KONTAN
Published at
March 17, 2026 at 12:00 AM
Eskalasi Konflik Terus Meningkat, Harga Batubara Ditaksir bisa Capai US$ 200 per Ton
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga minyak mentah akibat eskalasi konflik Iran versus Israel-Amerika Serikat (AS) turut mengerek harga batubara. Harga "berlian hitam" tersebut naik mendekati level terkuatnya sejak November 2024 seiring kekhawatiran akan gangguan pasokan global yang berkepanjangan.
Merujuk data tradingeconomics.com, harga batubara ditutup di level US$ 137,3 per ton pada perdagangan Jumat (13/3). Posisi harga tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 18,11% dalam sebulan dan 27,72% secara year to date (YtD).
Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures melihat, posisi harga batubara saat ini sudah merespons kenaikan harga minyak mentah dunia. Sejak konflik Iran versus Israel-AS meletus pada 28 Februari 2026, harga minyak mentah WTI telah naik sekitar 47%, sedangkan batubara terkerek 16%.
Kenaikan harga batubara disebabkan adanya efek substitusi energi. Ketika minyak mentah dan gas mahal, pembangkit listrik dan industri cenderung beralih menggunakan batubara yang relatif lebih murah untuk menghasilkan energi.
Hal ini membuat konsumsi batubara meningkat. Selain itu, lonjakan harga minyak mentah juga meningkatkan biaya transportasi dan logistik dalam industri energi, yang turut menjadi faktor pendorong kenaikan harga batubara.
Dus, selama perang belum selesai dan justru terpantau eskalasi perlahan, harga minyak mentah dan batubara diperkirakan akan terus naik.
"Harga minyak berpotensi menanjak hingga US$ 150 per barel dan batubara diperkirakan bisa mencapai US$ 200 per ton," kata Lukman saat dihubungi KONTAN, Minggu (15/3).
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi juga memprediksi harga batubara bisa mendekati US$ 200 per ton jika perang berkepanjangan.
Melansir Al-Jazeera, Minggu (15/3), Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang lagi Pulau Kharg yang berperan penting atas sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran.
Trump juga meminta sekutu AS untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran menegaskan, pihaknya tidak akan mengizinkan pengiriman minyak bagi AS, Israel, dan sekutunya seraya memperingatkan harga minyak berpotensi mencapai US$ 200 per barel.
Lebih lanjut, menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak mentah bakal menguntungkan Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar batubara. Permintaan batubara dari India, Asia Tenggara, dan sebagian negara-negara Eropa berpotensi meningkat karena mereka beralih ke sumber energi yang lebih terjangkau.
Tiga Skenario Batubara
Dalam riset tanggal 5 Maret 2026, Analis BRI Sekuritas Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta membuat analisis skenario kenaikan jumlah permintaan dan harga batubara. Pertama, gangguan singkat dapat meningkatkan permintaan batubara global sebesar 40 juta-55 juta ton (+0,5% dari permintaan global).
Besaran kenaikan permintaan tersebut dapat membawa harga batubara Newcastle naik ke sekitar US$ 130-US$ 150 per ton. Kenaikan harga ini mencerminkan adanya permintaan pengisian kembali yang moderat dari India dan Asia Tenggara di tengah likuiditas spot Indonesia yang sudah tipis.
Kedua, dalam skenario gangguan moderat, di mana pasar LNG mengetat dan substitusi batubara menjadi lebih luas, permintaan batubara dapat meningkat lebih dari 91 juta ton (>1,1% dari permintaan global). Sejalan dengan itu, harga batubara Newcastle dapat bergerak menuju US$ 150-US$ 175 per ton.
Sementara itu, dalam skenario gangguan yang berkepanjangan, permintaan dapat meningkat lebih dari 180 juta ton (>2,1% dari permintaan global).
"Dalam skenario ini, kami yakin harga dapat bergerak jauh lebih tinggi, dengan batubara Newcastle berpotensi mencapai US$ 200-US$ 250 per ton," ungkap kedua analis tersebut.
Stockbit Sekuritas pun berpendapat, kenaikan harga minyak secara historis kerap diikuti oleh kenaikan harga batubara yang merupakan komoditas espor utama Indonesia.
Saham-saham sektor batubara seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dapat menjadi pilihan bagi investor dalam skenario harga minyak yang tinggi secara berkepanjangan.
Namun, Lukman mengingatkan bahwa kenaikan harga batubara tidak cukup mampu menolong perekonomian domestik meski permintaan global atas komoditas andalan Indonesia ini meningkat. Bagaimana pun juga, kenaikan harga minyak yang berkelanjutan bisa memicu krisis ekonomi yang lebih dalam.
"Dampak negatifnya jauh lebih besar. Kenaikan harga energi bisa sangat membebani perekonomian Indonesia," ucap Lukman.
Semakin lama harga minyak bertahan di level tinggi, tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi semakin besar. Hal ini dapat berujung pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), pemangkasan belanja pemerintah, hingga berpotensi menyulut aksi demonstrasi besar-besaran.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at