Investor Daily
Published at
March 2, 2026 at 12:00 AM
Harga Batu Bara Menguat, Stok PLTU RI Kritis dan Produksi China Turun
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara mayoritas menguat pada Kamis (26/2/2026), di tengah kekhawatiran pasokan domestik Indonesia yang menipis serta proyeksi penurunan produksi China mulai 2026.
Harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 turun US$ 0,4 ke level US$ 115,8 per ton. Sedangkan Maret 2026 naik US$ 0,35 menjadi US$ 117,6 per ton. Sementara itu, April 2026 meningkat US$ 0,5 menjadi US$ 119,15 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 stabil di US$ 106,5. Sedangkan, Maret 2026 turun US$ 0,35 menjadi US$ 106,7. Sedangkan pada April 2026 menguat US$ 0,2 menjadi US$ 107,55.
Dikutip dari BigMint, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia menghadapi risiko kekurangan bahan bakar yang kian meningkat. Persediaan di sebagian besar fasilitas hanya cukup untuk operasi kurang dari dua pekan.
Anggota dewan pengawas Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Joseph Pangalila mengatakan, stok batu bara di sebagian besar PLTU di seluruh Indonesia saat ini hanya mencukupi sekitar 10 hari konsumsi.
Berdasarkan standar operasional, PLTU diwajibkan menjaga persediaan batu bara yang cukup untuk setidaknya 25 hari operasi tanpa tambahan pasokan.
“Situasinya sudah sangat kritis. Sebagian besar pembangkit kini memiliki stok batu bara di bawah 10 hari. Hanya sedikit yang memiliki pasokan lebih dari 10 hari. Di sistem Jawa-Bali, hanya dua pembangkit yang masih mempertahankan persediaan hingga 25 hari,” ucapnya.
Ia menambahkan, stok batu bara saat ini masih ditopang alokasi berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun lalu. Jika persetujuan RKAB 2026 tertunda hingga akhir Maret, sebagian pemasok batu bara kemungkinan akan menghentikan pengiriman ke produsen listrik swasta (independent power producers/IPP).
RKAB merupakan rencana kerja tahunan pertambangan yang disetujui pemerintah Indonesia dan menetapkan volume produksi, penjualan domestik, serta ekspor yang diperbolehkan bagi produsen batu bara, menurut Mysteel Global.
Penurunan Produksi RI
Indonesia berencana menurunkan produksi batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton tahun ini dari 790 juta ton pada 2025, dengan tujuan menopang harga batu bara global, sebagaimana dilaporkan Mysteel Global.
Namun, finalisasi kuota RKAB baru hingga kini belum rampung. Sejumlah perusahaan tambang besar kemungkinan dikecualikan dari pemangkasan produksi, dengan syarat meningkatkan alokasi pasokan domestik dari biasanya 25% menjadi sekitar 30% dari total produksi pada semester I-2026.
Sementara itu, produksi batu bara China diproyeksikan mulai menyusut pada 2026, yang akan menjadi kontraksi pertama sejak 2016. Penurunan ini diperkirakan dipicu oleh kelebihan pasokan, pertumbuhan permintaan yang lebih lunak, serta tingginya level persediaan di sepanjang rantai pasok.
Penegakan regulasi yang lebih ketat, termasuk inspeksi rutin dan pembatasan izin ekspansi kapasitas, diprediksi semakin membatasi produksi. Di sisi lain, margin keuntungan yang melemah dan tingkat utilisasi yang rendah di tambang berbiaya tinggi akan mengurangi insentif untuk meningkatkan produksi secara agresif.
Dalam jangka panjang, tren produksi batu bara China diperkirakan terus menurun seiring meningkatnya kontribusi energi terbarukan, khususnya tenaga surya dan angin, dalam bauran pembangkit listrik baru.
Perubahan kebijakan struktural yang mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbasis batu bara, dorongan diversifikasi energi, serta kemajuan teknologi energi bersih akan membebani permintaan batu bara.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at