INVESTOR
Published at
Harga Batu Bara Melonjak Tajam, Gangguan Pasokan China Jadi Pemicu
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara melonjak tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026), didorong kekhawatiran gangguan pasokan dari China setelah ledakan gas mematikan di tambang batu bara Provinsi Shanxi memicu penghentian produksi dan inspeksi keselamatan yang lebih ketat.
Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle kontrak Mei 2026 melonjak US$ 2,5 menjadi US$ 151,25 per ton. Kontrak Juni 2026 melejit US$ 2,85 ke level US$ 150,35 per ton, sedangkan Juli 2026 melesat US$ 2,3 menjadi US$ 149,7 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam kontrak Mei 2026 melesat US$ 2,75 menjadi US$ 136,75 per ton. Kontrak Juni 2026 menguat US$ 2,6 menjadi US$ 131,55 per ton, sedangkan Juli 2026 terkerek US$ 2,4 ke level US$ 130,45 per ton.
Dikutip dari Trading Economics, kenaikan harga batu bara tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan di China setelah ledakan gas mematikan terjadi di sebuah tambang batu bara di wilayah utara negara itu.
Insiden yang terjadi di Provinsi Shanxi, salah satu pusat produksi batu bara terbesar di China, mengungkap praktik ketenagakerjaan ilegal di bawah tanah serta penjualan batu bara yang tidak dilaporkan kepada otoritas.
Kasus tersebut mendorong pemerintah China menghentikan sementara aktivitas produksi di tambang terkait sekaligus memperketat inspeksi keselamatan di berbagai lokasi pertambangan di kawasan tersebut.
Produksi Batu Bara Tertekan
Pelaku pasar menilai, peningkatan pengawasan dan pemeriksaan keselamatan berpotensi menekan produksi batu bara dalam jangka pendek. Kondisi itu dapat mengganggu pasokan energi dan menyulitkan upaya pemerintah China dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Shanxi merupakan salah satu wilayah penghasil batu bara terbesar di China, sehingga setiap gangguan produksi di daerah tersebut berpotensi memengaruhi pasokan batu bara domestik maupun pasar global.
Selain faktor pasokan dari China, pasar energi juga masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Mandeknya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta masih terbatasnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terus memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Ketidakpastian tersebut turut menopang harga berbagai komoditas energi, termasuk batu bara, karena investor mengantisipasi potensi gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.
Dengan kombinasi risiko pasokan dari China dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, harga batu bara diperkirakan tetap bergerak di level tinggi dalam jangka pendek.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at