, baik menjadi bahan baku biodiesel, DME hingga BBM.
"Ini apakah sebagai bahan baku biodiesel atau ini bisa diolah lebih lanjut dengan proses kimia menjadi metanol kan, dimethyl ether atau DME, ataupun itu bisa menjadi bensin juga," ungkap Yuliot.
Dalam kesempatan sebelumnya, Yuliot mengatakan pemerintah terus mendorong program hilirisasi batu bara kalori rendah di dalam negeri.
Salah satunya dengan mengolah batu bara berkualitas rendah menjadi metanol yang siap dimanfaatkan sebagai bahan campuran BBM.
Adapun, kata Yuliot, proyek hilirisasi ini telah memasuki tahap realisasi investasi di beberapa wilayah potensial.
Pemerintah telah memulai peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk proyek pengolahan batu bara menjadi metanol di Kalimantan Timur, serta mendorong proyek serupa di Sumatra Selatan yang memiliki cadangan batu bara melimpah.
"Jadi untuk batu bara, ini tempo hari kan kita sudah mulai kegiatan investasi batu bara menjadi metanol yang di Kalimantan Timur. Ini saya yang melakukan groundbreaking untuk kegiatan itu," ungkap Yuliot saat ditemui awak media usai agenda Hari Pertambangan dan Energi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Dalam pelaksanaannya, Yuliot mengatakan Indonesia akan turut menjalin kerja sama teknologi dengan mitra luar negeri.
Melalui pemanfaatan batu bara kalori rendah menjadi metanol, pemerintah berharap dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tambang sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui penyediaan bahan bakar ramah lingkungan.
"Jadi metanol itu kan bisa digunakan untuk sebagai pencampuran bahan bakar minyak," katanya.
Sebelumnya, Yuliot telah meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Proyek yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC) tersebut ditargetkan menghasilkan 2 juta ton metanol per tahun.
Yuliot menegaskan bahwa pembangunan industri metanol berbasis batu bara kalori rendah menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam domestik.
Proyek tersebut akan mengolah sekitar 7,70—7,78 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg per tahun menjadi metanol berstandar internasional, yaitu International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.
Produksi ditargetkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, mengingat pada 2025, Indonesia masih mengimpor sebesar 1,3 juta ton metanol atau senilai Rp7,1 triliun.
Adapun, Presiden Prabowo Subianto sempat mengungkapkan Indonesia berencana mengembangkan bensin dari batu bara. Prabowo menyatakan langkah tersebut digagas sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menekan impor BBM nasional.
"Profesor dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan nanti kita juga akan bikin bensin dari batu bara," tutur Prabowo dalam sambutannya pada acara Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Published at
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at