KONTAN

Published at

March 30, 2026 at 12:00 AM

Harga Batubara Melonjak, Tapi Pengusaha Dalam Negeri Belum Bisa Pesta-Pora

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga komoditas batubara saat ini tidak serta-merta membuat pengusaha tambang Tanah Air pesta pora. Banyak tantangan yang justru membuat mereka cenderung wait and see dan menjadi momen yang menguji ketahanan bisnis ke depannya.

Secara umum, BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan kenaikan harga komoditas dan saham batubara di Maret 2026 didorong krisis energi global. Seperti gangguan minyak dan LNG dari Timur Tengah yang menyebabkan harga gas melonjak. Kemudian terjadi pengalihan sumber energi dari gas ke batubara karena dinilai lebih murah. Saat ini pasokan berkurang sehingga pasar menjadi makin ketat.

"Implikasi ke pasar saham batubara outperform saat krisis energi, rotasi dana ke sektor energi, dan harga batubara cenderung sensitif naik saat supply-demand ketat," jelasnya dalam analisis singkat yang dipublikasikan Jumat (27/3/2026).

Meski terlihat pasar menyambut positif kenaikan ini, pengusaha tambang batubara justru masih dalam mode wait and see.

Ketua Komite Pertambangan Minerba (Mineral dan Batubara) bidang Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) Dewan Pengurus Nasional (DPN) Apindo, Hendra S. Sinadia memaparkan sebagian besar perusahaan batubara, khususnya yang belum dapat persetujuan RKAB 2026 atau produksinya dipotong secara signifikan, dilanda ketidakpastian untuk kelanjutan operasionalnya.

"Sehingga hal ini yang menjadi concern perusahaan di tengah kondisi harga yang sedang melonjak," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (27/3/2026).

Maka itu pengusaha berharap pemerintah dapat mempertimbangkan pengajuan RKAB sehingga dengan tingkat produksi yang tinggi pemerintah dapat menikmati "windfall' dari kenaikan harga komoditas melalui pembayaran royalti (PNBP).

Kenaikan harga energi seperti minyak juga memberikan tekanan sendiri pada industri. Hendra mengakui kenaikan harga minyak membebani biaya operasional perusahaan karena biaya bahan bakar mencakup sekitar 25%-35% dari biaya operasional perusahaan.

Selain itu ongkos logistik/pengangkutan menjadi lebih mahal sehingga menekan margin perusahaan.

Bagi perusahaan yang kuota produksinya dipotong secara signifikan dalam RKAB 2026, kondisi tersebut akan lebih membebani karena dengan tingkat produksi yang jauh dari rencana yang telah diajukan tentu kegiatan operasional menjadi tidak ekonomis.

Senada, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani menjelaskan kenaikan harga yang terlihat saat ini tidak merata di semua segmen kualitas batubara.

Di pasar internasional, kebutuhan tambahan justru cenderung lebih kuat untuk batubara kalori tinggi, sementara struktur produksi Indonesia masih didominasi kalori menengah dan rendah.

"Sehingga kenaikan harga tidak otomatis dinikmati merata oleh seluruh produsen Indonesia," ujarnya saat dihubungi terpisah.

Secara domestik pelaku usaha masih menghadapi faktor ketidakpastian dari sisi volume produksi. Maka dalam situasi seperti ini respons pelaku usaha cenderung bukan ekspansi agresif, melainkan wait and see sambil melihat kejelasan kebijakan, ruang revisi RKAB, dan kepastian realisasi produksi.

Gita bilang dampak kenaikan harga minyak mentah tentu cukup signifikan, terutama karena kegiatan tambang batubara sangat bergantung pada alat berat, pengangkutan darat, dan rantai logistik yang seluruhnya sensitif terhadap harga energi.

Akibatnya, kenaikan harga batubara tidak otomatis meningkatkan margin. tambahan pendapatan dari harga jual harus dikompensasi dengan kenaikan biaya energi dan operasional, sehingga margin tetap tertekan dan keputusan investasi menjadi lebih selektif.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta secara khusus mencermati saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) bahwa prospek operasional perusahaan di sepanjang 2026 akan cenderung stabil.

"Prospek produksi AADI untuk tahun ini bergantung pada persetujuan RKAB dari Kementerian ESDM yang belum diumumkan secara resmi. Sembari menunggu kejelasan kuota, kami sedikit menurunkan asumsi volume produksi dan penjualan kami menjadi 70 juta ton yang mencerminkan pertumbuhan yang lebih moderat," ujarnya dalam riset (17/3/2026).

Meskipun demikian, BRI Danareksa Sekuritas terus memperkirakan ekspansi volume keseluruhan sebesar 1,9% YoY, didukung oleh kontribusi tambahan dari operasi MIP dan Balangan.

Seiring dengan naiknya harga komoditas batubara, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan asumsi harga jual rata-rata (average selling price) 2026-2028 menjadi US$ 77 /US$ 71/ US$ 65 per ton, sejalan dengan asumsi harga Newcastle yang lebih tinggi sebesar US$ 130/ US$ 120/ US$ 110 per ton, yang mencerminkan skenario ringan (mild scenario) tentang peningkatan permintaan batubara di tengah konflik Timur Tengah.

Adapun kenaikan ASP ini diprediksi lebih kuat akan lebih dari mengimbangi biaya produksi yang lebih tinggi, didorong oleh harga bahan bakar yang tinggi (asumsi Brent: US$ 90 per barrel pada 2026-2027 yang diterjemahkan menjadi biaya tunai (tidak termasuk royalti) sebesar US$ 2,4 miliar / US$ 34,6 per ton.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

March 30, 2026 at 12:00 AM

3/30/26

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

March 30, 2026 at 12:00 AM

3/30/26

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

March 30, 2026 at 12:00 AM

3/30/26

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

March 30, 2026 at 12:00 AM

3/30/26

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

March 30, 2026 at 12:00 AM

3/30/26

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by