Investor Daily
Published at
February 23, 2026 at 12:00 AM
Harga Batu Bara Melemah, Tekanan Ekspor dan RKAB Bayangi Prospek
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara mayoritas melemah pada Jumat (20/2/2026). Namun, ketatnya pasokan Indonesia akibat ketidakpastian RKAB justru mendorong kenaikan harga batu bara di pelabuhan India dan menopang prospek jangka pendek.
Harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 naik US$ 0,05 ke level US$ 116,2 per ton. Sedangkan Maret 2026 jatuh US$ 1,1 menjadi US$ 120,45 per ton. Sementara itu, April 2026 ambrol US$ 1,65 menjadi US$ 120,6 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 naik US$ 0,7 menjadi US$ 107,65. Sedangkan, Maret 2026 menguat US$ 0,2 menjadi US$ 113,35. Sedangkan pada April 2026 meningkat US$ 0,5 menjadi US$ 113,3.
Dikutip dari BigMint, Harga batu bara termal asal Indonesia di pelabuhan India meningkat secara mingguan (week-on-week/w-o-w) pada pekan yang berakhir 20 Februari 2026. Tren kenaikan ini terutama didorong oleh ketatnya pasokan di Indonesia di tengah ketidakpastian regulasi terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta permintaan pembelian yang tetap stabil dari konsumen India.
Terbatasnya penawaran baru dari penambang Indonesia dan terbatasnya ketersediaan batu bara dengan nilai GAR menengah hingga tinggi di pelabuhan India semakin memperkuat momentum kenaikan harga.
Harga batu bara termal di berbagai pelabuhan utama India terus mencatat kenaikan sepanjang pekan tersebut, mencerminkan terbatasnya pasokan spot dan permintaan yang tetap kuat. Berdasarkan penilaian terbaru BigMint, harga batu bara 5.000 GAR naik sebesar INR 600 per ton secara mingguan menjadi INR 8.300 per ton di Kandla dan INR 8.200 per ton di Vizag.
Demikian pula, harga batu bara 4.200 GAR naik signifikan sebesar INR 450 per ton secara mingguan menjadi INR 6.450 per ton di Kandla dan INR 6.350 per ton di Vizag. Batu bara dengan kualitas lebih rendah, yakni 3.400 GAR, juga mencatat kenaikan sebesar INR 250 per ton menjadi INR 4.850 per ton di Navlakhi.
Kenaikan yang lebih tajam pada segmen GAR menengah dan tinggi mencerminkan keterbatasan stok serta preferensi permintaan yang lebih kuat terhadap batu bara dengan nilai kalori lebih tinggi, terutama dari konsumen yang bergantung pada proses blending.
Pelaku pasar menyebutkan bahwa terbatasnya pengisian ulang stok dan minimnya penawaran kargo baru dari pemasok Indonesia telah mengurangi likuiditas pasar spot dan mendorong kenaikan harga.
Ketidakpastian yang berlanjut terkait persetujuan RKAB di Indonesia telah menyebabkan produsen bersikap hati-hati dalam produksi dan menahan aktivitas ekspor. Kurangnya kejelasan terkait persetujuan rencana kerja pertambangan mengurangi visibilitas pengiriman jangka pendek, sehingga menghambat arus kargo ke negara importir utama seperti India.
Pasokan Batu Bara
Disiplin pasokan ini, ditambah dengan permintaan yang stabil dari pembeli Asia, memperketat ketersediaan kargo dan menopang harga di pelabuhan India.
Persediaan batu bara di pembangkit listrik tenaga termal India meningkat secara mingguan menjadi 58,8 juta ton per 19 Februari 2026, setara dengan sekitar 19 hari konsumsi. Meskipun secara keseluruhan posisi stok terlihat stabil, ketidakseimbangan pasokan masih terjadi di tingkat pembangkit.
Sekitar 23 pembangkit listrik masih beroperasi dengan tingkat stok kritis, termasuk 13 pembangkit berbasis batu bara domestik, enam pembangkit berbasis batu bara impor, dan empat unit berbasis washery reject.
Distribusi stok yang tidak merata ini diperkirakan akan menjaga aktivitas pembelian dalam jangka pendek, terutama di pembangkit yang mengalami tekanan pasokan bahan bakar. Akibatnya, permintaan batu bara impor di pelabuhan India diperkirakan tetap kuat meskipun stok nasional secara agregat cukup memadai.
Harga acuan mingguan batu bara Indonesia juga mencatat kenaikan moderat secara mingguan. Harga batu bara 5.800 GAR naik sebesar US$1,05 per ton, 4.200 GAR naik US$0,54 per ton, dan 3.400 GAR naik US$0,23 per ton.
Kenaikan yang lebih kuat pada segmen kualitas menengah sejalan dengan ketatnya pasokan dan meningkatnya minat beli dari pasar yang sensitif terhadap harga seperti India. Pergerakan harga acuan ini semakin memperkuat tekanan kenaikan biaya yang tercermin di pelabuhan India.
Harga batu bara termal di pelabuhan India diperkirakan akan tetap kuat dengan kecenderungan naik secara moderat, didukung oleh ketidakpastian pasokan dari Indonesia dan aktivitas restocking selektif oleh produsen listrik.
Namun, peningkatan pasokan domestik atau kejelasan terkait ekspor Indonesia dapat membatasi kenaikan lebih lanjut. Secara keseluruhan, harga diperkirakan bergerak dalam kisaran terbatas dengan bias positif, terutama untuk batu bara dengan nilai GAR menengah hingga tinggi.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at