Investor.id

Published at

Harga Batu Bara Melemah, Impor China Turun dan Stok Melimpah

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026), di tengah sinyal permintaan impor China yang masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Meski pasokan mengetat dan harga batu bara domestik China melonjak, persediaan yang relatif melimpah menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle kontrak Oktober 2026 melemah US$ 0,05 ke level US$ 150,35 per ton. Kontrak November 2026 anjlok US$ 1,35 ke level US$ 151,75 per ton, sedangkan kontrak Desember 2026 jauh US$ 1,05 menjadi US$ 153,3 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Oktober 2026 terkoreksi US$ 0,5 menjadi US$ 145 per ton. Kontrak November 2026 jatuh US$ 1,75 menjadi US$ 147,9 per ton, sementara kontrak Desember 2026 ambles US$ 1,8 menjadi US$ 146,9 per ton.

Mengutip OilPrice, impor batu bara China turun sekitar 6% secara tahunan pada September 2026, berdasarkan data kepabeanan yang dirilis Rabu. Meski demikian, impor seluruh jenis batu bara mencapai 43,37 juta ton, naik 3% dibandingkan Agustus, tetapi masih 5,7% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di tengah penurunan impor tahunan tersebut, harga impor batu bara China justru meningkat. Analis Mysteel Global menyebut harga rata-rata impor batu bara China pada September mencapai level tertinggi sejak 2024.

Harga acuan batu bara termal China juga melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun pada akhir September. Kenaikan itu terjadi ketika produksi domestik menurun dan pasokan dari Indonesia, eksportir utama batu bara, mengalami keterbatasan.

Harga batu bara termal spot China telah naik 24% sejak pertengahan Juli. Kenaikan dipicu oleh ketatnya pasokan dan tingginya permintaan di negara yang masih mengandalkan batu bara untuk hampir 50% pembangkitan listriknya.

Penurunan produksi batu bara China dipengaruhi oleh peningkatan pemeriksaan keselamatan pertambangan setelah bencana tambang mematikan pada Mei lalu di Provinsi Shanxi, salah satu wilayah utama penghasil batu bara.

Sementara itu, ekspor batu bara termal Indonesia terkendala kuota produksi yang dipangkas pemerintah serta ketidakpastian kebijakan di sektor pertambangan dan ekspor. Fenomena El Niño yang kuat juga mengurangi curah hujan dan menurunkan permukaan air sungai, sehingga mengganggu pergerakan tongkang batu bara menuju pelabuhan ekspor.

Menghadapi kenaikan harga dan kebutuhan energi menjelang musim dingin, pemerintah China meminta perusahaan tambang domestik menjaga produksi tetap stabil. Otoritas setempat juga mendorong peningkatan produksi untuk menjaga pasokan listrik.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Published at

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by