KONTAN
Published at
Emiten Batubara Ramai-Ramai Diversifikasi Bisnis ke Energi Baru dan Terbarukan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten produsen batubara di Tanah Air gencar melakukan diversifikasi bisnis. Salah satunya ke bisnis energi baru dan terbarukan (EBT).
Terbaru, beredar kabar, PT Indika Energy Tbk (INDY) sedang mempertimbangkan menjual anak usahanya di bidang pertambangan batubara, yaitu PT Kideco Jaya Agung.
Mengutip Bloomberg, Kamis (16/7), nilai valuasi Kideco diperkirakan mencapai lebih dari US$ 1 miliar atau setara Rp 18,1 triliun. Proses pembahasan divestasi disebut sedang berlangsung dan INDY dapat memilih untuk mempertahankan Kideco. Sejauh ini, pihak INDY dan Kideco belum mengomentari isu tersebut.
Berdasarkan catatan Kontan, INDY menjadi salah satu emiten pertambangan batubara yang getol diversifikasi bisnis, terutama ke sektor energi bersih. Salah satunya, melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi yang mencakup sepeda motor listrik merek ALVA.
Di luar energi hijau, INDY gencar mengembangkan Proyek tambang emas Awak Mas yang ditargetkan beroperasi secara komersial pada awal 2027.
Selain INDY, ada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang juga aktif berekspansi ke bisnis EBT. Misalnya, melalui pengembangan tiga proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Cipanas dan Cisolok (Jawa Barat) serta Nage (Nusa Tenggara Timur) dengan total kapasitas 140 megawatt (MW) dan target operasional di 2029.
Tidak mau kalah, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) aktif ekspansi ke EBT lewat pembangunan pembangkit listrik tenaga air dan surya serta mengembangkan hilirisasi mineral. ADRO pun telah melakukan pemisahan bisnis batubara termal yang kini dikelola PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Ada pula PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) yang telah melepas aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pada 2025 dan kini fokus memperkuat segmen energi hijau. Sebelumnya, TOBA telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTMH) di Lampung berkapasitas 6 MW.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai, diversifikasi emiten ke sektor energi hijau bukan semata karena bisnis batubara sudah kehilangan daya tarik. Batubara masih menghasilkan arus kas yang sangat kuat, khususnya bagi produsen berbiaya rendah.
Namun, emiten batubara mulai melihat ketergantungan pada satu komoditas akan meningkatkan risiko bisnis dalam jangka panjang. Penyebabnya, transisi energi global yang mendongkrak investasi di sektor energi rendah karbon, ketatnya regulasi lingkungan dan terbatasnya akses pendanaan sektor energi fosil.
Akses pendanaan global
Prospek permintaan batubara termal juga diprediksi melandai dalam jangka panjang. "Industri ini memasuki fase mature. Jadi, perusahaan mulai memanfaatkan cash flow dari batubara untuk membangun mesin pertumbuhan baru," ujar Nafan, Kamis (16/7).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menganalisa, salah satu faktor pendorong utama aksi diversifikasi emiten batubara ke sektor EBT adalah untuk mendapat kepercayaan dari lembaga-lembaga keuangan internasional.
Namun, upaya diversifikasi tetap dilakukan bertahap. "Aset-aset pertambangan tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi emiten batubara di tengah agenda diversifikasi," beber Nafan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia, Abida Massi Armand menilai, keuntungan utama emiten diversifikasi ke sektor EBT adalah mengurangi risiko regulasi, meningkatkan akses ke investor ESG global, serta meraih pendapatan berulang dari kontrak pembangkit jangka panjang yang jauh lebih stabil dibandingkan batubara yang siklikal.
Tantangannya, progres dari investasi awal EBT menuju kontribusi pendapatan material butuh waktu panjang. Belum lagi, investasi di sektor energi bersih menelan biaya mahal dan sensitif terhadap volatilitas rupiah.
Untuk menjaga kelangsungan usaha di tengah diversifikasi, emiten batubara perlu mempertahankan aset batubara berkualitas tinggi sebagai penghasil arus kas selama transisi berlangsung.
Emiten juga perlu mengalokasikan hasil divestasi maupun laba batubara secara disiplin ke proyek EBT yang memiliki internal rate return (IRR) menarik.
Emiten juga diharapkan aktif mencari sumber pendanaan berbiaya rendah seperti green financing, sustainability-linked loan, maupun strategic partner.
Kiswoyo memperkirakan, emiten-emiten batubara di Indonesia kemungkinan bakal mengurangi porsi pendapatannya dari segmen batubara. Jika tidak ke EBT, emiten tersebut bisa saja mendiversifikasi bisnisnya ke sektor mineral strategis non-batubara.
Dengan sentimen yang ada, Kiswoyo merekomendasi beli INDY, DSSA, dan ADRO. Target harga masing-masing di kisaran Rp 3.600–Rp 4.000, Rp 2.500–Rp 3.000, dan Rp 3.000 per saham.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at