KONTAN.CO.ID

Published at

Harga Batubara Masih Tinggi, Laba Kuartal III-2026 PTBA Malah Diprediksi Terpangkas

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga batubara berpeluang bertahan tinggi hingga akhir 2026. Namun, kenaikan harga komoditas ini belum tentu sepenuhnya mendongkrak kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Maklum, meningkatnya porsi penjualan untuk pasar domestik (DMO) berpotensi membatasi kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP).

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta memperkirakan, PTBA membukukan laba bersih Rp 1,73 triliun di kuartal III-2026. Angka ini turun sekitar -6,2% dari kuartal II-2026 (QoQ) sebesar Rp 1,85 triliun. Meski demikian, laba bersih sembilan bulan pertama 2026 diperkirakan mencapai Rp 4,3 triliun, setara 87% dari konsensus analis.

Ryan menilai harga batubara masih berpeluang bertahan tinggi, ditopang gangguan pasokan di Kalimantan dan permintaan dari India. “Kami memperkirakan harga batubara akan tetap tinggi karena kekeringan sungai di Kalimantan diperkirakan berlanjut, disertai permintaan yang kuat dari India,” tulisnya dalam riset, Senin (12/10).

Gangguan transportasi sungai di Kalimantan diperkirakan menghambat distribusi sekitar 4 juta ton batubara per bulan hingga Desember 2026. Di sisi lain, permintaan tambahan dari India berpotensi menopang pasar seaborne, terutama ketika persediaan batubara di negara tersebut menurun.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong sepakat, harga batubara masih berpeluang bertahan tinggi hingga akhir tahun. Faktor pendukungnya, antara lain harga gas yang tinggi membuat batubara tetap kompetitif untuk pembangkit listrik, permintaan listrik Asia meningkat, serta adanya gangguan pasokan.

Namun, keberlanjutan harga tinggi tetap bergantung pada perkembangan pasokan dan permintaan global. “Akhir tahun dikisaran US$ 145 - US$ 155 per ton,” ujarnya dihubungi Rabu (14/10).

Kenaikan ASP Terbatas

Kendati begitu, PTBA dipandang belum tentu menikmati kenaikan harga jual dengan besaran yang sama. Ryan memperkirakan porsi DMO meningkat menjadi 52% dari total penjualan PTBA pada kuartal III-2026, dibandingkan 49% pada kuartal sebelumnya.

“Kenaikan porsi DMO diperkirakan membatasi kenaikan ASP gabungan PTBA menjadi 2% secara kuartalan, lebih rendah dibandingkan kenaikan harga acuan batubara sebesar 3%,” sebutnya.

IPOT memperkirakan harga acuan batubara ICI3 dengan nilai kalori 5.000 GAR rata-rata naik 3% secara kuartalan menjadi US$ 84 per ton pada kuartal III-2026. Sementara itu, harga jual rata-rata gabungan PTBA diproyeksikan hanya meningkat 2%.

Dari sisi volume, penjualan PTBA diperkirakan mencapai 11,2 juta ton pada kuartal III-2026, naik 2,75% QoQ. Produksi diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, yakni 17,18% QoQ menjadi 15 juta ton dari 12,8 juta ton.

Indo Premier memperkirakan pendapatan batubara PTBA meningkat menjadi Rp 12,78 triliun dari Rp 11,92 triliun pada kuartal II-2026. Laba kotor juga diproyeksikan naik menjadi Rp 2,88 triliun dari Rp 2,70 triliun.

Namun, laba bersih diperkirakan turun menjadi Rp 1,73 triliun, antara lain seiring penurunan pendapatan dari entitas asosiasi dan kenaikan beban pajak.

Ryan juga mengingatkan bahwa pergerakan persediaan dalam harga pokok penjualan menjadi faktor yang dapat membuat realisasi kinerja berbeda dari proyeksi.

“Risiko utama yang dapat membuat hasil proyeksi kami lebih tinggi atau lebih rendah adalah pergerakan persediaan dalam harga pokok penjualan,” jelasnya.

Waspadai Normalisasi Pasokan

Ke depan, keberlanjutan harga batubara menjadi salah satu faktor penting bagi prospek PTBA. Namun, gangguan pasokan yang menopang harga saat ini berpotensi mereda ketika kondisi sungai di Kalimantan kembali normal.

“Normalisasi sungai yang diperkirakan terjadi pada kuartal I-2027 akan menjadi risiko penurunan utama bagi harga batubara,” sebut Ryan.

Lukman juga mengingatkan bahwa harga batubara yang tinggi belum tentu bertahan dalam jangka panjang. Normalisasi pasokan, penurunan harga gas, serta melemahnya impor dapat menekan harga.

Pemulihan distribusi batubara dari Kalimantan berpotensi menambah pasokan, meski dampaknya terhadap harga global akan bergantung pada volume pasokan yang kembali normal dan perkembangan permintaan dari negara importir utama.

“Jadi belum tentu cukup untuk mempertahankan harga di level tinggi jika pasokan pulih dan impor China melemah,” tandasnya.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Published at

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by