BISNIS INDONESIA

Published at

Ekspor Batu Bara Sumsel Tertekan saat Ekonomi Masih Bergantung pada Tambang

Bisnis.com, PALEMBANG — Penurunan nilai ekspor Sumatra Selatan (Sumsel) sebesar 23,82% sepanjang Januari–April 2026 menjadi sinyal peringatan bagi perekonomian daerah.

Ketergantungan yang masih tinggi terhadap batu bara membuat pelemahan ekspor komoditas tersebut berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi Sumsel.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat nilai ekspor daerah pada April 2026 turun 23,82% dibandingkan bulan sebelumnya. Pelemahan itu terjadi seiring menurunnya kinerja ekspor batu bara yang selama ini menjadi komoditas andalan Sumsel.

Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya Sukanto menilai dampak penurunan ekspor batu bara tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, sektor pertambangan berkontribusi sekitar 23% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumsel, dengan sekitar 13% di antaranya berasal dari batu bara.

"Kalau batu bara turun, dipastikan PDRB kita juga turun. Kemudian pertumbuhan ekonomi relatif akan terhambat," kata Sukanto kepada Bisnis, Kamis (4/6/2026).

Dia menjelaskan, tekanan terhadap ekspor batu bara sebenarnya telah terjadi sebelum pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan produksi.

Permintaan dari 2 pasar utama, yakni China dan India, terus melemah di tengah meningkatnya pasokan dari Australia, Rusia, dan Amerika Serikat yang menawarkan batu bara dengan nilai kalori lebih tinggi. "Permintaan batu bara di negara-negara tujuan ekspor kita seperti China dan India relatif menurun. Di saat yang sama muncul pemain-pemain baru yang menjadi pesaing," ujarnya.

Di sisi lain, kebijakan pembatasan ekspor yang bertujuan menjaga pasokan domestik dan menopang harga dinilai belum memberikan dampak signifikan.

Harga batu bara masih berada di kisaran US$140 per ton, jauh di bawah level puncak pada 2022–2023 yang sempat menyentuh US$400 hingga US$500 per ton.

Menurut Sukanto, kondisi tersebut menempatkan pelaku usaha pada posisi yang tidak mudah. Harga jual masih relatif rendah, sementara pasar domestik belum mampu menyerap produksi dalam volume besar.

Oleh karena itu, dia menilai hilirisasi batu bara perlu dipercepat agar Sumsel tidak terus bergantung pada ekspor komoditas mentah.

"Kalau tren ini berlanjut tentu bisa mengganggu perekonomian Sumsel. Mau tidak mau batu bara harus diolah menjadi produk turunannya, seperti gasifikasi. Ini juga sejalan dengan agenda transisi energi yang sudah masuk dalam rencana pembangunan daerah," pungkasnya.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by