INVESTOR
Published at
Harga Batu Bara Kembali Menguat, Minyak Mahal Jadi Katalis
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (11/8/2026), seiring lonjakan harga minyak mentah di tengah ketidakpastian kesepakatan Amerika Serikat (AS)-Iran. Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan insentif penggunaan batu bara sebagai sumber energi alternatif, terutama di negara-negara pengimpor energi di Eropa dan Asia.
Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle kontrak Agustus 2026 naik US$ 0,3 menjadi US$ 129,3 per ton. Kontrak September 2026 stabil di level US$ 134 per ton, sedangkan kontrak Oktober 2026 meningkat US$ 0,1 menjadi US$ 136,3 per ton.
Penguatan juga terjadi pada batu bara Rotterdam. Kontrak Agustus 2026 naik US$ 0,85 menjadi US$ 122,1 per ton. Kontrak September 2026 meningkat US$ 0,7 menjadi US$ 122,2 per ton, sementara kontrak Oktober 2026 naik US$ 0,45 menjadi US$ 123,7 per ton.
Dikutip dari Trading Economics, harga batu bara termal bergerak menuju US$ 130 per ton pada pertengahan Agustus setelah mengurangi sebagian penurunan sebelumnya. Pergerakan tersebut terjadi ketika harga minyak mentah melonjak akibat ketidakpastian terkait kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak meningkatkan daya tarik batu bara sebagai alternatif bahan bakar. Kondisi tersebut terutama berpotensi mendorong perpindahan penggunaan bahan bakar atau fuel switching di negara-negara Eropa dan Asia yang bergantung pada impor energi.
Ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu faktor penting bagi pasar energi global karena jalur tersebut merupakan rute strategis bagi perdagangan minyak.
Jika harga minyak bertahan tinggi, pembangkit listrik dan pengguna energi tertentu dapat memiliki insentif lebih besar untuk menggunakan batu bara, sehingga berpotensi menopang permintaan komoditas tersebut.
China Perkuat Industri Batu Bara
Di sisi lain, China memperkuat kebijakan pengembangan industri batu bara melalui Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC) bersama Administrasi Energi Nasional China (NEA) telah merilis ‘Rencana Lima Tahun ke-15 untuk Pengembangan Industri Batu Bara’.
Rencana tersebut menargetkan proporsi kapasitas produksi dari tambang batu bara besar dan termodernisasi mencapai 87%, sedangkan tambang cerdas atau intelligent mines ditargetkan mencapai 75% pada 2030.
Pemerintah China juga menargetkan cadangan kapasitas produksi tahunan lebih dari 100 juta ton. Pada saat yang sama, Beijing akan mempercepat penutupan tambang yang sudah tidak efisien melalui mekanisme berbasis pasar dan aturan hukum. Pembangunan kapasitas baru juga akan disertai persyaratan penggantian kapasitas yang ketat.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa China tetap mempertahankan peran batu bara dalam sistem energinya, tetapi pada saat yang sama berupaya meningkatkan efisiensi, modernisasi, dan produktivitas industri batu bara.
Bagi pasar global, kombinasi kenaikan harga minyak, potensi fuel switching di negara pengimpor energi, serta kebijakan China menjadi faktor yang akan menentukan arah permintaan dan harga batu bara dalam jangka menengah.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at