KABAR BURSA
Published at
Harga Batu Bara Global Melonjak 27 Persen, Ekspor RI Berpeluang Melesat
KABARBURSA.COM – Lonjakan tajam harga batu bara di pasar internasional menjadi momentum emas bagi kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga batu bara kualitas tinggi melambung hingga 27,06 persen pada Juni 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa pergerakan harga komoditas global sepanjang Juni 2026 bervariasi, namun kelompok energi secara umum mencatatkan tren penguatan yang sangat signifikan.
"Secara tahunan, peningkatan harga komoditas energi mencapai 19,31 persen. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga gas alam dan batu bara di pasar internasional," ujar Ateng saat konferensi pers, pada Senin, 3 Agustus 2026.
Ateng menjelaskan bahwa batu bara kualitas tinggi mengalami lonjakan harga yang paling menonjol pada Juni 2026 dibanding Juni 2025.
Peningkatan signifikan ini membuka peluang besar bagi Indonesia selaku salah satu produsen dan eksportir terbesar batu bara dunia untuk memperkuat pundi-pundi neraca perdagangan.
Sementara itu, untuk batu bara kualitas sedang dan rendah, BPS mencatat pertumbuhan harga yang relatif lebih moderat pada periode yang sama.
"Harga batu bara untuk kualitas tinggi di pasar internasional pada bulan Juni 2026 meningkat sebesar 27,06 persen jika dibandingkan dengan kondisi Juni tahun 2025. Sedangkan untuk kualitas sedang dan rendah meningkat sebesar 2,7 persen," terang Ateng.
Penguatan harga komoditas energi ini sejalan dengan pulihnya aktivitas manufaktur di sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia. Kondisi ini tecermin dari indikator Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang konsisten berada di zona ekspansif (di atas ambang batas 50).
BPS merinci bahwa PMI manufaktur Amerika Serikat pada Juni 2026 berada di level 53,9. Selanjutnya, India mencatatkan posisi kuat di angka 54,5, Jepang berada di level 54,8, serta Tiongkok menyentuh level 51,7.
"PMI manufaktur pada negara mitra dagang utama, terutama Amerika Serikat, India, Jepang, dan Tiongkok, berada di atas 50 atau berada pada zona ekspansi. Ini mengindikasikan permintaan industri global yang tetap terjaga," ungkap Ateng.
Permintaan batu bara diproyeksikan terus mengalir seiring dengan menggeliatnya sektor industri dan pembangkitan energi di negara-negara tujuan ekspor tersebut.
Kenaikan harga batu bara diprediksi memberikan dampak positif terhadap peningkatkan nilai ekspor (value effect) Indonesia. Kondisi ini diyakini bakal menyokong surplus neraca perdagangan nasional sepanjang pertengahan tahun 2026.
Sektor Energi-Komoditas Diproyeksi Melesat di Semester II
PT Bank DBS Indonesia menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini sudah berada di level yang sangat murah dengan Price-to-Earnings Ratio (P/E) di kisaran 9 kali, menembus posisi terendah dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Penurunan ini dinilai membuka ruang apresiasi harga bagi investor institusi untuk kembali masuk, terutama pada emiten berbasis energi dan komoditas.
Indonesia’s Head of Research, DBS Group Research, William Simadiputra, mengungkapkan bahwa indikator Price-to-Earnings Ratio (P/E) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berada pada posisi tertekan di kisaran 9 kali.
Angka tersebut menjadi cerminan bahwa pasar saham domestik telah menyerap berbagai sentimen negatif dari ketidakpastian moneter global dan gejolak geopolitik.
"Valuasi P/E kita sekarang berada di level sekitar 9 kali. Ini merupakan level terendah dalam 10 tahun terakhir, bahkan bisa lebih panjang dari itu. Di tengah kondisi pasar yang bearish dan dipenuhi noises, kita harus kembali fokus terhadap fundamental," ujar William dalam media briefing, Rabu, 29 Juli 2026.
William memaparkan bahwa kecemasan pasar selama semester pertama 2026 dipicu oleh beberapa ancaman makroekonomi, mulai dari suku bunga acuan AS yang berpotensi tinggi lebih lama (higher for longer), lonjakan harga minyak mentah Brent di atas USD90 per barel, hingga ketakutan akan inflasi akibat fenomena El Nino dan penyesuaian harga BBM.
Di sisi internal, pasar ekuitas domestik juga sempat dibayangi oleh isu penurunan ke frontier market oleh MSCI, serta kekhawatiran downgrade status investment grade Indonesia oleh S&P.
Kendati demikian, konfirmasi dari S&P yang tetap mempertahankan outlook stabil Indonesia membuktikan bahwa fondasi ekonomi nasional masih sangat kokoh.
"Pasar sempat brace for impact apakah Indonesia tetap di investment grade. Namun S&P sudah mengonfirmasi outlook kita stabil. Selain itu, arus modal keluar yang sempat mencapai 5 miliar dolar AS selama semester pertama mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi dalam dua hingga tiga minggu terakhir," terangnya.
Melihat tekanan pasar yang mulai melandai dan tergolong jenuh jual (oversold), DBS merekomendasikan strategi investasi barbell strategy guna meredam dampak risiko inflasi global. Skenario ini ditempatkan untuk memanfaatkan momentum siklus belanja modal dunia pada sektor-sektor strategis.
William menggarisbawahi bahwa krisis energi global yang dipicu oleh konflik di Selat Hormuz menyadarkan dunia akan tingginya urgensi ketahanan energi dan pangan. Apalagi, ekspansi fasilitas data center serta kecerdasan buatan (AI) menuntut pasokan energi yang sangat besar.
"Oleh karena itu, kami mengambil posisi overweight untuk sektor energi dan komoditas. Sektor-sektor ini menjadi proxy utama terhadap tematik investasi ketahanan energi dan pangan dunia," tegas William.
William menambahkan bahwa konsumsi energi global selama ini sangat bergantung pada jalur distribusi yang rentan terdisrupsi. Ketika terjadi penyumbatan di jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz, dampaknya langsung menjalar ke seluruh dunia dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut pada akhirnya memicu gelombang investasi baru untuk memperkuat infrastruktur energi di berbagai negara. Emiten-emiten komoditas dan energi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai berada pada posisi yang sangat menguntungkan untuk menangkap arus modal tersebut.
"Saat ini komoditas dan energi baru disadari betapa krusialnya. Di saat dunia terus mengembangkan AI dan data center, energinya ternyata bergantung pada jalur yang sempit. Momentum ini yang membuat kami merekomendasikan portofolio berbasis energi dan komoditas sebagai andalan di semester kedua 2026," pungkas William.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at