CNBC INDONESIA

Published at

Harga Batu Bara Turun: Panas Mendidih di Asia Bakal Jadi Penopang?

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara berbalik melemah setelah sempat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan. Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (27/5/2026) ditutup di posisi US$138,2 per ton atau turun 0,86%.

Pelemahan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga batu bara melonjak 2,16% ke posisi US$139,4 per ton.

Meski terkoreksi, harga batu bara masih bertahan di level relatif tinggi. Pasar masih mencermati dua sentimen utama, yakni risiko ketatnya pasokan di China setelah kecelakaan tambang di Shanxi dan kuatnya permintaan dari India akibat lonjakan kebutuhan listrik saat gelombang panas.

Di China, kecelakaan tambang di Shanxi, salah satu pusat produksi batu bara utama Negeri Tirai Bambu, memicu inspeksi keselamatan besar-besaran. Sejumlah tambang menghentikan produksi sementara, sehingga pasar sempat khawatir pasokan batu bara akan semakin terbatas.

Kekhawatiran itu semakin besar karena China juga akan memulai kampanye tahunan keselamatan pertambangan pada awal Juni. Jika inspeksi diperluas, produksi batu bara berpotensi kembali terganggu.

Namun, koreksi harga pada perdagangan Rabu menunjukkan pasar mulai menimbang kemungkinan produksi bisa pulih setelah inspeksi awal selesai. Jika penghentian operasi tidak diperluas secara besar-besaran, tekanan pasokan dapat mereda dan laju kenaikan harga batu bara tertahan.

Di sisi lain, permintaan batu bara masih mendapat penopang dari India. Gelombang panas ekstrem membuat kebutuhan listrik di negara tersebut melonjak signifikan, sehingga pasokan batu bara ke pembangkit listrik menjadi perhatian utama.

Perusahaan tambang batu bara milik negara India, Coal India, sebelumnya meminta anak-anak usahanya meningkatkan pengiriman batu bara ke pembangkit listrik. Langkah ini dilakukan untuk menghindari kekurangan pasokan saat permintaan listrik mencapai rekor tertinggi.

Sejumlah pembangkit listrik di India juga dilaporkan memiliki stok batu bara dalam kondisi kritis, yakni hanya cukup untuk kebutuhan kurang dari satu pekan. Situasi ini membuat permintaan batu bara dari sektor pembangkit masih kuat.

Permintaan listrik puncak India sebelumnya mencapai rekor tertinggi 270,8 gigawatt (GW). Meski India terus menambah kapasitas energi non-fosil, batu bara masih menyumbang lebih dari 70% pembangkit listrik negara tersebut.

Gelombang Panas China Bisa Dongkrak Permintaan Batu Bara

Sentimen permintaan juga datang dari China. Gelombang panas yang melanda wilayah selatan negara tersebut mulai mendorong lonjakan kebutuhan listrik, terutama karena penggunaan pendingin ruangan atau air conditioner (AC) meningkat.

Melansir Sxcoal, gelombang panas di China bagian selatan telah mendorong beban listrik ke rekor tertinggi dan membuat konsumsi batu bara di sejumlah utilitas pesisir meningkat tajam. Wilayah tersebut mulai dilanda panas ekstrem sejak 24 Mei 2026.

China Southern Power Grid mencatat beban listrik menyentuh rekor tertinggi baru pada Senin (25/5/2026) pukul 20.21 waktu setempat. Beban listrik naik 1,83 GW dari rekor sebelumnya, atau meningkat 0,71%.

Kenaikan ini terjadi lebih cepat dari pola biasanya. Dalam periode 2020 hingga 2025, puncak beban listrik tahunan umumnya terjadi pada Juni atau Juli. Namun tahun ini, rekor sudah tercipta pada akhir Mei.

Beban listrik di jaringan Guangxi dan Hainan juga mencetak rekor baru pada malam yang sama. Kondisi ini menunjukkan permintaan listrik di kawasan selatan China meningkat tajam bahkan sebelum musim panas memasuki periode puncaknya.

Bagi pasar, lonjakan beban listrik menjadi sentimen penting. Ketika konsumsi listrik naik, pembangkit perlu membakar lebih banyak batu bara untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil.

Dengan demikian, pelemahan harga batu bara pada perdagangan Rabu belum sepenuhnya menghapus sentimen positif dari sisi permintaan. Pasar masih melihat potensi konsumsi batu bara tetap tinggi, terutama jika gelombang panas di China dan India berlanjut.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by