Investor Daily
Published at
February 25, 2026 at 12:00 AM
Harga Batu Bara Galau, Tekanan Energi Bersih dan Stok India Bayangi Pasar
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara galau pada Selasas (24/2/2026). di tengah penurunan stok di India serta pergeseran global menuju energi bersih yang menekan prospek permintaan jangka panjang.
Harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 naik US$ 0,5 ke level US$ 117 per ton. Sedangkan Maret 2026 jatuh US$ 1,4 menjadi US$ 118 per ton. Sementara itu, April 2026 anjlok US$ 1,45 menjadi US$ 118,8 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 melemah US$ 0,9 menjadi US$ 106,35. Sedangkan, Maret 2026 ambrol US$ 3,3 menjadi US$ 107,7. Sedangkan pada April 2026 jatuh US$ 3,25 menjadi US$ 107,9.
Dikutip dari BigMint, stok batu bara di India menurun, dipicu oleh penarikan stok besar di Magdalla serta turunnya persediaan di sejumlah pelabuhan utama di pesisir timur. Namun, kenaikan selektif di Gangavaram dan Krishnapatnam mengindikasikan redistribusi kargo, bukan penurunan stok secara merata.
Ke depan, ketidakpastian ekspor terkait kebijakan RKAB Indonesia serta gangguan pasokan dari Afrika Selatan dapat memengaruhi kedatangan kargo baru. Pergerakan stok akan bergantung pada keseimbangan antara pasokan masuk dan kecepatan pengiriman keluar di pelabuhan-pelabuhan utama.
Sementara itu, data kelistrikan India untuk 22 hari pertama Februari 2026 menunjukkan bahwa permintaan listrik negara tersebut masih tumbuh. Total pembangkitan listrik meningkat tipis dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun perubahan terbesar bukan pada total angkanya, melainkan pada sumber energi yang digunakan. Energi terbarukan dan tenaga nuklir tumbuh pesat, sementara penggunaan batu bara sedikit menurun.
Hal serupa juga dicatatkan China yang telah mencapai tonggak bersejarah di sektor energi, setelah kapasitas pembangkitan listrik dari sumber energi bersih untuk pertama kalinya melampaui kapasitas berbasis bahan bakar fosil. Pencapaian ini didorong oleh lonjakan investasi tenaga surya dan angin selama satu dekade terakhir.
Menurut data yang dilacak Global Energy Monitor, sebanyak 52% kapasitas pembangkit listrik operasional China hingga Februari 2026 berasal dari sumber non-fosil, sementara 48% kapasitas terpasang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at